KETIKA BANYAK TULISAN BELUM MAMPU MEMUASKAN SYAHWAT MEMBACAMU, MAKA MENULISLAH DENGAN JALAN FIKIRANMU

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 04 Desember 2012

Laporan Klimatologi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang awam akan arti pentingnya sebuah lingkungan, maka di dalam pandangannya, lingkungan hanyalah objek sederhana yang sekedar terkait dengan tumbuhan dan hewan. Padahal sesungguhnya, ruang lingkup lingkungan sangatlah jauh lebih luas daripada hal tersebut, yaitu menyangkut entitas menyeluruh dimana semua makhluk hidup berada. Dalam konteks pembangunan negara dan pemberdayaan masyarakat, segala aktivitas dan kegiatannya tidak dapat mengenyampingkan eksistensi lingkungan pada titik dan batas tertentu.
Fenomena telah terjadinya perubahan iklim (climate change) sepertinya tidak dapat lagi dipertentangkan. Berbagai penelitian ilmiah menggambarkan bahwa karbondioksida (CO2) dilapisan atmosfir yang merupakan konsekuensi hasil sisa pembakaran dari batu bara, kayu hutan, minyak, dan gas, telah meningkat hampir mendekati angka 20% sejak dimulainya revolusi industri. Kawasan perindustrian yang dibangun hampir di seluruh daratan benua dunia telah menghasilkan limbah “Gas Rumah Kaca” (GRK), seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrousoksida (N2O), yang dapat menyebabkan terjadinya “efek selimut”. Efek inilah yang kemudian mangakibatkan naiknya suhu di permukaan bumi. Sebagai bahan perbandingan, konsentrasi GRK pada masa pra-industri di abad ke-19 baru sebesar 290 ppmv (CO2),700 ppbv (CH2), dan 275 ppbv (N2O). Sedangkan pada saat ini, peningkatannya menjadi sebesar 360 ppmv (CO2), 1.745 ppbv (CH4), dan 311 ppbv (N2O). Dengan demikian, menurut para ahli, GRK untuk CO_ pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai kisaran 550 ppmv.
Menurut penelitian menunjukan adanya peningkatan temperatur suhu tahunan hingga 1°C dalam satu generasi terakhir. Dampak buruk dari meningkatnya suhu tersebut adalah melelehnya gletser (melting of glaciers) dan tenggelamnya bongkahan es di wilayah Alaska dan Siberia, sehingga dapat menyebabkan naiknya permukaan laut hingga mampu menenggelamkan pulau-pulau dan menimbulkan banjir besar di berbagai wilayah dataran rendah.
Oleh karenanya, negara-negara kepulauan seperti Indonesia inilah yang nantinya akan dengan sangat mudah menerima efek dahsyat akibat meningkatnya ketinggian air laut dan munculnya topan badai. Lebih parahnya lagi, Indonesia sebagai negara yang menggunakan sebagian wilayah garis pantainya sebagai kunci aktivitas perekonomian, seperti misalnya di bidang pariwisata, perikanan bagi para nelayan, pertanian berbasis air, sistem pengendalian banjir, serta ekstrasi dan pengeboran minyak bumi-gas, sudah pasti akan menerima dampak negatif yang lebih besar akibat perubahan iklim apabila dibandingkan dengan negara-negara lainnya di dunia.
Konsekuensi masa depan terhadap perubahan iklim juga diprediksi akan lebih dramatis lagi dan menggangu kehidupan umat manusia, seperti terancamanya distribusi vegetasi alami dan keanekaragaman hayati, erosi dan badai yang akan memaksa relokasi penduduk di sepanjang pantai, beban biaya yang sangat besar untuk rekonstruksi infrastruktur pembangunan, meningkatnya alokasi dana untuk pengendalian potensi kebakaran dan beragam penyakit, serta investasi yang sangat besar untuk pelayanan kesehatan. Ketika menyadari sepenuhnya akan dampak buruk perubahan iklim bagi negara-negara dunia dan khususnya Indonesia, maka sudah seyogyanya diambil langkah-langkah penting dan strategis dengan cara mitigasi dan adaptasi guna mencegah kerusakan yang lebih besar.
Indonesia adalah salah satu Negara Agraris terbesar di dunia yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, dengan komoditas utama adalah Padi. Sebagai sumber pangan selain jagung dan gandum, padi merupakan bahan pangan pokok yang penting bagi hampir sebagian penduduk dunia, terutama di daerah tropik seperti Asia dan Afrika. Menurut data BPS Saat ini Indonesia menjadi produsen gabah nomer 3 setelah RRC dan India, tetapi dalam produktifitas Indonesia jauh tertinggal. Bahkan saat ini Indonesia telah mengimpor beras dari Thailand.
Pengamatan cuaca merupakan kegiatan yang penting dalam Meteorologi. Pengamatan cuaca dapat dilakukan oleh manusia maupun dengan menggunakan alat. Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus (SMPK) merupakan suatu stasiun (tempat) yang melakukan kegiatan pengamatan (pengukuran) keadaan unsur-unsur iklim separti  suhu, angin, curah hujan, penyinaran matahari, penguapan, kelembaban pada suatu waktu (standar) yang telah ditentukan.
Untuk menghilangkan subyektifitas data pengamatan manusia secara langsung dengan panca indra maka digunakan alat-alat (instrumen) pengukur unsur-unsur cuaca atau iklim. Setiap alat mempunyai cara kerja dan spesifikasi kegunaan tertentu seperti :
Ø  Alat pengukur suhu dipergunakan termometer.
Ø  Alat pengukur curah hujan menggunakan penakar hujan Observatorium (Obs), penakar hujan otomatis (Hillman).
Ø  Alat pengukur angin menggunakan anemometer.
Ø  Alat pengukur penguapan air dipergunakan evaporimeter (panci evapori)
Ø  Alat pengukur lama penyinaran matahari menggunakan Cambell Stokes, Sun Sine Recorder .

B.     Tujuan Observasi
1.      Mahasiswa dapat mengetahui dimana dan bagaimana stasiun BMKG Indrapuri, sekaligus mengenal profil stasiun BMKG Indrapuri secara lebih jelas.
2.      Mahasiswa dapat mengenal dan mengetahui alat-alat pendeteksi iklim di stasiun BMKG Indrapuri Aceh Besar.
3.      Mahasiswa mampu membedakan alat pendeteksi yang bekerja secara Manual dan bekerja secara Digital.




C.     Manfaat Observasi
Adapun manfaat dari observasi ini yaitu selain menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, mahasiswa juga dapat mengetahui lokasi stasiun BMKG Indrapuri dan melihat bagaimana system kerja dari alat yang ada di BMKG ini.

D.    Waktu dan Tempat Observasi
Hari                 : Rabu
Tanggal           : 27 Juni 2012
Waktu             : 10.00 – 12.00
Tempat            : BMKG  Stasiun  Klimatologi Indrapuri-Aceh Besar.

E.     Metode Observasi
a.       Metode Audio
Mahasiswa mendengarkan  penjelasan dan pengarahan dari pihak staff  BMKG mengenai iklim dan profilnya beserta kelengkapan alat - alatnya.
b.      Metode Visual
Mahasiswa melihat secara langsung  layar dengan gambar yang diletakkan di hadapan para mahasiswa oleh pihak BMKG yaitu gambar durasi proses hujan dan gambar alat pendeteksi cuaca lengkap dengan keterangannya.
c.       Metode di lapangan
Mahasiswa langsung terjun ke lapangan untuk melihat, mengamati dan mencoba alat-alat pendeteksi iklim di kantor BMKG Indrapuri Aceh Besar.
d.      Metode Pencatatan
Mahasiswa mencatat hasil pengamatan dari hasil pengarahan dan penjelasan dari kegunaan  alat-alat tersebut pada buku dan mendokumentasikan gambar hasil obsrevasi.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  1. Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus
Sesuai dengan namanya Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus (SMPK), bertugas secara khusus melakukan kegiatan pengamatan (pengukuran) keadaan unsur-unsur iklim seperti suhu, angin, hujan, penyinaran matahari, penguapan, kelembaban, pada suatu waktu (standart) yang telah ditentukan yang berhubungan atau berpengaruh nyata terhadap hasil pertanian. Biasanya stasiun ini merupakan hasil kerjasama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dengan instansi Pemerintah/BUMN/Swasta yang berhubungan dengan pertanian.
Ketentuan Membangun SMPK
v  Tersediannya taman alat-alat yang cukup luas, sehingga dapat menampung berbagai alat pengukur unsur-unsur iklim yang berhubungan dengan pertanian.
v  Data yang dihasilkan dapat mewakili daerah sekitarnya secara menyeluruh (misalnya se-kabupaten/sentra produksi pertanian).

B.     Taman Alat-alat Klimatologi
Pengamatan unsur-unsur meteorologi memerlukan alat-alat meteorologi. Agar hasil pengamatan dari berbagai stasiun meteorologi dapat dibandingkan satu sama lain, maka penempatan alat-alat meteorologi dan tata cara pengamatan pun haruslah sama. Untuk keperluan tersebut pada stasiun meteorologi dan klimatologi dibuat taman alat yang didalamnya terdapat beberapa alat untuk penelitian.
Taman alat-alat Klimatologi adalah suatu taman dimana alat-alat pengukur unsur-unsur iklim ditempatkan. Taman alat-alat Klimatologi terdapat pada setiap Stasiun Klimatologi dan dibangun sedemikian rupa agar dapat beroperasi dengan baik secara terus menerus paling sedikit 10 tahun.

1.      Ketentuan Membangun Taman Alat-alat.
Kekhasan taman alat-alat tersebut menggambarkan persyaratan atau ketentuan-ketentuan dalam membangunnya, antara lain :
a.       Tanahnya yang datar atau rata dengan ditanami rumput pendek.
b.      Tempat terbuka, letaknya jauh dari pohon-pohon, bangunan penghalang yang tinggi. Jarak dari pohon atau bangunan penghalang minimal sama dengan tinggi pohon dan atau bangunan penghalang tersebut. (misalnya terdapat pohon dengan tinggi empat meter maka jarak taman alat dengan pohon adalah minimal empat meter).
c.       Mempunyai pagar keliling setinggi + 1 meter, untuk melindungi alat-alat dari gangguan hewan dan lain-lainnya.
d.      Ukuran atau luas taman alat bervariasi tergantung dari jenis Stasiun atau jumlah alat-alat yang dipasang didalamnya. Contoh : berukuran 20 m X 15 m, 40 m X 20 m, 60 mX 40 m dan sebagainya.
e.       Arah taman alat memanjang Utara–Selatan.
f.       Alat-alat pengukur unsur-unsur iklim diletakkan di dalam taman alat.
g.      Penempatan alat-alat pengukur unsur iklim ditentukan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu satu sama lain. Contoh : Tempat untuk Sangkar Meteorologi (disamping Anemometer) dipasang Solarimeter atau Cambell Stokes, maka pada suatu saat bayangan dari tiang Anemometer akan menutupi Solarimeter, sehingga radiasi matahari yang tercatat akan berkurang.
2.      Pemeliharaan Alat
a.       Potong dan bersihkan rumput di Taman Alat paling sedikit 1 kali dalam sebulan.
b.      Jangan menanam/memelihara pohon di dekat Taman Alat.

Persyaratan lokasi taman alat klimatologi menurut BMKG yaitu sebagai brikut:
·         Jauh dari bangunan fisik yang dapat mempengaruhi iklim.
·         Jarak benda penghalang dengan taman alat paling sedikit 10 kali tinggi penghalang.
·         Lahan bukan daerah pemukiman penduduk yang padat dan bebas dari daerah industri.

 




















  1. Sangkar Meteorologi
Sangkar meteorologi (Screen) adalah suatu tempat yang digunakan untuk meletakkan alat-alat pengamatan cuaca permukaan. Pemasangan alat-alat meteorologi didalam sangkar dimaksudkan agar hasil pengamatan dari tempat-tempat dan waktu yang berbeda dapat dibandingkan satu sama lain.
Untuk ketelitian pengukuran suhu udara sekiranya dihindari dari beberapa macam gangguan lokal maupun hal-hal lain yang mengurangi kemurnian-kemurnian suhu atmosfer.
Beberapa gangguan yang perlu dihindarkan antara lain :
·         Pengaruh radiasi langsung dari matahari dan pantulannya oleh benda-benda disekitarnya.
·         Gangguan tetesan air hujan.
·         Tiupan angin yang terlalu kuat.
·         Pengaruh lokal gradient suhu tanah akibat pemanasan dan pendinginan permukaan tanah setempat.
Untuk mengatasi atau meminimalisir gangguan tersebut di atas alat pengukurnya perlu ditempatkan pada sangkar meteorologi.
Ketentuan Membangun Sangkar Meteorologi.
·         Sangkar dibuat dari kayu sedemikian rupa sehingga dapat melindungi/mengelilingi alat didalammnya secara sempurna, tetapi dapat menunjukkan suhu udara yang sama dengan suhu udara luar.
·         Kisi pintu Sangkar dibuat rangkap untuk mencegah tiupan angin secara langsung, tetapi udara yang bebas dapat melalui alat.
·         Sangkar dibuat berpintu dua, membuka/menutup menghadap Utara–Selatan. Gunanya untuk mencegah pancaran langsung sinar matahari pada alat sewaktu melakukan pengamatan. Jika matahari berada pada belahan bumi Utara, digunakan pintu sebelah Selatan untuk pengamatan dan sebaliknya.
·         Tinggi lantai (tempat kedudukan alat) 120 cm diatas permukaan tanah.
·         Sangkar diletakkan diatas tanah berumput pendek, di dalam taman alat dengan jarak minimal satu kali tinggi benda yang berada didekatnya.
BAB III
PEMBAHASAN
A.    Klimatologi dan Meteorologi
Klimatologi dan Meteorologi, keduanya dikenal sebagai pengetahuan tentang atmosfer, yaitu lapisan gas yang menyelubungi bulatan (permukaan) bumi, namun kajian klimatologi berkaitan dengan hasil dari proses yang terjadi di atmosfer, misalnya karakteristik iklim, mengapa iklim berbeda diberbagai tempat di muka bumi, faktor penyebab perbedaan iklim dan bagaimana kaitan cuaca dan iklim terhadap aktivitas manusia, sedangkan meteorology lebih berkaitan pada proses fisis dan cuaca yang terjadi di atmosfer terutama lapisan troposfer.
Demikianlah klimatologi dapat juga disebut meteorologi statistik.Data cuaca yang bersifat kontinyu antara lain: suhu, kelembapan, tekanan udara serta kecepatan angin. Analisis dan penyajiannya dalam bentuk angka rata-rata atau angka sesaat (instantaneous) sedangkan grafiknya dalam bentuk garis/kurva.
Menurut Bayong (2004), Klimatologi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu klimatologi fisis, klimatologi kedaerahan (regional). Klimatologi kedaerahan bertujuan memberikan gambaran (deskripsi) iklim dunia yang meliputi sifat dan jenis iklim. sedangkan klimatologi terapan mencari hubungan klimatologi dengan ilmu lain, misalnya: agroklimatologi: penerapan klimatologi dalam bidang pertanian.
B.     Alat-alat Pengukuran
a.       Alat Ukur Suhu Udara
Suhu merupakan karakeristik inberent, dimiliki oleh  suatu benda yang berhubungan dengan panas dan energi. Suhu udara akan berfungsi dengan  nyata selama setiap periode 24 jam. Fluktuasi suhu udara berkaitan erat dengan proses pertukaran energy yang berlangsung di atmosfer. Pada siang hari, sebagian dari radiasi matahari akan diserap oleh gas – gas atmosfer dan partikel – partikel padat yang melayang di atmosfer. Serapan energi radiasi matahari ini akan menyebabkan suhu udara meningkat. Suhu udara harian maksimum tercapai beberapa saat setelah intensitas cahaya maksimum tercapai. Intensitas cahya maksimum tercapai pada saat berkas cahaya jatuh tegak lurus, yakni pada waktu tengah hari.
Pengamatan Suhu Udara Permukaan adalah pengukuran suhu udara pada ketinggian 1,20–1,25 meter dari permukaan tanah, dengan satuan suhu udara adalah 0C (Celsius), menggunakan alat pengukur suhu yaitu Termometer. Selanjutnya suhu udara permukaan diamati dengan menggunakan Termometer Bola Kering.
1.      Termometer Bola Basah dan Bola Kering
Sepasang Termometer Bola Basah dan Bola Kering yang ditempatkan vertikal pada Standard dan terpisah dalam jarak + 5 cm satu sama lain yang disebut Psycrometer (gambar 4). Jenis ini dipakai untuk pengamatan temperatur dengan mata yang diletakkan dalam Sangkar Meteorologi. Termometer Bola Basah dan Bola Kering ini berisi Air Raksa, yang bersifat membasahi dinding gelas, cepat menerima panas, mengembang dengan teratur, titik didih tinggi (3570 C) dan merupakan penghantar yang baik.
Termometer Bola Basah adalah Termometer Bola Kering yang dibungkus dengan kain Muslin (kain kasa) yang bersih dan dimasukkan ke dalam dalam Botol yang berisi air bersih dan diusahakan ada jarak antara kain muslin dalam botol dengan bola Termometer.
a)      Cara Kerja Peralatan
1.      Apabila suhu udara meningkat maka air raksa dalam bola Termometer akan memuai dan mendesak keluar.
2.      Apabila suhu udara menurun maka air raksa dalam bola Termometer akan menyusut dan menarik air raksa dalam kolom.
3.      Ujung kolom air raksa pada Termometer Bola Basah dan Bola Kering menunjukkan suhu udara pada lingkungan.
b)      Cara Pengukuran dan Pengoperasian
1.      Pengamatan/pengukuran dilakukan pada waktu yang telah ditentukan.
2.      Tiap kali membuka sangkar yang pertama dibaca adalah suhu dalam Termometer Bola Kering, jangan memegang termometer untuk menghindari pengaruh panas tubuh pengamat terhadap suhu termometer.
3.      Yakinkan bahwa garis pandang dari mata kepuncak permukaan air raksa miniscus adalah mendatar, untuk menghindari kesalahan paralaks (kesalahan sudut baca, gambar 3).
4.      Baca Termometer dengan cepat dan cermat sampai persepuluhan derajat Celsius terdekat.

 






Gambar 3. Kesalahan Paralaks
2.      Termometer Maksimum
Termometer ini adalah Termometer air raksa biasa seperti Termometer bola kering. Perbedaannya ialah terdapatnya bagian yang sempit pada tabung dekat bola Termometer.
a)      Cara Kerja Peralatan
1.      Apabila suhu udara meningkat maka air raksa dalam bola Termometer akan memuai dan mendesak keluar melalui lubang sempit pada tabung dekat bola Termometer. Ujung kolom air raksa menunjukkan Temperatur udara maksimum pada hari tersebut.
2.      Apabila suhu turun, kolom air raksa terputus pada bagian yang sempit ini, segera sesudah air raksa dalam bola termometer menyusut ujung lain dari kolom air raksa tetap pada tempatnya.
3.      Kedudukan air raksa dalam tabung hanya dapat diturunkan dengan bantuan tenaga mekanis.

b)      Cara Pengukuran dan Pengoperasian
1.      Untuk keperluan pengamatan Meteorologi dan Klimatologi pengamatan dilakukan 1 kali sehari pada waktu yang telah ditentukan yaitu pada sore hari sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Dimana suhu udara tidak akan mengalami kenaikan lagi dalam jangka waktu yang lama.
2.      Baca termometer dengan cermat sampai persepuluhan derajat, Jangan sekali-kali termometer dipegang sebelum dibaca.
3.      Setelah pembacaan termometer diangkat dari tempatnya kemudian diayunkan 2 X dengan posisi tangan lurus, untuk mengembalikan air raksa dalam termometer seperti posisi semula.

3.      Termometer Minimum
Termometer Minimum adalah termometer alkohol. Termometer jenis ini dipakai untuk mengukur temperatur yang rendah, karena alkohol mempunyai titik beku yang rendah (-970 C) dan merupakan penghantar panas yang baik. Didalam kolom alkohol ini terdapat sebatang gelas kecil yang berwarna kebiru-biruan. Batang gelas ini dinamakan indeks. Ujung indeks paling jauh dari bola termometer adalah harga pembacaan.
a)      Cara Kerja Peralatan
1.      Jika suhu turun indeks terdorong kearah bola termometer oleh permukaan alkohol.
2.      Jika suhu naik zat cair ini mengembang, indeks tetap pada tempat yang paling rendah.

b)      Cara Pengukuran dan Pengoperasian
1.      Pembacaan alat adalah pada ujung terjauh indeks dari bola termometer.
2.      Setelah pembacaan, termometer diangkat dari tempatnya kemudian termometer dimiringkan dengan posisi bola termometer lebih tinggi, sambil diamati pergerakan dari indeks hingga indeks mencapai puncak permukaan alkohol dan diletakkan kembali pada standard seperti posisi semula.
c)      Pemeliharaan Alat
1.      Bersihkan termometer dari debu dan lumut.
2.      Tambahkan air termometer bola basah sedikitnya 1 kali dalam tiga hari atau pada saat air dalam botol berkurang.
3.      Ganti kain kasa atau kain muslin jika telah berlumut atau kotor.
4.      Periksa air raksa termometer maksimum setelah dibaca dan sebelum dikembalikan apakah bagian yang sempit pada tabung dekat bola masih berfungsi baik (lihat apakah air raksa terputus).
5.      Jangan menggoyang termometer minimum seperti termometer maksimum. Cukup dimiringkan ke arah suhu pada waktu pembacaan.
 










Keterangan gambar 4. Psycrometer :
a.       Termometer Bola Basah.               d.  Termometer Minimum.
b.      Termometer Bola Kering.             e.   Penyangga.
c.       Termometer Maksimum.

b.      Alat Ukur Kelembaban Udara
Perbandingan antara massa uap air dengan massa udara lembab dalam satuan volume udara tertentu disebut sebagai kelembaban spesifik, umumnya dinyatakan dalam satuan g/kg. Kemampuan udara untuk menampung air akan bertambah dengan meningkatnya suhu. Jika udara yang jenuh uap air ditingkatkan suhunya, maka udara tersebut menjadi tak jenuh. Uap air merupakan gas yang paling dinamis di atmosfer, di mana kandungan uap air dapat berubah dengan cepat pada setiap periode 24 jam.
Relatif Humidity/Kelembaban Udara (RH) adalah perbandingan tekanan uap air dalam gas terhadap tekanan uap air maksimum pada suhu tertentu yang dinyatakan dalam persen (%). Relatif Humidity di ukur secara langsung dengan alat yang disebut Hygrograf, dan juga dapat ditentukan secara tidak langsung melalui pembacaan Psycrometer (Termometer bola basah dan bola kering, gambar 4). Dikatakan tidak langsung karena Relatif Humidity didapat dari perhitungan hasil pembacaan suhu bola basah dan bola kering. Sehingga diketahui hubungan antara pembacaan bola basah dan bola kering dan tekanan uap pada saat itu.
Cara Pengukuran dan Pengoperasian
Untuk mempermudah pengamatan Relatif Humidity atau kelembaban udara, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), membuat tabel penentuan Relatif Humidity (RH) berdasarkan hasil pembacaan Termometer Bola Basah dan Termometer Bola Kering.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1.      Jarak Antara Bola Termometer (basah & kering) dengan lantai adalah 18 cm.
2.      Jarak antara besi penyangga Termometer (maksimum & minimum) dengan lantai adalah 35 cm.
3.      Letak Psycrometer didalam sangkar pada jarak minimum 10 cm terhadap dinding sangkar dan alat-alat lain.

c.       Alat Ukur Temperatur Tanah
Selain mengukur suhu udara, Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus (SMPK) juga mengamati/mengukur suhu tanah pada kedalaman 0 cm, 5 cm, 10 cm, 20 cm, 50 cm, 100 cm. Sesuai dengan ketetapan (standard) dari WMO (World Meteorological Organization). Temperatur tanah dibedakan atas dua macam yaitu, temperatur tanah berumput pendek dan temperatur tanah gundul. Perbedaan terletak pada keadaan permukaan tanah dimana termometer ditempatkan ditanami rumput pendek atau tidak sama sekali (gundul).
a)      Cara Kerja Peralatan
1.      Prinsip kerja alat sama dengan termometer bola kering biasa yaitu, apabila suhu dalam tanah meningkat maka air raksa dalam bola termometer akan memuai dan mendesak keluar dan juga berlaku sebaliknya.
2.      Ujung kolom air raksa menunjukkan suhu tanah pada kedalaman termometer yang sedang diamati.
b)      Cara Pengukuran dan Pengoperasian
1.      Pengamatan/pengukuran dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan.
2.      Mata pengamat usahakan sejajar dengan permukaan air raksa dalam termometer, hindari kesalahan paralaks dalam pembacaan suhu.
c)      Pemeliharaan Alat
1.      Bersihkan termometer dari debu dan lumut.
2.      Bersihkan areal termometer tanah gundul dari rumput/tanaman.
3.      Pelihara areal termometer tanah berumput dengan rumput pendek dan bersihkan dari tanaman pengganggu.

d.      Alat Ukur Curah Hujan
Perbandingan antara jumlah curah hujan  yang  terjadi  selama satu bulan, dengan nilai rata-rata atau normal dari bulan tersebut di suatu tempat.
Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu :
v  Atas  Normal (AN), jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %.  Pada musim hujan, sifat hujan AN perlu mendapatkan perhatian, terutama jika curah hujan > 400 mm/bln, secara klimatologis cukup rawan terhadap bencana alam (banjir-tanah longsor).
v  N o r m a l  (N), jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara  85 % - 115 %.
v  Bawah Normal  (BN), jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %.  Pada musim hujan, sifat hujan BN perlu mendapatkan perhatian, terutama jika curah hujan < 50 mm/bln, secara klimatologis cukup rawan terhadap bencana alam (kekeringan-kebakaran).

Normal Curah Hujan :
v  Rata-rata Curah Hujan Bulanan :  Nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
v  Normal Curah Hujan Bulanan :  Nilai rata-rata curah hujan masing -masing bulan selama periode 30 tahun.
v  Standar Normal Curah Hujan Bulanan :  Nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun dimulai dari 1 Februari 1901 s/d  31 Desember 1930, 1 Februari 1931 s/d 31 Desember 1960, 1 Februari 1961 s/d 31 Desember 1990 dan seterusnya.

Standarized Precipitation Index (SPI)
adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya, dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst). Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma.
Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut :
1.      Tingkat Kekeringan
a.       Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00
b.      Kering             : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99
c.       Agak Kering   : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49

2.      Normal                  : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99
3.      Tingkat Kebasahan
a.       Sangat Basah  : Jika nilai SPI ≥ 2,00
b.      Basah              : Jika nilai SPI 1,50 s/d 0,99
c.       Agak Basah     : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49.
1)      Penakar Curah Hujan Biasa (Typ Obs)
Penakar hujan ini termasuk jenis penakar hujan biasa non recording atau tidak dapat mencatat sendiri. Dengan bentuk sederhana terdiri dari sebuah corong, mulut corong (bagian atas) berbentuk lingkaran dengan luas 100 cm2. Bagian bawah corong merupakan tempat penampungan air hujan. Penakar hujan ini termasuk tipe kolektor yang menggunakan gelas ukur khusus untuk mengukur curah hujan dalam skala mm (milimeter).
a)      Cara Kerja Peralatan
1.      Air hujan yang masuk melalui corong dialirkan kebagian penampungan air hujan.
2.      Air yang tertampung dikeluarkan melalui kran dan diukur dengan menggunakan gelas penakar.
b)      Cara Pengukuran dan Pengoperasian
1.      Pengamatan dilakukan setiap hari pada jam 07.00 waktu setempat.
2.      Buka kunci gembok, letakkan gelas ukur dibawah kran dan kemudian kran dibuka.
3.      Jika curah hujan diperkirakan melebihi 25 mm atau (sesuai skala gelas), sebelum air yang ditampung dalam gelas mencapai 25 mm, kran ditutup dulu, lakukan pembacaan dan catat. Kemudian air dalam gelas dipindah dan pengukuran dilanjutkan kembali sampai air dalam penakar habis diukur. Selanjutnya seluruh hasil pembacaan dicatat dan di jumlahkan.
4.      Untuk pembacaan curah hujan lebih kecil dari 0,5 mm ditulis 0 (nol), jika lebih dari 0,5 mm ditulis 1 (satu).
c)      Pemeliharaan Alat
1.      Periksa dan bersihkan corong dari sampah/kotoran sehingga tidak menghambat masuknya air hujan.
2.      Periksa selalu apakah penampungan bocor.
3.      Pakai/gunakan selalu gelas ukur standard yang telah disediakan.
4.      Setelah pengukuran pastikan kran dalam keadaan tertutup/terkunci.
 






                                                                                                    


 





Gambar 5. Alat Penakar Hujan Tipe Obs

2)      Penakar Hujan Otomatis (Tipe Hillman)
Penakar hujan tipa Hillman termasuk penakar hujan yang dapat mencatat sendiri. Badannya berbentuk silinder dengan tinggi 115 cm. Mulut corong (bagian atas) berbentuk lingkaran dengan luas 200 cm 2.
a)      Cara Kerja Pelaratan
1.      Air hujan masuk melalui corong kemudian masuk terkumpul dalam tabung tempat pelampung.
2.      Air menyebabkan pelampung beserta tangkainya terangkat naik keatas.
3.      Pada tangkai pelampung terdapat tangkai pena yang gerakannya mengikuti tangkai pelampung.
4.      Gerakan pena dicatat pada pias yang digulung pada silinder jam yang berputar secara mekanis.
5.      Jika air dalam tabung hampir penuh (dapat dilihat pada lengkungan selang gelas) pena akan mencapai tempat teratas pada pias. Setelah air mencapai atau melewati puncak lengkungan selang gelas maka berdasarkan sistem siphon otomatis air dalam tabung akan keluar sampai ketinggian ujung selang dalam tabung.
6.      Bersamaan dengan keluarnya air, tangkai pelampung dan pena turun dan pencatatannya pada pias merupakan garis lurus vertikal.
7.      Jika hujan masih turun, maka pelampung akan naik kembali seperti diatas.
Dengan demikian jumlah curah hujan dapat dihitung dengan menghitung jumlah garis-garis vertikal yang terdapat pada pias, dan dapat ditentukan kapan jatuhnya hujan dan berapa intensitasnya untuk jangka waktu tartentu. Satu kali pena pias naik menandakan hujan sebanyak 10 mm.
b)      Cara Pengukuran dan Pengoperasian
1.      Buka pintu penakar hujan, singkirkan pena dari pias lalu angkat silinder jam penakar keatas.
2.      Putar/kunci jam secukupnya, pasang pias pada silinder yang telah ditulis tanggal pemasangannya.
3.      Letakkan silinder jam pada posisi semula dengan menyetel/mencocokkan waktu yang ditunjukkan oleh pena pada pias dengan waktu setempat.
4.      Untuk keperluan pengamatan iklim suatu daerah, pengambilan pias dilakukan pukul 07.00 waktu setempat.

c)      Pemeliharaan Alat
1.      Periksa dan bersihkan corong dari sampah/kotoran sehingga tidak menghambat masuknya air hujan.
2.      Periksa selalu apakah jam berfungsi baik, jangan mengunci jam terlalu ketat.
3.      Periksa selalu apakah tangkai pena berfungsi dengan baik, jangan membengkokkan tangkai pena. Periksa juga apakah mata pena masih berfungsi.
4.      Gunakan gelas ukur standard yang telah disediakan, setelah pengukuran pastikan pintu penakar tertutup dengan baik.

 












e.       Alat Ukur Radiasi Matahari
Suhu permukaan yang tinggi, maka matahari akan memancarkan radiasi (dalam bentuk cahaya) ke ruang angkasa disekitarnya, di mana sebagian dari radiasi cahaya tersebut akan sampai ke permukaan bumi. Matahari merupakan sumber energi bagi bumi dan atmosfer dan energi ini dipancarkan kebumi dalam bentuk gelombang eletromagnetik. Radiasi cahaya matahari yang diterima bumi berupa gelombang pendek dan panas bumi bumi akibat serapan radiasi matahari menimbulkan pancaran gelombang panjang yang memanasi lapisan atmosfer paling bawah.
Untuk keperluan Klimatologi pengukuran radiasi matahari meliputi:
·         Pengukuran lamanya matahari bersinar atau Sunshine duration ialah lamanya matahari bersinar sampai permukaan bumi dalam periode 1 hari, di ukur dalam jam.
·         Pengukuran intensitas radiasi matahari atau intensity of sunshine, dalam satuan gr Calori cm 2 menit -1.
Periode satu hari disebut dengan panjang hari yaitu jangka waktu matahari berada diatas horizon. Lama penyinaran ditulis dalam satuan jam sampai nilai persepuluhan, atau juga ditulis dalam persen terhadap panjang hari.
Pengukur Sinar Matahari Jenis Campbell Stokes.
Campbell Stokes digunakan untuk menghitung lama penyinaran matahari atau panjang hari. Alat ini terdiri dari bola gelas berbentuk bulat berisi masa air yang terpasang ditengah-tengah sebuah mangkok dengan garis tengah + 15 cm. Pada mangkok dibuat garis-garis jam dan permukaannya dicat hitam. Bola gelas ini bekerja sebagai lensa dan panas matahari akan membakar pias kertas ditempat kertas jatuh.
a)      Cara Kerja Alat
1.      Sinar Matahari yang melalui bola gelas sedemikian rupa diteruskan dan difokuskan tepat mengenai pias yang khusus dibuat untuk alat ini.
2.      Bekas sinar matahari akan meninggalkan jejak dengan terbakarnya pias sesuai dengan kekuatan sinar matahari.
3.      Digunakannya bola gelas untuk memfokuskan sinar matahari secara terus-menerus tanpa terpangaruh oleh perubahan posisi matahari.
4.      Jika matahari bersinar sepanjang hari dan mengenai alat ini akan diperoleh jejak pias terbakar yang tidak putus.
5.      Jika matahari tertutup awan dan atau hujan akan ditinggalkan jejak yang terputus-putus.

 








b)         Cara Pengukuran dan Pengoperasian
1.      Penggantian dan pemasangan pias sebaiknya pada sore hari setelah pukul 18.00 waktu setempat.
2.      Tulis tanggal waktu pemasangan pias pada sebalik kertas pias.
3.      Gunakan Jenis pias  Campbell Stokes sesuai waktunya sebagai berikut.




Tabel 1. Jenis dan Tanggal Pemasangan Pias
Jenis Pias
Tanggal digunakan
Gambar Pias
Lengkung Panjang
12 April s/d 2 September


Lurus
1 Maret s/d 11 April
3 Sept s/d 14 Oktober
Lengkung Pendek

15 Oktober s/d 28 Februari


f.       Alat Ukur Kecepatan Angin
Angin dapat bergerak secara horizontal maupun vertikal dengan kecepatan yang bervariasi dan berfluktuasi secara dinamis. Faktor pendorong bergeraknya massa udara adalah perbedaan tekanan udara antara satu tempat dengan tempat yang lain. Angin selalu bertiup dari tempat tekanan udara tinggi ke tempat tekanan udara yang lebih rendah. Variasi arah dan kecepatan angin dapat terjadi jika angin bergeser dengan permukaaan yang tidak licin, variasi yang diakibatkan oleh kekasaran permukaan disebut turbulensi mekanis.
Kecepatan angin diukur dengan Anemometer. Ada yang langsung menunjukkan kecepatan angin sesaat, dan ada pula yang menyatakan panjangnya perjalanan angin. Dalam jangka waktu tertentu, yang disebut dengan Wind Run. Cup Counter Anemometer termasuk jenis yang mengukur Wind Run ini. Untuk keperluan pertanian Cup Counter Anemometer ditempatkan pada ketinggian dua meter dari permukaan tanah.

a)      Cara Kerja Alat
1.      Angin yang melewati mangkuk menyebabkan mangkuk berputar. Jauhnya perjalanan angin dicatat pada counter.
2.      Untuk mengetahui kecepatan angin rata-rata selama jangka waktu tertentu (interval), dihitung selisih pembacaan pada counter diakhir interval dengan permulaan interval itu.

b)      Cara Pengukuran dan Pengoperasian
1.      Catat counter pada saat permulaan pengamatan sesuai dengan waktu pengamatan setempat.
2.      Catat counter pada pengamatan berikutnya sesuai dengan waktu pengamatan yang telah ditentukan.
3.      Hitung kecepatan angin rata-rata dengan satuan meter/detik (m/dt) selama jangka waktu pengamatan.

c)      Pemeliharaan Alat
1.      Pelihara as (sumbu) kepala Cup Counter Anemometer dengan cara meminyakinya.
2.      Jangan memutar mangkok pada saat Cup Counter Anemometer sedang beroperasi atau berputar pada saat pengamatan 

 

Mangkok Cup Counter





g.      Alat Ukur Penguapan
Penguapan ialah proses perubahan air menjadi uap air. Proses ini dapat terjadi pada setiap permukaan benda pada temperatur diatas 00C. Faktor-faktor yang mempengaruhi penguapan adalah temperatur benda dan udara, kecepatan angin, kelembaban udara, jenis permukaan benda serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya.
Dalam klimatologi dikenal istilah evaporasi dan evapotranspirasi, Evaporasi adalah penguapan dari permukaan benda mati atau air yang tergenang, sedangkan Evapotranspirasi adalah penguapan dari permukaan air, tanah, dan tanaman (transpirasi). Jadi Evapotranspirasi merupakan gabungan dari tranpirasi dan evaporasi.
Salah satu alat yang digunakan untuk mengukur evaporasi dipergunakan Evaporimeter panci terbuka, dengan peralatan antara lain :
1)      Panci terbuka, terbuat dari besi anti karat dengan ukuran garis tengah 122 cm, dan tinggi 25,4 cm.
2)      Hook Gauge yaitu alat yang digunakan untuk mengukur perubahan tinggi permukaan air dalam panci. Alat ini terdiri dari sebuah batang yang mempunyai skala mm (milimeter), dan sebuah sekrup yang digunakan untuk mengatur letak ujung jarum pada permukaan air dalam panci. Skrup ini berfungsi sebagai mikrometer yang dibagi menjadi 50 bagian. Satu putaran penuh dari mikrometer mencatat perubahan ujung jarum  setinggi 1 mm.
3)      Still Well adalah bejana yang terbuat dari logam kuningan yang berbentuk silinder dan mempunyai tiga buah kaki. Pada tiap kaki bejana terdapat sekrup yang digunakan untuk menyetel Still Well berdiri horisontal. Pada dasar bejana terdapat sebuah lubang saluran air untuk menjaga permukaan air dalam bejana dan panci tetap sama. Kegunaan yang lain adalah untuk menjaga permukaan air tetap tenang, sehingga penyetelan ujung jarum dapat lebih mudah.
4)      Flooting Termometer (Termometer Apung). Alat ini merupakan satu set termometer maksimum dan minimum biasa yang diletakkan mengapung diatas panci berfungsi untuk mengukur temperatur air dalam panci.
 

















a)      Cara Kerja Alat
1.      Laju penguapan diketahui dan diukur dari perubahan tinggi permukaan air, melalui pembacaan skala pada Hook Gauge.
2.      Untuk Mengetahui laju penguapan yang terjadi pada interval waktu tertentu, dihitung selisih pembacaan akhir interval dengan permulaan interval waktu itu.
b)      Cara Pengukuran dan Pengoperasian
1.      Baca dan catan suhu maksimum dan minimum air.
2.      Baca dan catat skala pada Hook Gauge.
3.      Putar sekrup Hook Gauge perlahan-lahan sampai ujung jarum tepat berada pada permukaan air (Gambar 13).
4.      Baca dan catat skala pada Hook Gauge pada skala yang ditumjukkan oleh sekrup/mikrometer.
5.      Lakukan pengamatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

c)      Pemeliharaan Alat
1.      Bersihkan bagian-bagian alat dari kotoran/lumut.
2.      Ganti air dan bersihkan panci paling sedikit dua minggu satu kali.


















BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan:
v  Klimatologi adalah kondisi cuaca rata-rata selama periode waktu tertentu, dan merupakan cabang dari ilmu atmosfer.
v  Cahaya, suhu, kelembaban udara, curah hujan, dan angin merupakan unsur-unsur iklim.
v  Cuaca dan iklim merupakan unsur yang penting dalam meteorologi. Pengamatan cuaca dan iklim dapat dilakukan oleh manusia maupun dilakukan dengan menggunakan alat – alat yang dibuat khusus untuk mendeteksi keadaan cuaca dan iklim tersebut.
v  Taman alat-alat Klimatologi adalah suatu taman dimana alat-alat pengukur unsur-unsur iklim ditempatkan.
v  Sangkar meteorologi (Screen) adalah suatu tempat yang digunakan untuk meletakkan alat-alat pengamatan cuaca permukaan seperti termometer bola kering, bola basah, termometer maksimum, termometer minimum dan alat lainnya.
v  Alat-alat pengukuran yaitu sebagai berikut:
Ø  Alat ukur suhu udara adalah thermometer bola basah dan bola kering, thermometer maksimum dan thermometer minimum.
Ø  Alat ukur kelembaban udara adalah Hygrograf.
Ø  Alat ukur curah hujan adalah tipe observatorium dan hellman.
Ø  Alat ukur radiasi matahari adalah compbell stokes.
Ø  Alat ukur kecepatan angin adalah anemometer.
Ø  Alat ukur penguapan adalah evaporimeter panic terbuka.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1983. Masalah dan Hasil Tanaman Padi Sawah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. 65 p.
_______, 2004 Produktifitas Padi Menurut Propinsi, http://www.deptan.go.id.
Sriworo B,Ir Msc, 2006, Tata Cara Tetap Pelaksanaan Pengamatan dan Pelaporan Data Iklim dan Agroklimat, Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta.












Belajar dan proses Pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannyasendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2). Perubahan itu bersifat secararelatif konstan dan berbekas. Dalam kaitan ini maka antara proses belajar dengan perubahansebagai bukti hasil yang diproses. Belajar tidak hanya mata pelajaran, tetapi juga penyusunan,kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan lain dan cita-cita (Hamalik, 2002:45).
                     Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada diri orang yang belajar akibat adanya latihan danpengalaman melalui interaksi dengan lingkungan.Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yangsaling berhubungan dan mempengaruhi. Komponen tersebut adalah guru, siswa, tujuan,materi, metode, dan evaluasi. Dari komponen-komponen pembelajaran tersebut, tujuan di jadikan fokus utama pengembangan, artinya komponen-komponen yang lain dikembangkanmengacu pada komponen tujuan yang ingin dicapai.
Pada hakikatnya pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi transksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan yang telah dicapai. Komunikasi transaksional adalah bentuk komunikasi yang dapat di terima, dipahami, dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran.Dalam proses pembelajaran komponen-komponenya saling keterkaitan yang mengacu pada suatu tujuan yang ingin dicapai.

  1. RUMUSAN MASALAH
      Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini:
1.   Apa itu defenisi belajar dan pembelajaran ?
2.   untuk mengetahui teori-teori belajar ?
     3.       apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi belajar?

  1. TUJUAN
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini :
1.   Untuk mengetahui definisi belajar dan pembelajaran.
2.   Untuk mengetahui teori-teori belajar.
3.   Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan syarat-syarat belajar.

D. MANFAAT
      Manfaat dalam penulisan makalah ini :
1.    Guru dapat menambah wawasan tentang proses belajar mengajar.
2.    Siswa dapat mengetahui dalam hal belajar maupun hal lainnya.

3.    Penulis dapat menambah pemahaman tentang belajar dan pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN BELAJAR
Menurut Para Ahli :
1)      Hilgard dan Bower,dalam buku Theories of learning(1975) mengemukakan.”Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yag disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu,dimana perubahan tingkah laku tidak dapat di jelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang(misalnya kelelahan,pengaruh obat dan sebagainya).
2)      Morgan dalam buku Introduction to psychology(1978) mengemukakan “belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.”
3)      James O.Wittaker belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
      Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas ,terdapat beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian tentang belajar ,yaitu:
a.       Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku
b.      Belajar merupakan suatu perubahan melalui latihan atau pengalaman
c.       Belajar merupakan perubahan yang harus relatif manetap.
d.      Belajar merupakan perubahan yang menyangkut berbagai aspek kepribadian .
                              Belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain..
                              Dapat disimpulkan bahwa Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia.dengan belajar,manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang.Semua aktifitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar.Kita pun hidup menurut hidup dan bekerja menurut apa yang telah kita pelajari.Belajar itu bukan sekedar pengalaman tetapi belajar adalah suatu proses,dan bukan suatu hasil.Karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integrative dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.

B.     TEORI BELAJAR
Secara umum teori belajar dapat dikelompikkan dalam 4 teori:
1)      Teori Behavioristik (Tingkah Laku)
Pandangan tentang belajar menurut teori tingkah laku,tidak lain adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.Atau dengan kata lain,belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.

·         Menurut Thorndike
MenurutThorndike(1911),salah seorang pendiri aliran tingkah laku,belajar adalah proses interaksi antara stimulus(yang mungkin berupa pikiran,perasan atau gerakan ) dan respon.Perubahan tingkah laku boleh berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati),atau yang non konkret(tidak dapat diamati).Teori thorndike disebut sebagai teori koneksionis(connectionism).
·         Watson
Menurut Watson stimulus dan respon tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati (observable). Dengan kata lain Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui.Penganut aliran tingkah laku lebih suka memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak bisa diukur, meskipun mereka tetap mengakui bahwa semua hal itu penting.
·         Clark hull
Clark Hull (1943) mengemukakan konsep pokok teorinya yang sangat dipengaruhi oleh teori evolusinya Charles Darwin. Bagi Hull, tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup.
·         Skinner
Skinner (1968) yang datang kemudian merupakan penganut paham neobehavioris yang mengalihkan dari laboratorium ke praktik kelas. Menurut Skinner, deskripsi hubungan antara stimulus dan respons untuk menjelaskan perubahan tingkah laku (dalam hubungannya dengan lingkungan) menurut persi Watson tersebut adalah deskripsi yang tidak lengkap.


2)      Teori kognitif
Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut teori ini, belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, tetapi belajar melibatkan proses berfikir yang sangat konfleks.
Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses intraksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Dalam praktik, teori ini antara lain terwujud dalam ‘tahap-tahap perkembangan’ yang diusulkan oleh :
·         Piaget
Menurut Jean Piaget (1975), bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi,equilibrasi (penyeimbangan). Menurut Piaget, proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa, dalam hal ini Piaget membaginya dalam empat tahap, yaitu tahap sensori-motor (1,5 – 2 tahun), tahap pra-operasional (2-3 sampai 7-8 tahun), tahap operasional konkret (7-8 sampai 12-14 tahun), dan tahap operasional formal (14 tahun atau lebih).
·         Bruner
`     Bruner mengusulkan teorinya yang disebut free discovery learning. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep melalui contoh-contoh yang mewakili aturan yang menjadi sumbernya.
Menurut pandangan Bruner bahwa teori belajar itu bersifat deskriptif, sedangkan teori pembelajaran itu bersifat preskriptif [goal oriented (untuk mencapai tujuan).

3)      Aliran Teori Humanistik
Bagi penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri.Dari keempat teori belajar, teori humanistik inilah yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan.Teori ini bersifat ekletik karena teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal.
·         Kolb
Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap, yaitu:
a.       Pengalaman konkret.
b.      Pengamatan aktif dan reflektif.
c.       Konseptualisasi.
d.      Eksperimentasi aktif.
MenurutKolb, siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran siswa.

4)      Aliran Sibernetik
Teori ini adalah teori baru yang berkembang sejalan ilmu informasi.Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi. Berikut penjelasan para ahli Sibernetik:

·         Landa
Landa merupakan salah seorang ahli psikologi yang beraliran sibernetik.Menurut Landa, ada dua macam proses berpikir. Pertama proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu target tertentu. Jenis kedua adalah cara berpikir heuristic, yakni cara berpikir divergen yang menuju ke beberapa target sekaligus.

·         Pask and Scott
Pendekatan serialis adalah pendekatan yang diusulkan Pask dan Scott yang juga sama dengan pendekatan algoritmik.

C.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Berhasil tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa factor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar.Ada beberapa yang berasal dari dalam diri orang yang belajar itu sendiri (internal) dan ada pula dari luar dirinya (eksternal).
Berikut dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu:
a.       Faktor Internal (yang Berasal dari Dalam Diri)

·         Kesehatan
Kemampuan belajar seseorang sangat dipengaruhi oleh kesehatan jasmani dan rohaninya.Bila seseorang sering dalam keadaan tidak sehat, dapat mengakibatkan tidak bergairah untuk belajar dan demikian pula sebaliknya.
Kemudian jika kesehatan rohani (jiwa) kurang baik, misalnya mengalami gangguan pikiran, perasaan kecewa karena konflik dengan pacar, orang tua atau karena sebab lainnya, ini dapat mengganggu atau mengurangi semangat belajar. Karena itu, pemeliharaan kesehatan sangat penting bagi setiap orang baik fisik maupun mental, agar badan tetap kuat, pikiran selalu dalam keadaan segar dan bersemangat dalam melaksanakan kegiatan belajar.

·         Inteligensi dan Bakat
Dua hal ini adalah aspek kejiwaan (psikis) yang besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar.Seseorang yang memiliki inteligensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik.Sebaliknya orang yang inteligensinya rendah, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir sehingga prestasi belajarnya rendah. Bakat, juga besar pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan belajar, misalnya belajar main piano, apabila dia memiliki bakat musik, akan lebih mudah dan cepat pandai dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki bakat itu.
Selanjutnya, bila seseorang mempunyai inteligensi tinggi dan bakatnya ada dalam bidang yang dipelajari, maka proses belajarnya akan lancer dan sukses bila dibandingkan dengan orang yang memiliki bakat saja tapi inteligensinya rendah. Demikian pula, jika dibandingkan dengan orang yang inteligensinya tinggi tetapi bakatnya tidak ada dalam bidang tersebut, orang berbakat lagi pintar (inteligensi tinggi) biasanya orang yang sukse dalam karirnya.

·         Minat dan Motivasi
Sebagaimana halnya dengan inteligensi dan bakat maka minat dan motivasi adalah 2 aspek psikis yang juga besar pengaruhnya terhadap pencapaian prestasi belajar.Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga dating dari hati sanubari.Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar, artinya untuk mencapai atau memperoleh benda atau tujuan yang diminati itu. Timbulnya minat belajar disebabkan berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah.
Motivasi berbeda dengan minat.Motivasi adalah daya penggerak atau pendorong untuk melakukan suatu pekerjaan. Bisa berasal dari dalam diri dan juga dari luar, motivasi yang berasal dari dalam diri (intrinsik) yaitu dorongan yang datang dari hati, umumnya karena kesadaran akan pentingnya sesuatu. Dapat juga karena dorongan bakat apabila ada kesesuaian dengan bidang yang dipelajari.Motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik) yaitu dorongan yang datang dari luar diri (lingkungan) misalnya dari orangtua, guru, teman-teman, dan anggota masyarakat. Seseorang yang belajar dengan motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh, penuh gairah atau semangat dan sebaliknya.
Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilannya.Karena itu motivasi belajar perlu diusahakan terutama yang berasal dari dalam diri.

·         Cara Belajar
Cara belajar seseorang juga mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Belajar tanpa memperhatikan teknik dan faktor fisiologis, psikologis, dan ilmu kesehatan, akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan.
Ada orang yang sangat rajin belajar, siang dan malam tanpa istirahat yang cukup.Cara belajar seperti ini tidak baik.Belajar harus ada istirahat untuk memberi kesempatan kepada mata, otak serta organ tubuh lainnya untuk memperoleh tenaga kembali.
Selain itu, teknik-tenik belajar perlu diperhatikan bagaimana caranya membaca, mencatat, menggarisbawahi, membuat ringkasan, atau kesimpulan, apa yang harus dicatat dan sebagainya. Selain dari teknik-teknik tersebut, perlu juga diperhatikan waktu belajar, tempat, fasilitas, penggunaan media pengajaran dan penyesuaian bahan pelajaran.

b.      Faktor Eksternal (yang Berasal dari Luar Diri)

·         Keluarga
Faktor orangtua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan anak dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orangtua, besar kecilnya penghasilan, cukup atau kurang perhatian dan bimbingan orangtua, rukun atau tidaknya kedua orangtua, akrab atau tidaknya hubungan orangtua dengan anak-anak, tenang atau tidaknya situasi dalam rumah, semuanya itu turut mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak, di samping itu, faktor keadaan rumah juga turut mempengaruhi keberhasilan belajar.

·         Sekolah
Keadaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar.Kualitas guru, metode mengajarnya, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasilitas/perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan, jumlah murid per kelas, pelaksanaan tata tertib sekolah dan sebagainya.Semua ini terut mempengaruhi keberhasilan belajar anak.


·         Masyarakat
Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar. Jika di sekitar tempat tinggal keadaan mayarakatnya terdiri dari orang-orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya, baik, hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar dan sebaliknya.

·         Lingkungan Sekitar
Keadaan lingkungan tempat tinggal juga sangat penting dalam mempengaruhi prestasi belajar.misalnya bila bangunan rumah penduduk sangat rapat, akan mengganggu belajar.keadaan lalu lintas yang membisingkan, suara hiruk-pikuk orang disekitar, suara pabrik, iklim yang terlalu panas, semua ini akan mempengaruhi kegairahan belajar. sebaliknya, tempat yang sepi dengan iklim yang sejuk ini akan menunjang proses belajar.

D.    PERSYARATAN DALAM BELAJAR
      Syarat-syarat dalam belajar dapat ditinjau dari 2 sisi yaitu:
1.      Sisi Internal
Internal maksudnya adalah berasal dari dalam diri individu itu sendiri.Dimana harus adanya kemauan/hasrat ,usaha,konsentrasi dalam berfikir,ingatan,semangat, serta rasa ingin tahu yang besar dalam diri individu itu sendiri.

2.      Sisi Eksternal
Eksternal maksudnya adalah berasal dari luar diri individu itu sendiri.Dimana adanya hal yang menunjang dalam proses belajar yaitu harus ada sumber dan media belajar(buku,labtop,alat tulis,meja, kursi,guru,surat kabar,radio,televise, dan lain-lain).

E.     BELAJAR DAN KAITANNYA DENGAN PROSES PEMBELAJARAN
Belajar dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan. Keduanya saling berkaitan satu sama lain.
Belajar merupakan proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies), ketrampilan (skills), dan sikap ( attitudes).Sedangkan Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar.
Oleh karena pembelajaran merupakan upaya untuk memfasilitasi dan meningkatkan proses belajar maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat dengan hakikat, jenis, dan hasil belajar. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran.
Proses belajar tidak hanya terjadi di sekolah saja,tetapi juga bisa terjadi dalam interaksi sosial dalam lingkungan masyarakat.Proses belajar dan pembelajaran bisa terjadi dimana saja, dan kapan saja tidak dibatasi oleh jarak, ruang, dan waktu. Untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan dalam proses pembelajaran selain memperhatikan pendidik, peserta didik, dan sumber belajar, juga harus memperhatikan proses interaksi antara pendidik dan peserta didik, dan juga lingkungan belajar. Semuanya saling berkaitan satu sama lain

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia.dengan beljar,manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang.Semua aktifitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar.Kita pun hidup menurut hidup dan bekerja menurut apa yang telah kita pelajari.Belajar itu bukan sekedar pengalaman tetapi belajar adalah suatu proses,dan bukan suatu hasil.Karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integrative dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.
Belajar merupakan proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies), ketrampilan (skills), dan sikap ( attitudes).Sedangkan Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar. Oleh karena pembelajaran merupakan upaya untuk memfasilitasi dan meningkatkan proses belajar maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat dengan hakikat, jenis, dan hasil belajar. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran.




DAFTAR PUSTAKA

Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka cipta.
Djiwandono ,sri esti wuryani. 2002 .Psiikologi Pendidikan.Jakarta :
                Gramedia
Mustaqim,dkk.2010.Psikologi Pendidikan . Jakarta: Rineka cipta
Purwanto,M.ngalim.2010.Psikologi pendidikan.Bandung: Remaja
               rosda karya
Soemanto,Wasty.2006.Psikologi Pendidikan(landasan kerja
               pemimpin pendidikan). Jakarta. Rineka Cipta.
Uno,hamzah B. 2008.Orientasi baru dalam Psikologi  Pembelajaran.Jakarta: Bumi aksara