KETIKA BANYAK TULISAN BELUM MAMPU MEMUASKAN SYAHWAT MEMBACAMU, MAKA MENULISLAH DENGAN JALAN FIKIRANMU

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 04 Oktober 2013

Kriteria Tes Yang Baik

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Tes merupakan salah satu alat ukur guna mengukur keberhasilan proses dan hasil dari pembelajaran. Untuk itu sebagai mahasiswa calon guru (konselor) perlu memahami kriteria tes yang baik agar mampu menyusun tes yang baik pula. Tidak hanya mampu mengajar dan mendidik dengan baik, guru yang professional hendaknya mampu menyusun tes yang dapat mengukur keefektivan pembelajaran dan menilai kesuksesan dan pencapaian target pembelajaran itu sendiri. Tes yang baik yaitu tes yang memenuhi beberapa kriteria, yakni : validitas, reliabilitas, daya beda, objektifitas dan standardisasi.
Penulis mencoba untuk menjabarkan kelima kriteria tes yang baik tersebut diatas untuk menambah pemahaman penulis dan pembaca makalah yang berjudul “Kriteria Tes yang Baik” ini. Selain itu penulis juga mencoba untuk membuat perbandingan antara kriteria tes yang baik menurut Suharsimi arikunto dengan beberapa ahli lainnya.
1.2  Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1.      Untuk memenuhi tugas matakuliah ‘Assesmen Tes’
2.      Menjelaskan tentang validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran suatu test dan bagaimana cara mengukurnya.
3.      Dapat membuat perbandingan beberapa kriteria tes yang baik menurut beberapa ahli.
4.      Tujuan akhir dari pembuatan makalah ini diharapkan agar penulis dan pembaca mampu membuat dan menyusun tes yang baik.

BAB 2
PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis menyajikan kriteria tes yang baik berdasarkan buku Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan karangan Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. Adapun beberapa kriteria tyang akan dibahas adalah : validitas, daya beda, reliabilitas, objektifitas dan standardisasai.
2.1  Validitas
A test is valid if it measures what it purpose to measures (Scarvia B. Anderson, dalam Encyclopedia of Educational Evaluation). Artinya, sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Sebenarnya validitas ini bukan ditekankan pada tes itu sendiri, tapi pada hasil pengetesan atau skornya.
  Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman. Hal yang pertama akan diperoleh validitas logis, dan hal kedua diperoleh validitas empiris.
a.       Validitas Logis
Yaitu jika sebuah instrument evaluasi memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang karena sudah dirancang sacara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa validitas logis tidak perlu diuji kondisinya tetapi langsung diperoleh setelah instrument tersebut disusun.
Dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrument :
·         Validitas Isi
Kondisi sebuah instrument yang disusun berdasarkan isi materi pelajaran yang dievaluasi
·         Validitas Konstrak
Kondisi sebuah instrument yang disusun berdasarkan konstrak aspek-aspek kejiwaan yang seharusnya dievaluasi
b.      Validitas Empiris
Sebuah instrument dapat dikatakan memiliki validitas empiris  bila sudah diuji dari pengalaman. Validitas empiris tidak hanya diperoleh dengan menyusun instrument berdasarkan ketentuan seperti halnya validitas logis, tapi harus dibuktikan melalui pengalaman.
Dua cara yang dapat dilakukan untuk menguji bahwa sebuah instrument memang valid :
·         Instrument yang sudah tersedia dan yang belum ada tapi akan terjadi diwaktu yang akan datang (‘ada sekarang’/concurren validity)
·         Instrumen yang kondisinya sesuai dengan kriterium yang diramalkan akan terjadi (‘validitas prediksi’/predictive validity)

c.       Cara Mengetahui Validitas Alat Ukur
Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson (dalam Suharsimi Arikunto). Rumus Korelasi product Moment dengan simpangan :
rxy        =                 xy
                                                            (x2) (y2)
Dimana :
rxy = Koefisien korelasi antara variable X dan Variabel Y.
xy     = Jumlah perkalian X dengan Y
X2  = Kuadrat dari X
Y2  = kuadrat dari Y
2.2  Daya Beda
Daya beda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi (D).
Tiga titik daya pembeda yaitu :

-1,00                           0,00                              1,00

     Daya pembeda                    Daya pembeda           Daya pembeda tinggi
       Negative                                rendah                              (positif)


2.3  Reliabilitas
Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap atau seandainya hasilnya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti. Inilah yang dimaksud dengan reliabel.
Scarvia B. Anderson dalam buku Suharsimi arikunto menyatakan bahwa persyaratan bagi tes yaitu validitas dan reliabilitas ini penting. Sebuah tes mungkin reliabel tapi tidak valid. Sebaliknya, sebuah tes yang valid biasanya reliabel.
·         Cara mencari besarnya Reliabilitas
a.       Metode bentuk paralel (equivalent)
Adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesukaran dan susuan, tetapi butir-butir soalnya berbeda. Kelemahan dari metode ini adalah pengetes harus menyusun dua seri tes dan harus tersedia waktu yang lama untuk mencobakan dua kali tes.

b.      Metode tes ulang (test-retest method)
Metode ini dilakukan untuk menghindari penyusunan dua seri tes. Pengetes hanya memiliki satu seri tes tetapi dicobakan dua kali. Kemudian hasil dari kedua kali tes tersebut dihitung korelasinya.tenggang waktu antara pemberian tes pertama dan kedua jangan terlalu sempit dan jangan pula terlalu lama.
c.       Metode belah dua (Split-half method)
Dalam menggunakan metode ini pengetes hanya menggunakan sebuah tesdan dicobakan satu kali. Pada saat membelah dua dan mengkolerasikan dua belahan, baru diketahui separuh tes. Untuk mengetahui keseluruhan tes harus digunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut :
                                              2r1/21/2
                                    r11        =          (1+r1/1/2)


                Dimana :
r1/21/2      =   Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes.
r11           =    Koefisien reliabolitas yang sudah disesuaikan.
2.4  Objektifitas
Objektif berarti tidak ada unsur yang pribadi yang mempengaruhi. Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam pelaksanaan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhinya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan pada sistem skoring, sedangkan reliabilitas menekankan pada ketetapan dalam hasil tes.
Ada dua faktor yang mempengaruhi subjektifitas dari suatu tes, yaitu :
1.      Bentuk tes
Tes yang berbentuk uraian akan member banyak kemungkinan pada si penilai untuk member penilaian menurut caranya sendiri. Untuk itu dapat diminimalisir dengan membuat pedoman skoring terlebih dahulu.
2.      Penilai
Faktor yang dapat mempengaruhi subjektivitas antara lain : kesan penilai terhadap siswa,tulisan, bahasa, waktu mengadakan penilaian, kelelahan dan sebagainya. Maka penilaian atau evaluasi harus dilakukan dengan mengingat pedoman penilaian.
2.5    Standardisasi
Pengertian tes standar secara sempit adalah tes yang disusun oleh satu tim ahli, atau disusun oleh lembaga yang khusus menyelenggarakan secara professional. Tes tersebut diketahui memenuhi syarat sebagai tes yang baik.  Yakni diketahui validitas dan reliabilitasnya baik validitas rasional maupun validitas empirik, reliabilitas dalam arti teruji tingkat stabilitas, maupun homoginitasnya.
Istilah ‘standar’ tidak mengandung arti bahwa tes itu menyiapkan suatu standar prestasi dimana siswa harus dan dapat mencapai suatu tingkat tertentu. Penyusunan tes standar selalu mengusahakan agar sistem skoringnya sangat objektif sehingga diperoleh reliabilitas yang tinggi. Apabila mungkin dilakukan dengan mesin, hal ini tidak berarti bahwa bentuk tes standar harus selalu pilihan berganda. Tapi untuk skoringnya diusahakan agar tidak terkena bias faktor-faktor lain.
Untuk menyusun tes standar dibutuhkan waktu yang lama. Karena untuk memperoleh sebuah tes yang standar melalui prosedur :
·         Penyusunan
·         Uji coba
·         Analisis
·         Revisi
·         Edit

BAB 3
PERBANDINGAN
3.1 Validitas
Dari beberapa referensi yang penulis dapatkan baik dibeberapa blog maupun dalam buku-buku lainnya diantaranya : Metode Research (Penelitian Ilmiah), karangan  Prof Dr. S. Nasutionn, M.A. menarik sekali karena buku tersebut memuat definisi validitas yang nyaris sama dengan Suharsimi Arikunto, yakni ‘mengukur apa yang hendak diukur’.
Begitu pula dengan beberapa blog yang didapati oleh penulis, diantaranya : Jawharie.Blogspot.com, Deswin Purple.blogspot.com yang sepakat dengan Suharsimi Arikunto yang menjadi bahan rujukan makalah ini.
Namun penulis menemui perbedaan dalam buku Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif yang juga merupakan karangan Prof Dr. S. Nasution, M.A. beliau menyebutkan bahwa validitas membuktikan apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dalam kenyataan. Namun setelah penulis menelaahnya lebih jauh, tujan dari kalimat tersebut adalah sama, hanya saja dalam buku ini Nasution  lebih menekankan pada penelitian naturalistik.
Selain itu, jika Suharsimi arikunto menyebutkan bahwa secara garis besar terdapat dua macam validitas, yaitu validitas logis dan validitas empiris. Maka lain halnya dengan Nasution yang justru menyebutkan bahwa validitas alat ukur dapat diselidiki dengan Logika dan statistik. Tapi untuk macam-macam Validitas  Suharsimi Arikunto dan Nasution sama-sama  menyebutkan :
1.      Validitas isi
2.      Validitas Konstruksi
3.      Validitas Prediksi / prediktif
4.      Concurrent validity (hanya ada pada Suharsimi saja)

3.2  Daya Beda
Untuk daya beda penulis tidak menemukan bahwa salah satu kriteria tes yang baik adalah mempunyai daya beda. Bahkan dalam buku Suharsimi Arikunto sendiri justru memasukkan daya beda kedalam masalah yang berhubungan dengan analisis butis soal. Hal ini juga sedikit membingungkan lantaran dalam silabus matakuliah Assesmen Tes justru memasukka daya beda kedalam salah satu kriteia tes yang baik, namun daya beda juga didapati penulis dalam blog dengan alamat Jawharie.blogspot.com.
Hal ini juga dipahami penulis bahwa salah satu kriteria tes yang baik adalah tes tersebut mampu membedakan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Sehingga hasil yang diperoleh oleh setiap siswa tidaklah sama mengingat kemampuan mereka yang berbeda-beda.
3.3 Reliabilitas
Suharsimi Arikunto membahas reliabilitas dalam bab khusus tentang reliabel, sementara Nasution dalam Metode Research menggabungkan Validitas dan Reliabilitas dalam bab yang sama. Namun baik Suharsimi Arikunto maupun Nasution mempunyai penjelasan yang sama berkenaan dengan reliabilitas, meski dengan kalimat yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa suatu alat ukur dikatakan reliabel jika alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu yang berlainan senantiasa menunjukkan hasil yang sama (tetap), kalaupun mengalami perubahan, maka perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti.
Definisi serupa juga penulis dapatkan dari beberapa blog lain, diantaranya ZadrianArdi.blogspot.com dan Deswin Purple.blogspot.com.

3.4  Objektivitas

Tidak ada perbandingan yang penulis dapati dalam kriteria Objektivitas ini, dari beberapa referensi yang telah penulis sebutkan hampir semuanya sepakat bahwa yang dikatakan bahwa tes yang objektif adalah tes yang apabila dalam melaksanakan tes tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi terutama dalam sistem skoringnya.
Faktor yang mempengaruhi subjektivitas dari suatu tes juga terdapat dua faktor, yaitu bentuk tes dan penilai (deswin purple.blogspot.com)
3.5  Standardisasi
Sama halnya dengan daya pembeda, dalam referensi yang didapati penulis standardisasi juga sebenarnya tidak dimasukkan kedalam kriteria tes yang baik. Suharsimi Arikunto justru membahas dalam bab lainnya dengan pembahasan tes standar. Setelah menjelajahi beberapa blog di internet penulis juga tidak dapat menemukan tulisan yang memuat standardisasi kedalam salah satu kriteria tes yang baik.
Standardisasi Justru dibahas secara terpisah dalam bab Tes standar dan tidak standar. Namun penulis juga setuju bahwa standardisasi merupakan salah satu dari sekian banyak kriteria tes yang baik. Karena bagaimanapun juga tes yang baik hendaknya mempunyai standar tersendiri, terutama dalam pedoman penskoran agar terhindar dari sifat subjektif peneliti yang justru akan mengacaukan tes itu sendiri.
·         Dari beberapa pendapat para ahli yang penulis sebutkan dapat dilihat bahwa tidak ada hal yang sangat bertentangan antara yang satu dengan yang lain, justru para ahli saling melengkapi dalam merumuskan kriteria tes yang baik sehingga dapat menjadi acuan bagi penulis dan pembaca dalam membuat tes yang baik nantinya.
BAB 4
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
·         Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Sebenarnya validitas ini bukan ditekankan pada tes itu sendiri, tapi pada hasil pengetesan atau skornya.
·         Daya beda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.
·         Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap atau seandainya hasilnya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti.
·         Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam pelaksanaan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhinya. Objektivitas menekankan ketetapan pada sistem scoring.
·         Penyusunan tes standar (standardisasi) selalu mengusahakan agar sistem skoringnya sangat objektif sehingga diperoleh reliabilitas yang tinggi.


Cinta dan Perkawinan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari manusia, sudah lama tertarik dengan konsep cinta (misalnya Eric Fromm dan Maslow) karena manusia satu-satunya makhluk yang konon dapat merasakan cinta. Hanya saja masalahnya, sebagai sebuah konsep, cinta sedemikian abstraknya sehingga sulit untuk didekati secara ilmiah. Dalam tulisan ini, saya memilih teori seorang psikolog, Robert Sternberg, yang telah berusaha untuk menjabarkan cinta dalam konteks hubungan antara dua orang.
Cinta di kategorikan sebagai hal yang sangat lumrah. Sehingga dia membutuhkan proses pencapaian pada titik terakhir. Dalam hal ini adalah perkawinan. Pada nantinya akan membentuk suatu hubungan yang harmonis diantara kedua pasangan dan bagi keluarga masing-masing individu.

1.2  Tujuan


Adapun tujuan yang hendak di capai dalam pembahasan makalah ini adalah :
a.       Mengetahui pengertian dari cinta dan perkawinan
b.      Faktor penyebab seseorang mencintai orang lain
c.       Tiga aspek cinta
d.      Cinta dalam sebuah perkawinan



BAB II

PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Cinta dan Perkawinan

Menurut Sternberg, cinta adalah sebuah kisah,  kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.
Sternberg terkenal dengan teorinya tentang segitiga cinta. Segitiga cinta itu mengandung komponen: (1) keintiman (intimacy), (2) gairah (passion) dan (3) komitmen.
Keintiman adalah elemen emosi, yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan. Ciri-cirinya antara lain seseorang akan merasa dekat dengan seseorang, senang bercakap-cakap dengannya sampai waktu yang lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu, dan ada keinginan untuk bergandengan tangan atau saling merangkul bahu.
Gairah adalah elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual. Gairah merupakan elemen fisiologis yang menyebabkan seseorang ingin dekat secara fisik, merasakan dan menikmati sentuhan fisik, ataupun melakukan hubungan seksual dengan pasangan hidupnya.
Komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama. Komitmen yang sejati adalah komitmen yang berasal dari dalam diri, yang tidak akan luntur walaupun menghadapi berbagai rintangan dan ujian yang berat dalam perjalanan kehidupan cintanya. Adanya rintangan dan godaan justru menjadi pemicu bagi masing-masing individu untuk membuktikan ketulusan cintanya. Komitmen akan terlihat dengan adanya upaya-upaya tindakan cinta (love behavior) yang cenderung meningkatkan rasa percaya, rasa diterima, merasa berharga dan merasa dicintai. Dengan demikian, komitmen akan mempererat dan melanggengkan kehidupan cinta sampai akhir hayat. Kematianlah yang memisahkan hubungan cinta tersebut.

2.2 Faktor penyebab seseorang mencintai orang lain

Para ahli psikologi,khususnya para ahli psikologi social,melakukan kajian tentang cinta terkait dengan perilaku menyukai atau tertaerik orang lain dalam konteks upaya menjalin hubungan di antara dua pribadi.dalam hal ini seseorang mencintai orang lain karena dalam proses interaksi di antara dua pribadi dimulai dari seseorang memiliki ketertarikan dengan orang lain.pengetahuan psikologi social tentang kemenarikan interpersenol dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemenarikan interpersonal secara lebih dan pada kesempatan berikutnya itu dapt meningkatkan kualitas hidup ( Yela,2004)
Dalam konteks ini,seseorang menyukai atau tertarik dengan orang lain untuk menjalin hubungan khusus dengan orang lain itu disebabkan oleh beberapa faktor:

2.2.1 Kedekatan

Para ahli sosiologi menyimpulkan bahwa banyak orang berhubungan atau menikah dengan pasangannya karena mereka bertemu di sekitar wilayah hidupnya.dalam hal ini,orang tertarik dengan orang lain karena secara frekuensi mereka banyak berinteraksi dengan orang lain dalam wilayah hidup yang sama.contoh orang tertarik dengan orang lain dan kemudian menjalin hubungan interpersonal khusus dengan orang lain tersebut dapat dicontohkan dengan orang-orang yang menjadi pasangan suami dan istri karena mereka hidup dalam
kompleks perumahan yang sama,mereka kuliah pada jurusan yang sama,dan mereka beraktivitas dalam organisasi yang sama.


2.2.2 Kemenarikan Fisik

Kemenarikan fisik dapat menjadi factor penentu seseorang mencintai orang lain dan kemudian menjalin suatu hubungan cinta. hal ini terutama terjadi pada pria.banyak pria tertarik pada wanita karena penampilan fisik yang menarik,sedangkan wanita lebih tertarik pada pria karena penampilan kepribadiannya.ini terbukti dengan banyak fakta menunjukankan bahwa wanita cantik lebih mudah memeperolah teman kencan ketimbang pria yang berwajah tampan.selain penjelasan itu,pemilihan pasangan berdasarkan cirri-ciri fisik juga terkait dengan prinsip keseimbangan diantara kedua belah pihak dan stereontip tentang penampilan menarik seseorang yang ada dalam masyarakat.
            Dalam kaitan dengan konsep stereotip, seseorang dianggap cantik atau ganteng lebih karena masyarakat memiliki gambaran umum tentang ideal cantik dan ganteng dalam satu periode waktu tertentu dan untuk keleompok masyarakat tertentu.misalkanya,streotip wanita cantik pada periode 2000-an dalam gambaran masyarakat Indonesia adalah perempuan yang berkulit putih,rambut sebahu,dan tubuh langsing.fenomena stetreotip wanita cantik 2000-an ini dapat ditemui dalam pembicaraan sehari-hari di kalangan public dan media massa ( televisi. dan majalah)

2.2.3 Kesamaan dan kebutuhan saling melengkapi   

Seseorang menyukai atau mencintai orang lain bisa  karena ia memiliki kesamaan atau keserupaan dengan orang lain.banyak pasangan yang memiliki kesamaan dalam nilai,keyakinan,sikap,dan perilaku,lebih memiliki kesempatan untuk menjalani hidup perkawinan yang bahagia.
Namun dalam kasus-kasus lain, kita juga banyak menjumpsi orang mencintai dan menjalin hubungan dengan orang lain yang memiliki banyak perbedaan dibanding dirinya.fenomena ini dapat dijelaskan dari sudut pandang teori komplementer.seseorang tertarik dengan orang lain yang banyak memiliki perbedaan disbanding dirinya karena karena ia merasa bahwa orang lain itu memiliki kelebihan yang dapat melengkapi kekurangan pada dirinya.contoh: pria yang introvert memilih untuk menikah dengan wanita yang ekstrovert atau pria yang tubuhnya tidak terlalu tinggi akan memiliki wanita dengan tinggi tubuh yang cukup tinggi untuk mrenjadi pasangan hidupnya.
Seseorang mencintai orang lain yang mencintain dirinya karena apabila seseorang dicintai oleh orang lain maka terdapat semacam proses psikologis dimana seseorang merasa dirinya mendapat hadian (ganjaran) karena memperoleh cinta itu.ini sesuai dengan teori kebutuhan  Abraham maslow yang menyatakan bahwa manusia perlu atau ingin dicintai dan mencintai.apabila seseorang dicintai oleh orang lain maka seseorang akan merasa dihargai,terjadi peningkatan penilaian diri,merasa dirinya menarik ,dan merasa memperoleh penerimaan social.

2.2.4 Keuntungan yang diperoleh dari suatu hubungan

Berdasarkan pada teori pertukaran social yang mengacu pada hubungan yang bersifat timbale-balik maka orang akan mencintai orang lain karana orang lain itu memeberikan banyak keuntungan yang signifikan keoada dirinya.keuntungan itu dapat bersifat fisik.psikologis,material,dan sprotual.apabila matriks keuntungna timbla balik menjadi tidak seimbang maka ada kecenderungan suatu hubungan interpersonal mengalami kerengggangan dan akhirnya berhenti.dalam kehidupan sehari-hari,banyak laki-laki  memilih wanita cantik sebagai pasangannya karena merasa mendapat keuntungan berupa kebanggaan dapat bersama wanita cantik.di lain pihak wanita cantik lebih memilih laki-laki yang memiliki status social ekonomi lebih tinggi karena banyak alas an yang menguntungkan dirinya secara social dan ekonomi.

2.3 Tiga Aspek Cinta

a.         Keintiman
Keintiman adalah suatu konsep yang mengacu pada persaan kedekatan atau persaan keterhubungan di antara dua orang.perasaan-perasaan itu seperti fenomena seseorang memikirkan kesejahteraan orang lain,pemahanman timbale balik dengan orang lain,dan kemampuan berbagi (sharing) dengan orang lain.dalam keintiman,orang yang melakukan interaksi social pada siatu hubungan cinta menjadi saling memahami di antara kedua belah pihak dan terdapat fenomena kehangatan afeksi diantar kedua belah pihak ( Baumgardner & Clothers,2010).
b.         Kegairahan, adalah sumber pembangkitan (arousal) yang mengacu pada keterbangkitan fungsi emosi dan fungsi biologis yang kuat.

c.         Komitmen
Komitmen adalah suatu konstuk psikologis yang berhubungna dengan keputusan tentang keterikatan seseorang dengan orang lain dalm suatu hubungan.komitmen adalah keputusan rasional untuk berada dalam suatu hubungna dengan orang lain dalm jangka waktu tertentu.fenome komitmen dapat dilihat pada persaan mengagungkan suatu hubungna dan memiliki keinginan melaksanakan upaya-upaya pemeliharaan suatu hubungna (Baumgardner & Clothers,2010)komitmen dapat dibagi menjadiu dua,yaitu komitmen jangka pendek dan komitmen jangka panjang.pengertian komotmen jangka pendek terjadi apabila seseorang membuat keputusan bahwa ia mencintai orang lain.komitmen jangka panjang terjadi apabila seseorang membuat keputusan untuk memelihara cinta kepada orang itu.

2.4 Cinta dalam Sebuah Perkawinan

Umumnya apabila orang menjalin hubungan cinta maka hubungan itu kemudian bermuara pada sebiah komitmen menuju perkawinan.Bamister dan Leary menjelaskan bahwa manusia memiliki “ kebutuhan dasar untuk memiliki” dapat diwujudkan melalui kehidupan perkawinan.”kebutuhan dasar untuk memiliki”dalam kehidupan perkawinan terwujud dalam hubungan yang stabil di antara suami dan istri.
Pemenuhan kebutuhan dasra dalam sebuah kehidupan perkawinan tersebut kemudian memicu terbentuknya kebahagiaan dalam diri seseorang. Hal itu terjado karena dalam kehidupan perkawiana terdapat potensi memberikan kehadiran eksistensi pertemanan(friendship),keintiman,cinta,afeksi,dan dukungan social pada saat seseorang mengalami situasi krisis.selain itu,perkawinan juga memnberi kesempatan kepada seseorang untuk mengalami perkrmbangan personal (personal growh) dan perkembangan potensi baru.
mampu meningkatka penghargaan diri ( self esteem) dan kepuasaan diri (dalam Baumgardner & Clothers,2010).
Perkawinan yang berhasil merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan seseorang.Baumgardner dan clothers (2010) menjelaskan bahwa keberhasilan perkawinan merupakan salah satu penyumbang penting bagi terjadinya penguatan kesehatan individu dan kebahagiaan individu.
Fakta menunjukan bahwa gejala perceraian dalam budaya barat maupun di Indonesia terus mengalami peningkatan. Tanpa mengabaikan perspektif gender,salah satu sebab perceraian itu disebabkan karena semakin banyaknya wanita bekerja.semakin banyak wanita bekerja semakin besar kemungkinan terjadinya perceraian (Myers,2002).fakta lain menunjukan bahwa dalam budaya individualistic tingkat percerian lebih tinggi disbanding dalam budaya kolektivistik.
Penelitian psikologi positif tentang perkawinan yang berbahagia oleh Lauer dan Lauer tahun 1985(dalam Baumgardner dan Clothers,2010) terhadapa pasngan yang telah menikah 15 tahun atau lebih menunjukan bahwa pertemenan(friendship) dan komitmen merupakn factor utama terjadinya perkawinan yang bahagia.dalam hal ini,pertemanan sangat erat dan mendalam menjadi alas an utama pasngan suami dan istri untuk tetatp hidup dalam ikat perkawinan.dalam penelitian ini pasangan suami dan istri yang berbahagia tersebut memberikan penjelasan bahwa pasangan mereka adalah teman terbaik bagi mereka.
Pangan perkawinan yang berbahagia memiliki pendapat bahwa komitmen yang kuat dan berjangka waktu lama merupakan fundamen yang bagus untuk melestarian sebuah perkawinan yang berbahagia memecahkan maslah perkawinan mereka secara baik dan berkelanjutan.
Selain factor pertemanan dan factor komitmen, factor humor juga memiliki kontribusi yang kuat bagi terciptanya perkawinan yang berbahagia. dalam kehidupan perkawianan kenikmatan perkawinan dapat diperoleh melaui tertawa bersama sebagai konsekuensi dari tindakan humor. berdasarkan pada rasional semacam ini,tidak heran banyak orang menseleksi orang lain sebagai calon pasangan terkait dengan kualitas perasaan humor yang dimiliki oleh seseorang.
Selain itu, humor juga mampu mendetoksi atau menetralkan konflik anatara suami dan istri dan sekaligus menyembuhkan stress akibat konflik dalam suatu hubungan perkawinan.lebih lanjut,humor juga membuat suami dan istri untuk saling berbagi (sharing) hal-hal yang sangat personal dalam diri mereka.dal hal ini tertawa menggambarkan reaksi emosional alamiah mak orang akan mengalami kesulitan untuk mencoba mengelabui orang lain pada saat tertawa.perilaku tertawa yang bersifat alamiah adalah ekspresi jujur darp persaan sebenarnya dalam diri seseorang.(Baumgardner &clothers,2010)
Terkait dengan fenomena humor dalam sebuah perkawinan,ternyata kesamaan juga berlaku terkait dengan humor yang ada di antara suami dan istri.kesamaan dalam selera humor dapat diafirmasi sebagai basis bagi daya tarik awal dari orang lain yang berinteraksi dengan seseorang.oraang meresa bahwa apabila ia mampu berbagi humor dengan orang – orang tertentu maka ia juga merasa mampu berbagi nilai,keyakinan,dan kualitas yang lain dengan orang-orang tertentu itu.hai ini juga dapat terjadi dalam hubungan suami dan istri pada sebuah perkawinan.

BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Cinta merupakan kekuatan yang mampu menarik dua orang dalam satu ikatan yang tidak terpisahkan, yang dinamakan perkawinan. Dengan kata lain, perkawinan akan kuat ketika dilandasi oleh cinta. Hatfield (dalam Lubis, 2002) menyatakan bahwa ada dua macam cinta diantara pasangan dalam perkawinan, yaitu passionate love dan companiate love. Pemenuhan kebutuhan dasra dalam sebuah kehidupan perkawinan tersebut kemudian memicu terbentuknya kebahagiaan dalam diri seseorang. Hal itu terjado karena dalam kehidupan perkawiana terdapat potensi memberikan kehadiran eksistensi pertemanan(friendship),keintiman,cinta,afeksi,dan dukungan social pada saat seseorang mengalami situasi krisis.selain itu,perkawinan juga memnberi kesempatan kepada seseorang untuk mengalami perkrmbangan personal (personal growh) dan perkembangan potensi baru mampu meningkatka penghargaan diri ( self esteem) dan kepuasaan diri (dalam Baumgardner & Clothers,2010).

3.2 Saran

Mencari pasangan bukanlah hal yang mudah. Perihal harus mempertimbangkan berbagagai macam hal. Tetaplah Cinta dan perkawinan haruslah sama-sama menjadi tolok ukur dalam menentukan pilihan dan terjalin hubungan yang harmonis.Mencari pasangan bukanlah hal yang mudah. Perihal harus mempertimbangkan berbagagai macam hal. Cinta dan perkawinan haruslah sama-sama menjadi tolok ukur dalam menentukan pilihan dan terjalin hubungan yang harmonis. Tetaplah berdoa, berusaha, dan berkaca.

 

DAFTAR PUSTAKA


Lubis, Yati Utoyo. 2002. Aspek psikologis dari poligami: Telaah kasuistik. Makalah Seminar.
Papalia; Olds & Feldman. 1998. Human development (7th ed.). Boston: McGraw Hill
Santrock, J.W. 2002. A Topical approach to life-span development. Boston: McGraw Hill.

Waite, L.J. & Gallagher, M. 2003. Selamat menempuh hidup baru: Manfaat perkawinan dari segi kesehatan, psikologi, seksual, dan keuangan. Diterjemahkan oleh: Eva Yulia Nukman. Bandung: Mizan Media Utama.

10 TEORI SEGITIGA BERMUDA


Asal kata Segitiga Bermuda, seperti yang kita sebut hari ini, diciptakan oleh penulis Vincent Gaddis pada tahun 1964 ketika ia menulis sebuah cerita sampul untuk majalah Argosy tentang menghilangnya Penerbangan 19 secara misterius. Juga dikenal sebagai ‘Segitiga Setan’ atau ‘Pulau Setan’,
Menurut banyak ilmuwan hari ini, bagaimanapun batas-batas misteri itu didefinisikan antara fantasi dan fiksi. Segitiga Bermuda sangat dikenal sebagai tempat dimana kapal-kapal dan pesawat telah menghilang secara lebih misterius , tapi mengapa?
Berikut adalah sepuluh alasan yang banyak diyakini orang tentang Segitiga Bermuda dengan reputasi sebagai pusat cerita misteri, seperti tentang penculikan mahluk asing, kapal hantu, monster laut, portal waktu, dan kegilaan serta kekacauan lainnya.

1.      Sisa teknologi dari kota Atlantis yang hilang
Dari berbagai klaim tentang Segitiga Bermuda, salah satu dugaan adalah bahwa tempat itu adalah lokasi kota Atlantis yang hilang. Edgar Cayce meramalkan bahwa pada tahun 1968 arkeolog akan menemukan pintu masuk ke kota Atlantis tenggelam di dekat Bimini di Segitiga Bermuda. Pada saat itu batu yang membentuk dinding ditemukan terbenam secara disengaja di sebuah pulau di Bahama dan banyak yang beranggapan ini adalah bukti dari kota Atlantis yang hilang. Menurut legenda, kota Atlantis mempunyai pembangkit energi dari kristal dimana sampai hari ini masih mengirimkan gelombang energi, karena lokasi kristal yang terkubur di bawah laut yang menyebabkan kapal dan pesawat akan terganggu pada peralatan navigasinya. Teori konspirasi hari ini juga berspekulasi tentang sebuah pangkalan militer di bawah air yang dikenal sebagai Underwater Area 51, salah satu alasan untuk misteri di Segitiga Bermuda.

2.      Mesin Waktu
Teori ini masuk di nomor 9 karena kurangnya bukti yang serius. Beberapa laporan mengatakan bahwa sebanyak 1.000 jiwa telah hilang dalam 500 tahun terakhir dan bahwa lebih dari 50 kapal dan 20 pesawat telah hilang dalam 1 abad terakhir. Angkatan Laut AS dan Coast Guard mengatakan ada bukti kegiatan yang tidak biasa di daerah tersebut. Lalu apakah ada hubungannya dengan perjalanan waktu? Dugaan ini masih luas beredar di kalangan masyarakat dunia. Namun, ada yang berpikir Segitiga Bermuda memiliki ‘lubang biru’ dianggap sisa-sisa lubang cacing dimana alien lintas dimensi melakukan perjalanan ke Bumi.



3.      Penculikan Oleh Alien
            Teori Penculikan Alien di segitiga bermuda ada di nomor 8 karena teori itu begitu populer namun sepertinya tidak mungkin. Kecelakaan ‘misterius’ di daerah itu meningkat pada tahun 1967 dengan press release oleh National Geographic Society merinci fenomena aneh di dalam dan sekitar Segitiga. Tentu saja penculikan alien bukan dugaan, tapi orang-orang segera mulai mengisi kekosongan dengan penjelasan seperti alien mengganggu peralatan navigasi untuk menculik orang. Kabut psikedelik tahun enam puluhan mulai diangkat sebagai isu saat orang-orang pindah ke 70-an, tetapi gagasan alien berlanjut lama setelah tahun 60-an menjadi memori transendental.
Sebuah pencarian besar di darat dan laut dilakukan untuk menemukan 5 torpedo bomber Angkatan Laut yang menghilang saat melakukan penerbangan rutin serta pesawat penyelamat yang hilang setelah dikirim untuk mencari kru yang hilang. Penerbangan 19 terdiri dari 13 awak, dan sampai sekarang korban dan puing-puing pesawat tidak pernah diketemukan, termasuk pesawat penyelamat yang terdiri dari 14 orang lainnya yang bermaksud menjadi tim pencari.

4.      Serangan yang disengaja untuk menghancurkan
Jauh lebih masuk akal, meski jauh lebih tragis, adalah serangan yang disengaja untuk penghancuran. Meskipun dalam penerbangan 19 tadi, tidak ada bukti untuk dugaan bahwa pesawat hilang karena serangan yang disengaja, banyak yang percaya ini adalah alasan bagi banyak pesawat dan kapal hilang lainnya di daerah Segitiga Bermuda. Tindakan penghancuran sengaja mencakup tindakan perang dan pembajakan. Catatan dalam file musuh selama Perang Dunia telah mendokumentasikan banyak kerugian, dan orang-orang yang tidak tercatat, banyak yang diasumsikan telah tenggelam oleh salah satu perampok permukaan atau kapal selam. Pembajakan oleh Bajak laut, perompak, atau bahkan penyelundup obat bius. Sampai hari ini banyak catatan peristiwa tentang hilangnya kapal karena pembajakan di laut terbuka meskipun Kapten Blackbeard si bajak laut legendaris itu sudah lama tiada

5.      Gas Metan
Salah satu Penjelasan tentang segitiga bermuda sebagai laut pemangsa misterius adalah Gas Metan. Teori ini telah difokuskan pada kehadiran bidang besar gas alami yang disebut metana. Percobaan laboratorium telah membuktikan bahwa gelembung metana memang bisa menenggelamkan kapal dengan mengurangi kepadatan dari air dengan puing-puing dasar laut dan busa yang sangat mungkin untuk naik ke permukaan untuk kemudian dengan cepat menggulingkan kapal.
Teori ni memiliki bukti tambahan dengan peristiwa letusan ‘gunung lumpur’ yang dapat menghasilkan air berbusa yang tidak lagi mampu memberikan daya apung yang memadai untuk kapal, menyebabkan mereka tenggelam sangat cepat tanpa peringatan.
Telah diketahui dari percobaan bahwa gas metana juga dapat mempengaruhi pesawat serta kapal. Publikasi oleh USGS menjelaskan tentang persediaan besar hidrat bawah laut di seluruh dunia. Tetapi menurut dokumen lainnya, tidak ada rilis besar gas yang diyakini telah terjadi di Segitiga Bermuda selama 15.000 tahun terakhir.
6.      Medan Magnet
Kecelakaan aneh di Segitiga Bermuda telah dikaitkan dengan bukti masalah kompas dan navigasi, membuat bidang geomagnetik sebagai kasus nyata, dan teori masuk akal untuk penghilangan yang terjadi di Bermuda. Masalah dengan peralatan magnetik dari medan geomagnetik adalah 5 dari sepuluh alasan utama Segitiga Bermuda menjadi begitu membingungkan. Banyak teori bahwa ada anomali magnetik di daerah tersebut dan bahwa wilayah ini termasuk salah satu dari hanya dua tempat di bumi di mana kutub utara dan magnet utara membujur yang dapat menhasilkan bervariasi hasil pada peralatan navigasi.
Dalam kaitannya dengan teori ‘kabut elektronik’ oleh Rob MacGregor dan Bruce Gernon, badai elektromagnetik yang kuat dari dalam bumi menembus ke permukaan dan datang ke atmosfir, lalu meninggalkan kabut di belakangnya.

7.      Variasi Arus Teluk
Arus Teluk hampir seperti sebuah sungai dalam laut yang berasal dari Teluk Meksiko dan mengalir melalui Selat Florida ke Atlantik Utara. Ini mencakup 40 sampai 50 mil luas  wilayah dan dapat membawa puing-puing hingga kecepatan permukaan 5,6 mil per jam untuk 2-4 simpul arus dan hal ini tergantung pada pola cuaca. Arus Teluk dapat dengan mudah memindahkan pesawat atau kapal tentunya, dan selanjutnya, Segitiga Bermuda termasuk sebagai beberapa palung laut terdalam di dunia, yang terdalam mendekati hampir 10.000 meter di bawah laut. Kapal tetap sangat mungkin ditelan oleh laut ke parit jika tidak oleh arus. Tanpa diduga gelombang tinggi juga telah dilaporkan hingga delapan puluh meter di luar Arus Teluk, menambah sulitnya mencari kapal dan pesawat hilang di laut.

8.      Gelombang dan Perubahan Cuaca yang Cepat
            Badai Karibia Atlantik menghasilkan cuaca tak terduga dan pusaran air dalam area Segitiga Bermuda menjadi salah satu penyebab terbesar misteri lenyapnya kapal dan pesawat di Segitiga Bermuda.
Menurut Norman Hooke yang bekerja untuk Lloyd’s Maritime Information Services di London, “Semua kecelakaan hanya akibat cuaca yang buruk.” Badai destruktif di daerah tersebut terdokumentasi dengan baik begitu juga dengan gelombang besar yang tiba-tiba menenggelamkan kapal. Penelitian satelit terbaru telah membuktikan satu gelombang tunggal mencapai setinggi 80 kaki atau lebih tinggi di daerah laut terbuka.

9.      Human Error
Disorientasi spasial dan kebingungan sensorik, jarang dilakukan pilot tetapi menjadi alasan yang nyata untuk kecelakaan pesawat terbang (87 % disebabkan human eror). Juga fakta bahwa Segitiga Bermuda menjadi daerah yang ramai lalu lintasnya, daripada di daerah lain, menyebabkan kecelakaan lebih banya terjadi. Kesalahan manusia kemungkinan besar nomor satu yang menjadi penyebab kematian di bermuda tapi ada sesuatu yang lebih besar yang mungkin yang menjadi penyebab dari segala spekulasi.

10.  Mitos dan Ramalan
Satu-satunya penjelasan adalah tidak ada penjelasan, Segitiga Bermuda didasarkan pada takhayul oleh imajinasi manusia abad ke-20 menjadi kecenderungan banyak orang condong percaya pada misteri di segitiga bermuda. Sebagai contoh kita akan mengambil klaim tua tentang dongeng pelaut, legenda dan bahkan catatan oleh Christopher Columbus pada daerah tersebut memiliki, “Lampu aneh yang menari-nari di cakrawala, api di langit dan kompas aneh,” dan tambahan-tambahan lainnya yang memperindah dan menambah misteri.
Hari ini diyakini bahwa apa yang Columbus amati sebagai api yang menari-nari ternyata adalah ulah suku primitive Taino yang sedang memasak / menyalakan api di atas kano mereka di dekat pantai. Pembacaan kompas yang kacau karena adanya salah perhitungan dari gerakan bintang tertentu, dan api di langit itu sebenarnya adalah meteor jatuh ke bumi yang mudah dilihat saat di laut.
Menurut Kamus skeptis, banyak bencana yang diklaim telah terjadi di daerah itu sebenarnya tidak terjadi di Segitiga Bermuda dan misteri sebenarnya adalah mengapa segitiga Bermuda bisa dianggap sebagai Laut yang misterius. Hari ini meskipun daya pikat misteri di segitiga bermuda telah terungkap dan dipatahkan oleh banyak penjelasan ilmiah oleh peneliti  dan ilmuwan yang kredibel di bidangnya, namun cerita misteri tentang Bermuda tetap ada di hati banyak orang. Mungkin karena orang membutuhkan sekedar mitos fiksi untuk sisi imajinasi manusia yang tak terbatas.