KETIKA BANYAK TULISAN BELUM MAMPU MEMUASKAN SYAHWAT MEMBACAMU, MAKA MENULISLAH DENGAN JALAN FIKIRANMU

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 22 Juni 2013

MENGELOLA PROSES BELAJAR MENGAJAR

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Untuk melaksanakan tugas dalam meningkatkan mutu pendidikan maka diadakan proses belajar mengajar, guru merupakan figur sentral, di tangan gurulah terletak kemungkinan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan belajar mengajar disekolah. Oleh karena itu tugas dan peran guru bukan saja mendidik, mengajar dan melatih tapi juga bagaimana guru dapat mebaca situasi kelas dan kondisi siswanya dalam menerima pelajaran.
Untuk meningkatkan peran guru dalam proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa, maka guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan mampu mengelola kelas. Adapun tujuan yang diniatkan dalam setiap kegiatan belajar mengajar, baik yang sifaatnya instruksional maupun tujuan peniring akan dapat dicapai secara optimal apabila dapat menciptakan dan mempertahankan kondisi yang menguntungka bagi peserta didik. Dalam setiap proses pembelakjaran kondisi inni harus direncanakan dan diusahakan oleh guru secara sengaja agar dapat terhindar dari kondisi yang merugikan. Dan kembali kepada kondisi yang optimal apabila terjadi hal-hal yang merusak yang disebabkan oleh tingkah laku peserta didik didalam kelas.
Usaha guru dala menciptakan kondisi yang diharapkan akan efektif apabila : Pertama, diketahui secara tepat faktor-faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar. kedua, dikenal masalah-masalah yang diperkirakan dan biasanya timbul dan dapat merusak iklim belajar mengajar. Ketiga, dikuasainya berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan digunakan(ahmad rohani.2004:122).
Suatu kondisi belajar optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan dalam mencapai tujuan pengajaran.






B.   Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari latar beakang di atas adalah :
A.    Pengertian pengelolaan proses belajar mengajar
B.     Tujuan pengelolaan proses belajar mengajar
C.     Aspek-aspek yang diperhatikan dalam pengelolaan proses belajar mengajar
D.    Faktor-faktor penentu keberhasilan pengelolaan kelas

C.   Tujuan Penulisan
            Secara umum tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengelolaan proses belajar mengajar  sangat erat kaitannya dengan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Adapun secara khusus makalah ini berusaha mengupas topik-topik yang berkaitan dengan pengeloaan proses belajar-mengajar meliputi pengertian proses belajar mengajar, tujuannya, aspek-aspek yang diperhatikan dalam pengelolaan proses belajar-mengajar dan mengetahui faktor-fakror penentu keberhasilan pengelolaan proses belajar-mengajar.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN PENGELOLAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
Pengelolaan proses belajar mengajar erat kaitannya dengan manajemen pembelajaran, sedangkan manajemen pembelajaran diartikan sebagai proses pendayagunaan seluruh komponen yang saling berinteraksi (sumberdaya pengajaran) untuk mecapai tujuan program pembelajaran (Syafaruddin dan Irwan Nasution.2005:79).
Pengelolaan proses belajar mengajar menurut Ahmad Rohani (2004:123) merupakan semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pembelajaran (menentukan entry behavior peserta didik, menyusun rencana pembelajaran, memberi informasi, bertanya, menilai, dan sebagainya). Sedangkan pengelolaan kelas menunjuk kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian tingkah laku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas,pemberian ganjaran bagi ketetapatan waktu, penyelesaian tugas oleh penetapan norma kelompok yang produktif, dan sebagainya).
Dari dua pengertian diatas maka dapat disimpulkan pengelolaan proses belajar mengajar merupakan aktifitas ataupun upaya untuk memberdayagunakan  komponen-komponen pembelajaran sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang berlangsung didalam kelas.
Selanjutnya untuk memberdayagunakan komponen-komponen pembelajaran tersebut dalam rangka pengelolaan proses pembelajaran secara efektif  maka perlu diupayakan beberapa prosedur yang dapat digunakan untuk memilih sumberdaya dalam program pembelajaran  seperti yang diterangkan (Syafaruddin dan Irwan Nasution.2005:80) :
1.      Pilihlah atas dasar apa yang diperoleh (hal-hal yang disediakan oleh bidang pengajaran dan apa yang mudah didapatkan atau digunakan)
2.      pilihlah atas dasar apa yang akrab dan dipahami betul oleh pengajar dan sangat menyenangkan ( yang disukai dan sering digunakan dalam kesatuan pembelajaran).
3.      Pilihlah atas dasar tujuan pengajaran dimana ada panduan yang dapat diikuti dan menggunakan sumber daya belajar.

B.     TUJUAN PENGELOLAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
Pada hakikatnya proses belajar mengajar menekankan pencapaian tujuan baik berdimensi kognitif, afektif, maupun psikomotor, sehingga pencapaian hasil belajar menjadi terpadu terpadu dari totalitas kepribadian peserta didik (Syafaruddin dan Irwan Nasution.2005:100).
Selanjutnya Syafaruddin dan Irwan Nasution(2005:76) menyebutkan peran guru sebagai manajer melakukan pembelajaran adalah proses mengarahkan anak didik untuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka perubahan tinkah laku (kognitif, afekif, dan psikomotor) menuju kedewasaan.
Sebagai manajer guru berperan penting dalam melakukan pembelajaran, manajer dalam hal ini dapat diartikan sebagai seorang yang melakukan pengelolaan pembelajaran,  dengan tujuan mengarahkan perubahan perilaku anak didik baik kognitif, afektif, maupun psikomotor, ke arah yang lebih baik. Karenanya tujuan pengelolaan proses agar terciptanya proses belajar yang kondusif sehingga mampu membawa perubahan perilaku peserta didik menuju ke arah kedewasaan.
C.    ASPEK-ASPEK YANG DIPERHATIKAN DALAM PENGELOLAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
Dalam mengelola proses belajar mengajar di dalam kelas maka guru perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi tertentu untuk menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. Apabila pengelolaan kelas dapat dilakukan dengan memberi tindakan pengelolaan maka pengelolaan pembelajaran dapat dilakukan dengan tindakan korektif instruksional yang bersifat memperbaiki. Sebagai dasar serta penyiapan kondisi terjadinya proses belajar yang efektif, ada beberapa aspek preventif yang bisa diperhatikan dalam pengelolaan proses belajar mengajar di dalam kelas, seperti yang dikemukakan Ahmad Rohani( 2004 : 127) antara lain sebagai berikut :
1.      Kondisi Dan Situasi Belajar Mengajar
       Lingkungan fisik tempat belajar berpengaruh penting dalam menentukan keberhasilan proses belajar. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal akan mendukung intensitas proses belajar mengajar. Adapun lingkungan fisik yang dimaksud terdiri dari ; ruangan tempat berlangsungya proses belajar mengajar, pengaturan tempat duduk, ventilasi atau pengaturan cahaya, dan pengaturan penyimpanan barang-barang.
2.      Kondisi Sosio-Emosional 
Kondisi sosio-emosional di dalam kelas mempunyai peran yang sangat besar sebagai penentu keberhasilan pembelajaran, kegairahan atau semangat peserta didik merupakan efektivitas tercapainya tujuan pembelajaran. Adapun yang termasuk kondisi sosio-emosional adalah sebagai berikut :
·         Tipe kepemimpinan
·         Sikap guru
·         Suara guru
·         Pembinaan rapport
3.      Kondisi Organisasional
Hubungan yang baik adalah suatu hal yang sangat penting yang mempengaruhi pengelolaan kelas. Dengan hubungan yang baik dengan peserta didik maka diharapkan peserta didik senantiasa gembira, senang serta penuh kegairahan ataupun semangat dalam kegiatan belajar yang dilakukannya.
D.    FAKTOR-FAKTOR PENENTU PENGELOLAAN BELAJAR MENGAJAR
Adapun faktor penentu berhasil tidaknya pengelolaan proses belajar mengajar  menurut Ahmad Rohani (2004:15) antara lain sebagai berikut :
1.      Faktor Guru
Guru bisa menjadi salah satu faktor penghambat dalam melaksanakan penciptaan suasana yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar. Faktor peghambat yang datang dari guru adalah sebagai berikut :
·         Tipe kepemimpinan, guru yang otoriter dan kurang demokratis dalam mengelola proses belajar mengajar akan menumbuhkan sikap pasif atau agresif peserta didik. Kedua sikap peserta didik tersebut akan menjadi sumber dalam pengelolaan proses belajar mengajar.
·         Format belajar mengajar yan monoton, hal ini akan menimbulkan rasa bosan, frustasi, kecewa dari peserta didik yang merupakan sumber pelanggaran disiplin.
·         Kepribadian guru, guru yang berhasil dituntut bersikap hangat, adil, objektif, dan fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar.sikap yang bertentangan dengan kepribadian tersebut akan memunculkan permasalahan dalam proses pengelolaan kelas.
·         Pengetahuan guru, terbatasnya pengetahuan guru tentang masalah pengelolaan dan pendekatan pengelolaan, baik yang sifatnya teoritis, mapun pengalaman praktis.
·         Pemahaman guru tentang peserta didik, terbatasnya pemahaman guru dalam memahami peserta dapat menjadi penyebab sulitnya melakukan pengelolaan kelas.
2.      Faktor Peserta Didik
Kurangnya kesadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota suatu kelas atau suatu sekolah merupakan faktor utama penyebab masalah pengelolaan kelas. Seperti kedisiplinan dan sebagainya.
3.      Faktor Keluarga
Kebiasaan kurang baik di lingkungan keluarga, seperti penanaman kedisiplinan yang kurang, terlampau terkekang, atau pun terlampau bebas serta didik akan menjadi latar belakang peserta didik melanggar kedisiplinan maupun  tata tertib sekolah.
4.      Faktor Fasilitas
Kekurangan fasilitas dapat menjadi penghambat pengelolaan proses belajar mengajar, masalah fasilitas ini meliputi jumlah peserta didik, besar ruangan kelas, dan ketersediaan alat.
  

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Pengelolaan proses belajar mengajar erat kaitannya dengan manajemen pembelajaran, sedangkan manajemen pembelajaran diartikan sebagai proses pendayagunaan seluruh komponen yang saling berinteraksi (sumberdaya pengajaran) untuk mecapai tujuan program pembelajaran (Syafaruddin dan Irwan Nasution.2005:79).
Sebagai manajer guru berperan penting dalam melakukan pembelajaran, manajer dalam hal ini dapat diartikan sebagai seorang yang melakukan pengelolaan pembelajaran,  dengan tujuan mengarahkan perubahan perilaku anak didik baik kognitif, afektif, maupun psikomotor, ke arah yang lebih baik. Karenanya tujuan pengelolaan proses agar terciptanya proses belajar yang kondusif sehingga mampu membawa perubahan perilaku peserta didik menuju ke arah kedewasaan.
Aspek-Aspek yang Diperhatikan dalam Pengelolaan Proses Belajar Mengajar, kondisi dan situasi belajar mengajar, kondisi sosio-emosional , kondisi organisasional. Faktor-faktor penentu pengelolaan kelas, faktor guru, faktor peserta didik, faktor keluarga, dan faktor fasilitas.
B.     SARAN
Pengelolaan dalam proses belajar mengajar merupakan aspek terpenting, terutama dalam meningkatkan suasana yang menguntungkan dalam prose belajar mengajar. Namun hal ini akan terkendala apabila komponen-komponen yang terlibat didalamnya tidak dapat mendayagunakan potensi dan kerjasama dalam menciptakan suasana yang kondusif tersebut. Karenanya dalam pengelolaan proses belajar mengajar guru perlu terlebih dahulu memperhatikan aspek-aspek yang dapat mendukung proses tersebut, melalui kerjasama dengan berbagai komponen pembelajaran.







Rabu, 05 Juni 2013

SEJARAH GEOGRAFI MUSLIM




Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah Al-Ma’mun yang berkuasa dari tahun 813 hingga 833 M memerintahkan para geografer Muslim untuk mengukur kembali jarak bumi. Islam mendorong umatnya untuk membuka pikiran dan cakrawala. Allah SWT berfirman:
“Sungguh telah berlaku sunnah Allah (hukum Allah) maka berjalanlah kamu di muka bumi dan lihatlah bagaimana akibat (perbuatan) orang-orang mendustakan ayat-ayat-Nya”. (QS. Al-Imran: 137).
Perintah ini telah membuat umat Islam di abad-abad pertama berupaya untuk melakukan ekspansi serta ekspedisi. Selain dilandasi faktor ideologi dan politik, ekspansi Islam yang berlangsung begitu cepat itu juga didorong insentif perdagangan yang menguntungkan. Tak pelak umat Islam pun mulai mengarungi lautan dan menjelajah daratan untuk menyebarkan agama Allah. Seiring meluasnya ekspansi dan ekspedisi rute-rute perjalanan melalui darat dan laut pun mulai bertambah. Tak heran, jika sejak abad ke-8 M, kawasan Mediterania telah menjadi jalur utama Muslim. Jalur-jalur laut dan darat yang sangat sering digunakan akhirnya menghubungkan seluruh wilayah Muslim yang berkembang mencapai India, Asia Tenggara, dan Cina meluas ke utara dari Sungai Volga hingga Skandinavia dan menjangkau jauh ke pedalaman Afrika.
Ekspansi dan ekspedisi di abad-abad itu mendorong para sarjana dan penjelajah Muslim untuk mengembangkan geografi atau ilmu bumi. Di era kekhalifahan, geografi mulai berkembang dengan pesat. Perkembangan geografi yang ditandai dengan ditemukannya peta dunia serta jalur-jalur perjalanan di dunia Muslim itu ditopang sejumlah faktor pendukung.
Era keemasan Islam, perkembangan astronomi Islam, penerjemahan naskahnaskah kuno ke dalam bahasa Arab serta meningkatnya ekspansi perdagangan dan kewajiban menunaikan ibadah haji merupakan sejumlah faktor yang mendukung berkembangnya geografi di dunia Islam. Tak pelak, Islam banyak memberi kontribusi bagi pengembangan geografi.
Umat Islam memang bukan yang pertama mengembangkan dan menguasai geografi. Ilmu bumi pertama kali dikenal bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama dikenal secara aktif menjelajahi geografi. Beberapa tokoh Yunani yang berjasa mengeksplorasi geografi sebagai ilmu dan filosofi antara lain; Thales dari Miletus, Herodotus, Eratosthenes, Hipparchus, Aristotle, Dicaearchus dari Messana, Strabo, dan Ptolemy.
Selain itu, bangsa Romawi juga turut memberi sumbangan pada pemetaan karena mereka banyak menjelajahi negeri dan menambahkan teknik baru. Salah satu tekniknya adalah periplus, deskripsi pada pelabuhan, dan daratan sepanjang garis pantai yang bisa dilihat pelaut di lepas pantai.
Selepas Romawi jatuh, Barat dicengkeram dalam era kegelapan. Perkembangan ilmu pengetahuan justru mulai berkembang pesat di Timur Tengah. Geografi mulai berkembang pesat pada era Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Ketika itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al- Mamun berkuasa, mereka mendorong para sarjana Muslim untuk menerjemahkan naskah-naskah kuno dari Yunani ke dalam bahasa Arab.
Ketertarikan umat Muslim terhadap geografi diawali dengan kegandrungan atas astronomi. Perkembangan di bidang astronomi itu perlahan tapi pasti mulai membawa para sarjana untuk menggeluti ilmu bumi. Umat Islam mulai tertarik mempelajari peta yang dibuat bangsa Yunani dan Romawi. Beberapa naskah penting dari Yunani yang diterjemahkan antara lain; Alemagest dan Geographia.
Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah Al- Ma’mun yang berkuasa dari tahun 813 hingga 833 M memerintahkan para geografer Muslim untuk mengukur kembali jarak bumi. Sejak saat itu muncullah istilah mil untuk mengukur jarak. Sedangkan orang Yunani menggunakan istilah stadion.
Upaya dan kerja keras para geografer Muslim itu berbuah manis. Umat Islam pun mampu menghitung volume dan keliling bumi. Berbekal keberhasilan itu, Khalifah Al-Mamun memerintahkan para geografer Muslim untuk menciptakan peta bumi yang besar. Adalah Musa Al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya mampu membuat peta globe pertama pada tahun 830 M.
Khawarizmi juga berhasil menulis kitab geografi yang berjudul Surah Al- Ard (Morfologi Bumi) sebuah koreksi terhadap karya Ptolemaeus. Kitab itu menjadi landasan ilmiah bagi geografi Muslim tradisional. Pada abad yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah buku bertajuk ‘Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni’.
Sejak saat itu, geografi pun berkembang pesat. Sejumlah geografer Muslim berhasil melakukan terobosan dan penemuan penting. Di awal abad ke-10 M, secara khusus, Abu Zayd Al-Balkhi yang berasal dari Balkh mendirikan sekolah di kota Baghdad yang secara khusus mengkaji dan membuat peta bumi.
Di abad ke-11 M, seorang geografer termasyhur dari Spanyol, Abu Ubaid Al- Bakri berhasil menulis kitab di bidang geografi, yakni Mu’jam Al-Ista’jam (Eksiklopedi Geografi) dan Al-Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan). Buku pertama berisi nama-nama tempat di Jazirah Arab. Sedangkan yang kedua berisi pemetaan geografis dunia Arab zaman dahulu.
Pada abad ke-12, geografer Muslim, Al-Idrisi berhasil membuat peta dunia. Al-Idrisi yang lahir pada tahun 1100 di Ceuta Spanyol itu juga menulis kitab geografi berjudul Kitab Nazhah Al- Muslak fi Ikhtira Al-Falak (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini begitu berpengaruh sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Geographia Nubiensis.
Seabad kemudian, dua geografer Muslim yakni, Qutubuddin Asy-Syirazi (1236 M – 1311 M) dan Yaqut Ar-Rumi (1179 M -1229 M) berhasil melakukan terobosan baru. Qutubuddin mampu membuat peta Laut Putih/Laut Tengah yang dihadiahkan kepada Raja Persia. Sedangkan, Yaqut berhasil menulis enam jilid ensiklopedi bertajuk Mu’jam Al-Buldan (Ensiklopedi Negeri-negeri).
Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Battuta di abad ke-14 M memberi sumbangan dalam menemukan rute perjalanan baru. Hampir selama 30 tahun, Ibnu Battuta menjelajahi daratan dan mengarungi lautan untuk berkeliling dunia. Penjelajah Muslim lainnya yang mampu mengubah rute perjalanan laut adalah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Dia melakukan ekspedisi sebanyak tujuh kali mulai dari tahun 1405 hingga 1433 M.
Kontribusi Geografer Muslim
Sederet geografer Muslim telah banyak memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu bumi. Al-Kindi diakui begitu berjasa sebagai geografer pertama yang memperkenalkan percobaan ke dalam ilmu bumi. Sedangkan, Al-Biruni didapuk sebagai ‘bapak geodesi’ yang banyak memberi kontribusi terhadap geografi dan juga geologi.
John J O’Connor dan Edmund F Robertson menuliskan pengakuannya terhadap kontribusi Al-Biruni dalam MacTutor History of Mathematics. Menurut mereka, ‘’Al-Biruni telah menyumbangkan kontribusi penting bagi pengembangan geografi dan geodesi. Dialah yang memperkenalkan teknik pengukuran bumi dan jaraknya dengan menggunakan triangulation.’’
Al-Biruni-lah yang menemukan radius bumi mencapai 6.339,6 km. Hingga abad ke-16 M, Barat belum mampu mengukur radius bumi seperti yang dilakukan Al-Biruni. Bapak sejarah sains, George Sarton, juga mengakui kontribusi sarjana Muslim dalam pengembangan geografi dan geologi. ‘’Kita menemukan dalam tulisannya metedo penelitian kimia, sebuah teori tentang pembentukan besi.’’
Salah satu kekhasan yang dikembangkan geografer Muslim adalah munculnya bio-geografi. Hal itu didorong oleh banyaknya orang Arab di era kekhalifahan yang tertarik untuk mendistribusi dan mengklasifikasi tanaman, binatang, dan evolusi kehidupan. Para sarjana Muslim mencoba menganalisis beragam jenis tanaman.
Geografer Muslim di Era Keemasan:
1.      Hisyam Al-Kalbi (abad ke-8 M)
Dia adalah ahli ilmu bumi pertama dalam sejarah Islam. Hisyam begitu populer dengan studinya yang mendalam mengenai kawasan Arab.
2.      Musa Al-Khawarizmi (780 M – 850 M)
Ahli matematika yang juga geografer itu merevisi pandangan Ptolemaues mengenai geografi. Bersama-sama 70 puluh geografer, Al-Khawarizmi membuat peta globe pertama pada tahun 830 M.
3.      Al-Ya’qubi (wafat 897 M)
Dia menulis buku geografi bertajuk ‘Negeri-negeri’ yang begitu populer dengan studi topografisnya.
4.      Ibn Khordadbeh (820 M – 912 M)
Dia adalah murid Al-Kindi yang mempelajari jalan-jalan di berbagai provinsi secara cermat dan menuangkannya ke dalam buku Al- Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan).
5.      Al-Dinawari (828 M – 898 M)
Geografer Muslim yang juga banyak memberi kontribusi pada perkembangan ilmu geografi.
6.      Hamdani (893 M – 945 M)
Geografer Muslim abad ke-9 M yang mendedikasikan dirinya untuk mengembangkan geografi.
7.      Ali al-Masudi (896 M – 956 M)
Nama lengkapnya Abul hasan Ali Al-Ma’sudi. Ia mempelajari faktorfaktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pembentukan batubatuan di bumi dengan orisinalitas yang mencengangkan.
8.      Ahmad ibn Fadlan (abad ke-10 M)
Dia adalah geografer yang menulis ensiklopedia dan kisah perjalanan ke daerah Volga dan Kaspia.
9.      Ahmad ibn Rustah (abad ke-10 M)
Ibnu Rustah merupakan geografer yang menulis ensiklopedia besar mengenai geografi. Al Balkhi Memberikan sumbangan cukup besar dalam pemetaan dunia. Al Kindi Selain terkenal sebagai ahli oseanografi, dia juga seorang ilmuwan multitalenta. Sebagai ahli fisika, optik, metalurgi, bahkan filosofi.
10.  Al Istakhar II dan Ibnu Hawqal (abad ke-10 M) Memberikan kontribusi besar dalam pemetaan dunia.
11.  Al-Idrisi (1099 M) Ahli geografi kesohor pada zamannya, yang juga dikenal sebagai ahli zoologi.
12.  Al Baghdadi (1162 M) Seorang geografer Muslim terkemuka.
13.  Abdul-Leteef Mawaffaq (1162 M) Selain pakar geografi, dia juga merupakan ahli pengobatan.

Sumber dari: [http://www.gaulislam.com/menggenggam-dunia-dengan-geografi]

Jumat, 31 Mei 2013

KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN


1.      Pendahuluan
A.    Pelajaran mikro dalam pembentukan ketrampilan mengajar. pelajaran mikro bertolak pada asumsi bahwa ketrampilan mengajar yang kompleks dapat dipereteli menjadi unsur-unsur keterangan yang lebih kecil, masing-masing dapat di latih secara efektif dan efisien.

Pengertian Mengajar

1.      Proses menyampaikan atau penerusan pengetahuan
2.      Perbuatan yang kompleks yaitu pengetahuan secara intraktif sejumlah keteragan untuk menyampaikan pesan.

B.     Kemungkinan penggunaan dalam kelas apabila dilakukan dengan baik maka akan memberi pengaruh pada :

1. Tujuan
Ø  Tumbuhnya perhatian motivasi siswa untuk menghadapi tugas yang akan dikerjakan
Ø  Mengetahui batas tugas yang dikerjakan
Ø  Mempunyai gambaran jelas terhadap tugas
Ø  Mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman
Ø  Dapat menghubungkan konsep, fakta, ketrampilan, yang cukup dalam setiap pristiwa.
Ø  Siswa mengetahui tingkat keberhasilan dalam pelajaran

2.Prinsip Penggunaan
Ø  Bermakna dalam menarik perhatian/motivasi hendaknya memilih yang relevan dengan isi atau tujuan pelajaran cara atau usaha yang dibuat-buat di hindari
Ø  Berurutan dan berkesinambungan
Dalam menerangkan pokok materi hendaknya satu kesatuan, diusahakan suatu susunan yang tepat dan berhubungan dengan minat siswa, atau ada kaitan dengan pengalaman siswa.
KOMPONEN-KOMPONEN KETRAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN (MEMBUKA PELAJARAN)

Awal pelajaran atau awal  setiap penggal kegiatan dalam inti pelajaran guru harus melakukan kegiatan membuka pelajaran. Komnponen ketrampilan itu adalah menarik perhatian, menimbulkan motivasi dan materi acuan.

Komponen dan aspek itu meliputi :
1. Menarik Perhatian Siswa
Cara yang dapat dipergunakan :
a.  Gaya Mengajar Guru
Perhatian dapat timbul dari apresiasi gaya mengajar guru seperti posisi, atau kegiatan yang berbeda dari biasanya.
b.  Penggunaan Alat Bantu Mengajar
Seperti : gambar, model, skema, disamping menarik perhatian memungkinkan  terjadinya kaiatan antara hal yang telah diketahui dengan hal yang dipelajari.
c.  Pola Interaksi Yang Bervariasi.
 Seperti guru-siswa, siswa-siswa, siswa-guru.

2.Menimbulkan Motivasi
Cara untuk menimbulkan motivasi
a.  Dengan Hangat dan Antusias
Hendaknya ramah, antusias, bersahabat dan sebagainya. Sebab dapat mendorong tingkah dan kesenangan dalam mengerjakan tugas sehingga motivasi siswa akan timbul.
b. Menimbulkan Rasa Ingin Tahu
Melontarkan ide yang bertentangan dengan mengerjakan masalah atau kondisi diri kenyataan sehari-hari
Contoh : Kalau transmigrasi dapat meningkatkan kemakmuran penduduk mengapa  
                       banyak penduduk di pulau jawa tidak mau transmigrasi.


c.  Dengan Memperhatikan Minat Siswa.
Menyesuaikan topik pelajaran dengan minat siswa karena motivasi dan minat berpengaruh pada jenis kelamin, umur, sosial ekonomi dan sebagainya.

3.Memberi Acuan (Structuring)
Yaitu usaha untuk mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkai alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas hal-hal yang harus dipelajari.
Untuk itu cara yang dilakukan adalah :
a.  Mengemukakan tujuan dan batas tugas hendaknya guru mengemukakan tujuan pelajaran terlebih dahulu batas tugas yang dikerjakan siswa.
Contoh : Guru : hari ini kita belajar mengarang cerita perhatikan tiga buah gambar berikut lalu berdasarkan gambar itu tulis suatu cerita yang panjangnya lebih kurang 100 kata

b. Menyarankan Langkah-Langkah Yang Dilakukan
Tujuannya adalah agar dalam pelajaran siswa akan terarah usahanya dalam mempelajari materi dan tugas jika guru memberi saran dan langkah-langkah kegiatan yang dilakukan misalnya :
Guru : tugas kalian adalah membuktikan pada temperature berapa derajat celcius air mendidih langkah yang harus kalian kerjakan adalah :
Ø  Mengukur temperature yang belum dipanasi
Ø  Lalu nyalakan lampu spirtus ini dan panaskan air dalam gelas ini
Ø  Jika air sudah mendidih catatlah berapa suhunya sesuai dengan yang kelihatan pada temperatur.

c.  Mengingatkan Masalah Pokok Yang Dibahas
    Misalnya : Dengan mengingatkan siswa untuk menemukan hal-hal yang positif dari   sifat suatu konsep, tanda, media, hewan dan lain-lain.
   Selain itu tunjukan juga hal negatif yang hilang atau kurang lengkap.
Contoh : Periksalah bahan-bahan ini dan tentukan mengapa beberapa batu dapat digolongkan dalam jenis batu yang mengandung biji besi dan yang lain tidak.
d.       Mengajukan pertanyaan
Pertanyaan diajukan sebelum memulai penjelasan akan mengarahkan siswa dalam mengantisipasi isi pelajaran yang akan dipelajari.
Contoh : Sebelum memutar film tentang siklus kehidupan nyamuk guru mengajukan pertanyaan untuk membantu siswa memahami siklus nyamuk yang digambarkan oleh film tersebut.

4. Membuat Kaitan
Jika guru mengerjakan materi baru perlu menghubungkan dengan hal yang telah dibuat ssiswa atau pengalaman atau minat dan kebutuhanya untuk mempermudah pemahaman hal-hal yang telah dikenal, pengalaman, minat dan kebutuhan inilah yang disebut dengan pengait.
Contoh : Usaha guru untuk membuat kaitan.
a.       Permulaan pelajaran guru meninjau kembali sejauh mana materi sebelumnya telah dipahami dengan mengajukan pertanyaan atau merupakan inti materi pelajaran terdahulu secara singkat.
b.      Cara membandingkan atau mempertentangkan dengan pengetahuan baru, hal ini dilakukan jika pengetahuan baru erat kaitanya dengan pengetahuan lama.
Contoh : Guru bertanya untuk mengetahui pemahaman siswa tentang pengurangan  sebelum mengerjakan pembagian.
c.       Cara menjelaskan konsepnya atau pengertian lebih dahulu sebelum mengerjakan bahan secara terperinci.

Menutup Pelajaran
Menjelang akhir pelajaran atau ahir setiap penggal kegiatan guru harus melakukan penutupan pelajaran agar siswa memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok materi.

Cara yang dapat dilakukan adalah :
1. Meninjau Kembali
Akhir kegiatan guru harus meninjau kembali apakah inti pelajaran yang diajarkan sudah dipahami oleh siswa, kegiatan ini meliputi

Ø  Merangkum inti pelajaran (berlangsung selama proses PBM).
Ø  Membuat ringkasan (dimaksudkan dengan adanya ringkasan siswa yang tidak memiliki buku atau yang terlambat bisa mempelajarinya kembali).

2. Mengevaluasi
Salah satu upaya untuk mengetahui apakah siswa sudah mendapatkan pemahaman yang utuh terhadap konsep yang dijelaskan adalah dengan evaluasi.

Bentuk-Bentuk Evaluasi Itu Meliputi
a.       Mendemonstrasikan ketrampilan
Contoh : Setelah selesai mengarang puisi guru dapat meminta siswa untuk membacakan di depan kelas.
b.      Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain
Contoh : Guru merupakan persamaan kuadrat siswa disuruh menyelesaikan soal persamaan.
c.        Mengekpresikan pendapat siswa sendiri
Guru dapat meminta komentar tentang keefektifan suatu demontrasi yang dilakukan guru atau siswa lain.
d.      Soal-soal tertulis
Ø  Uraian
Ø  Tes objektif
Ø  Melengkapi lembar kerja



Sumber : Widyo.staff.gunadarma.ac.id