KETIKA BANYAK TULISAN BELUM MAMPU MEMUASKAN SYAHWAT MEMBACAMU, MAKA MENULISLAH DENGAN JALAN FIKIRANMU

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 21 Maret 2014

PUISI: SEPERTIGA MALAM

Sepertiga Malam Masihkan terlalu dini mengucap pagi? Saat banyak mata sudah terpejam Pun terlalu ramai yang masih terjaga Ayam tertidur dengan caranya yang kadang kala terbangun dan tidur kembali Sementara musang menjadi pejuang dalam momennya sendiri; mencari mangsa, mengisi perut, berpetualang menikmati alam Alam yang oleh kita sudah malam Gelap mencabik pekat Hitam dibawah bayang remang lampion Tuhan; bulan Adakah penikmat sepertiga malam? Merajut romantisme dengan sang maha Dalam kusyuknya sembah sujud sang hamba Mengadu, mengiba, bermunajat dalam rima doa-doa cinta Larut dalam syahdunya ibadah Bermuhasabah atas segala khilaf dan dosa Tahajud, momen manis merangkai kasih dengan-Nya Lalu sebahagian lainnya sibuk bermimpi buruk Merajam tidur, dibuai setan Sampai...

PUISI: KEPADA ALAM

ALAM KINI Duhai alam pemilik tubuh nan eksotik Di dadamu kami bergemuruh Meraung mengiba panas terik matamu; matahari Yang mencabik, menikam, melepuhkan kulit-kulit lembut anak adam Padamu alam nan romantis Pagi kau sapa kami dengan kesejukan Siang kau rajam kami dengan terik tak berperi Sampai malam yang sejatinya dingin sebagai peristirahatanpun Jua belum tentu menyejukkan Tuhan? Bukan salahmu Salah kami manusia yang tak tau bagaimana mensyukuri Di alam-Mu kami bertari, berdendang, bergoyan dosa-dosa Hutan-hutan tergunduli, gunung-gunung terkeruk, lautan tertambalkan Hanya sebab entah Bisikan setan, kepentigan sesaat Katanya pembangunan kesejahteraan Padahal modus kepentigan Tak lebih dari buih kemunafikan Bahwa kami (manusia) sedang mendewa-dewikan 'proyek' Apa...

PUISI-PUISI

SENDIRI Dan kegirangan beringsut dengan sendirinya Menerawang arahnya sendiri Beranjak pergi bersama matahari yang lelah menatap hari Disini, aku sendiri Mengaduk emosi Diam dalam kebisuan yang tak bertepi Sampai kini Hati ini masih setia pada pilihannya; Sendiri Sebab aku menyadari Bidadari hanya dongeng dan tak mampu datang Untuk mengaminkan kenyataan SENJA Bila senja menyapa Matahari manyun malu-malu terkulum cakrawala Di bibir pantai alam menyulam romantismenya Cerah berubah remang Kesepian mengundang 1001 tanda tanya Bila senja menyapa Birunya langit berganti jingga Burung-burung terbang sejajar Menghitung awan yang mulai tak tampak Bila senja menyapa Sebuah perpisahan akan hari dan undangan untuk sang gelap; malam Bila senja menyapa Alam bisu dalam kedamaian Sunyi...

DAN HUJAN TURUN LAGI

Ku titip seuntai rindu syahdu kepada sesosok pelukis hidup yang pernah hadir mewarnai hari-hariku tempo dulu. Aku dan dia, tak ubahnya bumi dan langit yang disatukan oleh rinai hujan. Hujan kasih sayang, cinta, suka, duka bahkan jua lara. Tak sampai disitu, hujan galau sekalipun adalah suatu keniscayaan yang lapang teratapi. Betapa hati dua insan selalu mendamba kedamaian, layaknya tanah tandus tersiram air hujan, melegakan, sejuk, menohok qalbu, sampai terisak menggigil mencabik tulang-belulang. Apa kabarmu duhai pemilik hati yang lain, yang pernah sempat singgah merajut kasih.. Kita sudah terlalu lama tak bertemu lagi, pasca keputusan bersama untuk memilih jalan masing-masing. Entah dimana engkau, yang ku tau; ia telah menemukan perahu baru. Sedang mengayuh rasa yang dipapah dan dijaga...