KETIKA BANYAK TULISAN BELUM MAMPU MEMUASKAN SYAHWAT MEMBACAMU, MAKA MENULISLAH DENGAN JALAN FIKIRANMU

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 21 Maret 2014

PUISI-PUISI

SENDIRI

Dan kegirangan beringsut dengan sendirinya
Menerawang arahnya sendiri
Beranjak pergi bersama matahari yang lelah menatap hari

Disini, aku sendiri
Mengaduk emosi
Diam dalam kebisuan yang tak bertepi

Sampai kini
Hati ini masih setia pada pilihannya;
Sendiri

Sebab aku menyadari
Bidadari hanya dongeng dan tak mampu datang
Untuk mengaminkan kenyataan



SENJA
Bila senja menyapa
Matahari manyun malu-malu terkulum cakrawala
Di bibir pantai alam menyulam romantismenya
Cerah berubah remang
Kesepian mengundang 1001 tanda tanya
Bila senja menyapa
Birunya langit berganti jingga
Burung-burung terbang sejajar
Menghitung awan yang mulai tak tampak
Bila senja menyapa
Sebuah perpisahan akan hari dan undangan untuk sang gelap; malam
Bila senja menyapa
Alam bisu dalam kedamaian
Sunyi menyepi
Indah tak terkira
Oh senja, hadirmu selalu saja menawan.

AYAH

Tatapanmu adalah bicara
Gerakmu menjadi petuah
Engkau manusia sederhana
Tak banyak berucap
Namun sesekali engkau bertutur ialah petuah
Ayah
Memang surga tidak dibawah kakimu
Namun semulia-mulianya ibu
Dibawah kakimu lah surganya
Lelah dan letihmu nafakah
Cucuran keringatmu ibadah
Sayang, engkau pemilik cinta yang kadang sering terlupakan.



GAMANG

Gamang hatiku tak ubahnya layang-layang
Yang mengambang, tak tetap
Meski sesekali diam
Terombang-ambing tertampar angin
Goyang
Meski meronta-ronta ditiup angin
Gamang hatiku tetap bertahan
Kuat, walau badai menerpa
Sebab aku percaya pada satu keyakinan
Bahwa tali hatiku kau yang pegang
Tali itu bernama cinta
Aku dan kamu tak terpisah
Sebab tali pengikat kedua hati ini adalah cinta
Walau bayang kegamangan selalu saja menerpa
Aku memilih kuat
Bertahan
Pada tulusnya kesetiaan.


MATAMU

Matamu sendu
Mengundang kerinduan
Berbilah rasa-rasa
Sekali tatap hati siapa saja terkulai lemas tak berdaya
Matamu sayu
Menerawang dalam, mengusik lamun
Membangkitkan syahdu
Mengaduk hati, permaikan emosi
Menohok qalbu
Matamu; sesuatu.



KURSI

Apalah arti sebuah kursi
Bila aspirasi tak kujung terealisi
Nurani terkebiri
Janji-janji, bohong urung terpenuhi
Apalah arti sebuah kursi
Bila nilainya hanya takaran materi
Sementara diluar sana betapa banyak manusia meronta terbirit-birit
Di negeri ini
Kursi menjadi primadona yang diperebutkan
Meski harus sikut kiri-kanan
Membunuh sesama
Menghalalkan segala cara
Sementara kesejahteraan hanyalah mimpi bualan
Apalah arti sebuah kursi
Jika diluar sana mereka yang tak beruntung duduk ditanah pada perempatan lampu merah menegadahkan tangan meminta-minta
Bila kekuasaan adalah muaranya
Rakyat jadi pijakan akomodasi menuju kursi
Objek kampaye tak berperi
Keawaman dimantrakan janji-janji mimpi
Kita patut bersorak, berontak sembari bertanya;
Apalah arti sebuah kursi!




KU TAHU KAU JANDA

Matamu tersirat cinta
Dadamu roma syahwat
Kedipan mu membunuh
Likak mu mengajak
Haus di atas dahaga
Jasmani, lebih-lebih batin
Birahi yang telah lama hilang
Terpenjara sebab berpisah
Terpasung akan status.
Ku tau, kau 'Janda'



TOPENG

Sandiwara apa kabar lakon mu?
Betapa topeng di puja
Tirai bak tabing suci
Dan rupanya, mereka lupa
Semuanya pura-pura. 


ESOK HARI

Aku perlahan membiarkan lesu sendu bulan pada temaramnya
Hingga gelap lelah pekat hitamnya
Nanti perlahan-lahan jua kan terang
Sampai bulan tertidur dengan sendirinya

Fajar, menjemput pagi.
Membangunkan matahari
Dan kita; masihkah hidup esok hari?



AKU DAN DOSA

Jangkrik masih bisu di sudut diam
Belalang tidur pulas di tikam malam
Aku? Menghitung puluhan dosa perharinya, bahkan lebih

Bintang beradu mata dengan rembulan
Awan tak tampak tertutupi gelap
Aku? Sendiri membuka buta hati.

Kasur saban gelap setia menunggu setiap melodi ngorok
Bantal, masih saja mau terpelukan oleh si jalang yang ternoda
Aku? Separuh syaitan berhati malaikat.

Ku tunggu pagi, ku dambakan mentari
Adakah amal merekah sejuk? Setelah embun kering lalu pergi
Atau dosa, kering terbakar matahari? 




HATI YANG TERLUPAKAN

Kadang butuh ruang untuk merenggangkan ke-aku-an
Membunuh ego keras kepala
Menjadi lunak dalam batu
Bukan karena ingin menjadi malaikat
Tidak juga pekak sebab setan
Namun betapa ajar untuk dijadikan pelajaran sebagai nuttah sebaik-baiknya manusia

Sentuhlah segumpal daging dalam sepi
Yang saban waktu berdetak kebenaran
Walau kita tuli oleh auman keburukan

Ya, hati!
Penebar benar, pemilik baik

Sering terlupakan




Sekelumit Murka Padamu Nanggroe

Sajak penuh kemarahan untuk Nanggroe impian
Murka akan kesemrautan Nanggroe tersayang
Dalam puisi ku berteriak menggelegar langit hati
Lelah sudah menagih janji
Yang semuanya hanya penyedap kampaye tempo hari
Setelah kau duduki kursi
Nurani, hati, akal sehat, kau dustakan

Rakyat?
Menjadi penonton kemewahan tuan-tuan

Dan janji-janji
Basi, bersama pepesan kosong visi misi
Yang kau mantrakan tempo hari

Ohh.. Nanggroe kami.





CERITA HUJAN

Apa kabar sedih, masihkah berair mata terbasuh hujan?
Gelisah, adakah engkau sendu berawan mendung?
Hanya sebatas penutup luka biar tak basah, lalu menggigil lebih parah diaduk lara?

Dan hujan berhenti, tanpa setitik jawaban
Lalu, apa lagi yang kau ratapi? 



BUNGA DESA

Selagi jingga masih tersunggut malu di bibir pantai
Burung-burung berjejer rapi meraut udara di angkasa
Transportasi riuh makin menjadi-jadi di kejar birit-birit magrib

Rambutmu tergerai damai
Kala kau kibas di udara
Selepas mandi, rona auramu tak mampu mengedipkan mata
Harum mu sirih ranum

Sekali kau senyum, hancurlah hati pemuda sekampung

Ohh.. Bunga desa. 



Kepada-Nya Sang Maha

Ku larung lara, ku kayuh perih
Ke haribaan-Nya yang masa kasih
Ku dayung gamang, ku timang bimbang
Pada-Nya pemilik sebenarnya sayang

Dalam bingung limbung terpincang-pincang
Merangkak tapak kuat berpijak
Meski lara menggorok luka
Sampai mengerti bahwa masih ada hati tempat berdamai

Kerahibaan-Nya yang maha
Apalah kita tiada kuasa
Hanya penikmat dosa
Penggengam salah.




NELAYAN

Di bawah payung-payung senja
Melambai asa bersamaan terbenamnya sang surya di ufuk barat.
Perahu kecil terombang ambing terlihat dari kejauhan
Merapat mndekat dermaga.
Kaulah Nelayan!
Tanpa kaya pun loyalitasmu untuk sang laut terus terpatrikan
Meski nyawamu tak berAsuransikan Tuhan Sebab ini hidup sekali adanya




Karya: Ichsan Maulana

Follow: 
On Facebook: Ichsan Maulana Icm
On Twitter: Ichsan Maulana Icm (@IchsanM_icm)

DAN HUJAN TURUN LAGI


Ku titip seuntai rindu syahdu kepada sesosok pelukis hidup yang pernah hadir mewarnai hari-hariku tempo dulu. Aku dan dia, tak ubahnya bumi dan langit yang disatukan oleh rinai hujan. Hujan kasih sayang, cinta, suka, duka bahkan jua lara. Tak sampai disitu, hujan galau sekalipun adalah suatu keniscayaan yang lapang teratapi. Betapa hati dua insan selalu mendamba kedamaian, layaknya tanah tandus tersiram air hujan, melegakan, sejuk, menohok qalbu, sampai terisak menggigil mencabik tulang-belulang.
Apa kabarmu duhai pemilik hati yang lain, yang pernah sempat singgah merajut kasih.. Kita sudah terlalu lama tak bertemu lagi, pasca keputusan bersama untuk memilih jalan masing-masing. Entah dimana engkau, yang ku tau; ia telah menemukan perahu baru. Sedang mengayuh rasa yang dipapah dan dijaga agar sampai kedermaga persuntingan.
Aku disini masih setia sendiri, bukan perkara ku tunggu-nya, tidak jua ku sesali keputusan masa lalu. Hanya saja, aku sedang bertapa dengan hati yang sepi, mencoba berdamai dengan hati sendiri. Mengaduk emosi dalam kerapuhan yang tak kunjung pasti, ini bukan perkara sebab frustasi, tidak juga sebab keputus asaan, namun terkadang aku menyadari dan sedang mengaminkan, bahwa ada kedamaian dalam kesendirian. Sesekali, ada saja kumbang baru datang menggoda, aku diam saja. Kunang-kunang juga menyapa dengan lampion pesona lainnya, aku juga kekeh tak mengubris keadaan. Ini hanya soal waktu, bukan salah rasa, sebab aku tidak pernah menghukum rasa dan mematikannya. Hanya saja, rasa ini sedang ku erami, kurajut sendiri, sampai rasa itu benar-benar siap untuk sebuah pelabuhan. Sebab aku yakin dan percaya, akan datang saatnya sesosok yang tepat untuk menyempurnakan rasa yang telah lama ku erami. Siapapun itu, hanya Tuhan yang tau. Bisa saja kumbang baru, atau siapa tau; Engkau yang dulu hadir kembali? Pulang ke asal, menjemput rasa ku. Setelah engkau menyadari bahwa yang lain tak pernah bernar mampu tulus mendamaikan hatimu. Sampai bertemu lagi.. Bila tidak sekarang, ya, nanti. Bila engkaupun tak kembali, aku yang akan datang menjadi saksi sakralnya pernikahanmu.
Dan hujan yang tadinya asik menari, pelan dalam kehati-hatiannya, berubah terisak, meraung menangis keras! Merajam tanah, mencabik bumi. Sampai rinainya lelah, lesu terkulai pada genangan-genangan kenangan. Hujan berhenti. Alam diam, syahdu tak menentu. Antara bahagia juga duka, dipersimpangan senyuman; senyum penghormatan, dan senyum kepasrahan.
Berhenti, bukan berati mati. Bisa saja kembali, atau berubah haluan ke lain dermaga. Ah, entahlah.


Nb: Hanya untuk dibaca..

Jumat, 04 Oktober 2013

Teori Terbentuknya Alam Semesta, Tata Surya, dan Bumi


TEORI TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA

BAB I PENDAHULUAN
Rasa ingin tahu (curiosity) selalu muncul ketika kita dihadapkan pada alam semesta yang di dalamnya mengandung banyak misteri. Curiosity manusia dapat mengubah no thing menjadi know a lot of thing. Rasa ingin tahu jugalah yang memunculkan pelbagai penelitian serta pengujian dari hipotesa akhir dan bila hal itu terbukti kebenarannya maka akan terbentuk suatu bidang ilmu.
Curiosity tidak hanya tertanam dalam benak pikiran ilmuan dan peneliti namun juga tertanam subur pada anak-anak. Mereka seringkali menanyakan sesuatu yang tak disangka-sangka dan kita kebablakan untuk menjawabnya. Yang perlu diingat jangan sekali-kali memberikan jawaban tanpa pengetahuan karena jawaban anda akan selalu diingat dengan kuat.
Curiosity tercerdas dimiliki oleh para ilmuan astronom dahulu. Mereka sangat terangsang otaknya dengan melihat sesuatu yang sangat sulit dijangkau jasmani. Namun berkat pemikirannya sekarang kita dapat mengetahui tentang alam semesta.
Dalam makalah ini kita mencoba meningkatkan curiositas yang tertanam dalam diri kita yakni tentang alam semesta. Bagainama terbentuknya? Serta benda-benda di dalamnya.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Alam Semesta, Galaksi, dan Tata Surya
Alam Semesta
Pengertian alam semesta mencakup tentang mikrokosmos dan makrokosmos. Mikrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran sangat kecil, misalnya atom, elektron, sel, amuba, dan sebagainya. Sedang makrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran yang sangat besar, misalnya bintang, planet, dan galaksi.
Konsep pemikiran manusia tentang pusat universe atau alam semesta sangat radikal. Awalnya para ilmuan astronom menetapkan bahwa manusialah yang sebagai pusat, yang diberi nama teori egosentris. Setelah itu mereka menetapkan bumi yang menjadi pusat yang ditokohi oleh Cladius Ptolemeus. Teori ini dikenal dengan geosentris. Namun setelah itu Nicolas Copernicus mengungkap teori baru di mana matahari dijadikan pusat alam semesta, heliosentris. Namun saat ini mereka baru menyadari bahwa teoti tersebut lebih cocok digelayutkan pada tata surya. Dan tata surya hanyalah sebagian dari galaksi, dan galaksi adalah satu kumpulan bintang dari banyak kumpulan bintang di alam semesta.
Galaksi
Langit dihiasi bintang-bintang yang jumlahnya tak terhitung, yang bisa diamati dengan mata telanjang maupun teropong bintang. Bintang-bintang berkumpul dalam suatu gugusan, meskipun antar-bintang berjauhan di angkasa. Dari penjelasan Ismail al-Juwasy tersebut dapat kita katakan bahwa galaksi tak ubahnya bak sekumpulan anak ayam yang tak mungkin untuk dipisahkan dari induknya. Di mana ada anak ayam di situ pasti ada induknya. Sama halnya bintang-bintang di angkasa sana mereka tak mungkin gemerlap sendirian tanpa disandingi dengan bintang lainnya.
Galaksi yang sering kita dengar adalah Bimasakti atau milky way. Kalau kita cermati agak aneh nama milky way tersebut karena dari benda angkasa luar diumpamakan dengan susu. Namun dari keanehan tersebut terdapat keunikan, yakni bintang bertebaran di langit pada malam hari seperti susu yang tercecer di langit. Galaksi kita berbentuk spiral, dapat kita samakan dengan lingkaran obat nyamuk jika dilihat dari atas dan seperti gasing bila dilihat dari samping. Galaksi kita tidak sebundar lingkaran namun berbentuk elips. Hal ini dibuktikan dengan ukannya yang memiliki panjang sekitar 100 tahun cahaya dan lebar 10 tahun cahaya dan tata surya kita berada 30 tahun cahaya dari pusat galaksi.
Selain galaksi Bimasakti kita juga dapat melihat beberapa galaksi dengan mata telanjang ataupun dengan alat. Yang diungkap oleh para ilmuan yakni galaksi Andromeda, Awan Megallianic Besar dan Awan Megallanic Kecil. Galaksi Andromeda lebih besar daripada Milky way.
Tata Surya
Tata surya terdiri dari matahari, Sembilan planet dan berbagai benda langit seperti satelit, komet, dan asteroid. Tata surya tak lebih hanyalah gugusan kecil dari benda-benda langit dan satu bintang. Tata surya adalah bagian kecil dari galaksi.
Kita kenal dengan sembilan planet mungkin ketika sekolah dasar, dari sebilan planet tersebut terbagi dua bagian yaitu planet dalam dan planet luar. Planet dalam adalah planet yang dekat dengan matahari yang terdiri dari Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars. Sedangkan Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto –yang sekarang tereliminasi– termasuk planet luar.
B. TEORI ASAL MULA ALAM SEMESTA
Teori Letusan Hebat
Berbagai teori tentang jagad raya membentuk suatu bidang studi yang dikenal sebagai kosmologi. Einstein adalah ahli kosmologi modern pertama. Tahun 1915 ia menyempurnakan teori umumnya tentang relativitas, yang kemudian diterapkan pada pendistribusian zat di luar angkasa. Pada tahun 1917 secara matematik ditentukan bahwa tampaknya ada massa bahan yang hampir seragam yang keseimbangannya tak tentu antara kekuatan tarik gravitasi dan kekuatan olek atau kekuatan dorong kosmik lain yang tak dikenal.
Pada tahun 1922 seorang ahli fisika Rusia muncul dengan pemecahan soal itu secara lain, yang mengatakan bahwa kekuatan tolak tidak berperan bahkan jagad raya terus meluas dan seluruh partikel terbang saling menjauhi dengan kecepatan tinggi. Karena kekuatan tarik gravitasi, perluasan itu terus melambat. Sebelumnya, partikel-partikel itu telah bergerak keluar bahkan lebih cepat lagi. Dalam model jagat raya ini dahulu perluasan mulai pada saat yang unik yang disebut “letusan hebat”.
Teori letusan hebat rupanya begitu berlawanan dengan pengetahuan astronomi zaman sekarang, yang mula-mula sedikit menarik perhatian. Akhirnya sebanyak bintang dalam galaksi Bimasakti bukannya saling menjauhi satu sama lain, tetapi malahan berjalan dalam orbit sirkular mengelilingi wilayah pusatnya yang padat. Akan tetapi, pada tahun 1929 Edwin Hubble, ketika itu ahli astronomi di Observatorium Mount Wilson, mengemukakan bahwa berbagai galaksi yang telah diamatinya sebenarnya menjauhi kita, dan menjauhi yang lain, dengan kecepatan sampai beberapa ribu kilometer per-detik.
Rupanya galaksi-galaksi ini, seperti halnya Bimasakti kita, menjaga keutuhan bentuk internalnya selama waktu yang panjang. Galaksi-galaksi itu secara sendiri-sendiri mengarungi angkasa raya, kira-kira sebagain unit atau partikel yang bergerak mengarungi ruang angkasa. Teori Einstein dapat diterapkan pada berbagai galaksi, sebagai ganti bintang-bintang.

Teori Keadaan Tetap
Kalau kita kembali ke tahun 1948, tidaklah ditemukan informasi yang cukup untuk menguji teori letusan hebat itu. Ahli Astronomi Inggris Fred Hoyle dan beberapa ahli astro-fisika Inggris mengajukan teori yang lain, teori keadaan tetap yang menerangkan bahwa jagat raya tidak hanya sama dalam ruang angkasa –asas kosmologi- tetapi juga tak berubah dalam waktu asas kosmologi yang sempurna. Jadi, asas kosmologi diperluas sedemikian rupa sehingga menjadi “sempurna” atau “lengkap” dan tidak bergantung pada peristiwa sejarah tertentu. Teori keadaan tetap berlawanan sekali dengan teori letusan hebat.  
Dalam teori kedua, ruang angkasa berkembang menjadi lebih kosong sewaktu berbagai galaksi saling menjauh. Dalam teori keadaaan tetap, kita harus menerima bahwa zat baru selalu diciptakan dalam ruang angkasa di antara berbagai galaksi, sehingga galaksi baru akan terbentuk guna menggantikan galaksi yang menjauh. Orang sepakat mengatakan bahwa zat baru itu ialah hydrogen, yaitu sumber yang menjadi asal usul bintang dan galaksi.
Penciptaan zat berkesinambungan dari ruang angkasa yang tampaknya kosong itu diterima secara skeptis oleh para ahli, sebab hal ini rupanya melanggar salah satu hukum.
TEORI TERBENTUKNYA TATA SURYA
Melihat kenyataan bahwa planet-planet bergerak mengelilingi matahari dengan orbitnya yang berebentuk elips dengan arah peredaran yang sama yaitu berlawanan arah jarum jam jika melihatnya dari kutub utara, ternyata arah revolusi planet-planet dan satelitnya yaitu arah negative. Ini berlawanan dengan yang kita amati di bumi, peredaran harian benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang berarah positf seperti arah peredaran harian matahari yang terbit di timur lalu naik dan kemudian terbenam di barat. Adanya realitas yang demikian membuat para ahli astronomi berkesimpulan bahwa tata surya terbentuk dari material yang berputar dengan arah negative, hal ini kemudian memunculkan beberapa teori tentang terjadinya tata surya sebagai berikut:
1.      Teori Nebule atau teori kabut, yang dikemukakan ole Immanuel Kant (1749-1827) dan Piere Simon de Laplace (1796).
Matahari dan planet berasal dari sebuah kabut pijar yang berpilin di dalam jagat raya, karena pilinannya itu berupa kabut yang membentuk bulat seperti bola yang besar, makin mengecil bola itu makin cepat putarannya. Akibatnya bentuk bola itu memepat pada kutubnya dan melebar di bagian equatornya bahkan sebagian massa dari kabut gas menjauh dari gumpalan intinya dan membentuk gelang-gelang di sekeliling bagian utama kabut itu, gelang-gelang itu kemudian membentuk gumpalan padat inilah yang disebut planet-planet dan satelitnya. Sedangkan bagian tengah yang berpijar tetap berbentuk gas pijar yang kita lihat sekarang sebagai matahari.
Teori kabut ini telah dipercaya orang selama kira-kira 100 tahun, tetapi sekarang telah benyak ditinggalkan karena: (1) tidak mampu memberikan jawaban-jawaban kepada banyak hal atau masalah di dalam tata surya kita dan (2) karena munculnya banyak teori baru yang lebih memuaskan.
2.      Teori Planetesimal, Thomas C. Chamberlin (1843-1928) seorang ahli geologi dan Forest R. Moulton (1872-1952) seorang astronom.
Disebut Planetesimal yang berarti planet kecil karena planet terbentuk dari benda padat yang memang telah ada. Matahari telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang banyak, pada satu waktu ada sebuah bintang yang berpapasan pada jarak yang tidak terlalu jauh akibatnya terjadi pasang naik antara matahari dan bintang tadi. Pada waktu bintang itu menjauh sebagian massa dari matahari itu jatuh kembali ke permukaan matahari dan sebagian lain berhamburan di sekeliling matahari inilah yang disebut dengan planetesimal yang kelak kemudian menjadi planet-planet yang beredar pada orbitnya dan mengelilingi matahari.
3.      Teori Pasang Surut, Sir James Jeans (1877-1946) dan Harold Jeffreys (1891) keduanya dari Inggris, teori ini hampir sama dengan teori Planetesimal.
Setelah bintang itu berlalu dengan gaya tarik bintang yang besar pada permukaan matahari terjadi proses pasang surut seperti peristiwa pasang surutnya air laut di bumi akibat gaya tarik bulan. Sebagian massa matahari itu membentuk cerutu yang menjorok kearah bintang itu mengakibatkan cerutu itu terputus-putus membentuk gumpalan gas di sekitar matahari dengan ukuran yang berbeda-beda, gumpalan itu membeku dan kemudian membentuk planet-planet.
Teori ini menjelaskan mengapa planet-planet di bagian tengah seperti Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus merupakan planet raksasa sedangkan di bagian ujungnya merupakan planet-planet kecil. Kelahiran kesembilan planet itu karena pecahan gas dari matahari yang berbentuk cerutu itu maka besarnya planet-planet iti berbeda-beda yang terdekat dan terjauh besar tetapi yang di tengah lebih besar lagi.
4.      Teori Awan Debu, dikemukakan oleh Carl von Weizsaeker (1940) kemudian disempurnakan oleh Gerard P Kuiper (1950).
Tata surya terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Gumpalan awan itu mengalami pemampatan, pada proses pemampatan itu partikel-partikeldebu tertarik ke bagian pusat awan itu membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin dan kemudian membentuk cakram yang tebal di bagian tengah dan tipis di bagian tepinya. Partikel-partikel di bagian tengah cakram itu saling menekan dan menimbulkan panas dan berpijar, bagian inilah yang kemudian menjadi matahari. Sementara bagian yang luar berputar sangat cepat sehingga terpecah-pecah menjadi gumpalan yang lebih kecil, gumpalan kecil ini berpilin pula dan membeku kemudian menjadi planet-planet.
5.      Teori Bintang Kembar
Teori ini hampir sama dengan teori planetesimal.Dahulu matahari mungkin merupakan bintang kembar,kemudian bintang yang satu meledak menjadi kepingan-kepingan.Karena ada pengaruh gaya gravitasi bintang,maka kepingan-kepingan yang lain bergerak mengitari bintang itu dan menjadi planet-planet.Sedangkan bintang yang tidak meledak menjadi matahari.
6.      Teori Ledakan (Big Bang), George Gamow, Alpher dan Herman.
Alam pada saat itu belum merupakan materi tetapi pada suatu ketika berubah menjadi materi yang sangat kecil dan padat, massanya sangat berat dan tekanannya besar, karena adanya reaksi inti kemudian terjadi ledakan hebat. Massa itu kemudian berserak dan mengembang dengan sangat cepat menjauhi pusat ledakan dan membentuk kelompok-kelompok dengan berat jenis yang lebih kecil dan trus bergerak, menjauhi titik pusatnya.
Dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi kosmos keluar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu yang sangat tinggi dari volume yang sangat kecil. Alam semesta lahir dari singularitas fisis dengan keadaan ekstrem. Teori Big Bang ini semakin menguatkan pendapat bahwa alam semesta ini pada awalnya tidak ada tetapi kemudian sekitar 12 milyar tahun yang lalu tercipta dari ketiadaan.
Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. Bukti yang ’seharusnya ada’ ini pada akhirnya diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi latar kosmis’, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit COBE (Cosmic Background Explorer). COBE ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori Big Bang.
Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium.
Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat.
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihtatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang. (QS. Al-Mulk, 67:3)
C. Teori Asal Mula Bumi
Lima miliar tahun yang lalu,system tata surya kita tidak ada. Yang ada hanyalah awan debu dan gas yang secara perlahan berubah bentuk.sembilan planet, termasuk Bumi, dibentuk dari materi yang menggumpal, menyerupai gumpalan bola salju, di dalam kabut. Mengenai teori sejarah asal terbentuknya bumi sebagai berikut:
ü  Proses dimulai sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu di pusat nebula matahari.
ü  Matahari terbentuk di pusat awan ini. Sementara itu, gas dan bahan lain di bagian luarnya menggumpal.
ü  Bebatun kecil berubah menjadi lebih besar, membentuk cikal bakal planet, atau protoplanet dengan diameter beberapa kilometre.
ü  Protoplanet saling bertumbuhan satu sama lain dan menggumpal hingga mencapai ukuran planet (memiliki diameter beberapa ribu kilometer). Hingga ratusan juta tahun, planet tersebut dibombardir secara kuat dan terus menerus oleh bebatuan lain.
ü  Sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, bumitelah diselimuti oleh lautan larva yang berasal dari bebatuan yang terbakar dan luasnya mencapai beberapa kilometre.
ü  Secara perlahan, lautan larva tersebut mendingin membentuk kerak yang dihantam terus menerus oleh berbagai meteor dan komet.
ü  Planet muda kita juga mengalami aktifitas vulkanik yang melepaskan lapisan udara secara radikal, lapisan udara ini berbeda dengan lapisan udara saat ini. Keberadaan air dimungkinkan berassal dari kedalaman bumi atau dibawa dari angkasa oleh komet dan membentuk laut. Pada saat bersamaan, kerak bumi berupa menjadi benua.
ü  Kemunculan benua, laut, dan lapisan oksigen rendah menghasilkan proses pembentukan molekul yang lebih kompleks, yang menuntun terciptanya fenomena yang luar biasa, yaitu kehidupan. Bahkan lebih mengejutkan lagi, kehidupan dengan sangat cepat muncul dari laut, kurang dari satu miliar tahun setelah bumi tecipta. Kehidupan memerlukan beberapa miliar tahun lagi ke daratan.

BAB III PENUTUP
Sampai sekarang belum ada teori yang benar-benar tepat untuk mengambarkan masa depan alam semesta. Pertanyaan kita sekarang tentang suatu hal pada akhirnya akan terjawab , namun setelah itu akan muncul beberapa pertanyaan baru. Demikianlah yang akan terjadi jika kita bertanya tentang alam semesta, kita tidak akan pernah puas karena sifat curiosity kita. Seringkali kita mendapati suatu pertanyaan yang sangat mendasar, yang mendapat jawaban membuat hati kita kagum, heran, takzim dan sampai pada tingkat suatu perenungan bahwa betapa luar biasa kuasa tuhan alam semesta ini.
Demikian makalah ini kami buat. Di dalamnya terdapat kesalahan dan itu adalah hal yang niscaya. Karena kita tempat kesalahan dan lupa. Kami mengharap kritik saran membangun anda, agar dapat memperbaiki diri selaku mahluk sosial. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis sendiri serta pembacanya. Amin.



Kriteria Tes Yang Baik

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Tes merupakan salah satu alat ukur guna mengukur keberhasilan proses dan hasil dari pembelajaran. Untuk itu sebagai mahasiswa calon guru (konselor) perlu memahami kriteria tes yang baik agar mampu menyusun tes yang baik pula. Tidak hanya mampu mengajar dan mendidik dengan baik, guru yang professional hendaknya mampu menyusun tes yang dapat mengukur keefektivan pembelajaran dan menilai kesuksesan dan pencapaian target pembelajaran itu sendiri. Tes yang baik yaitu tes yang memenuhi beberapa kriteria, yakni : validitas, reliabilitas, daya beda, objektifitas dan standardisasi.
Penulis mencoba untuk menjabarkan kelima kriteria tes yang baik tersebut diatas untuk menambah pemahaman penulis dan pembaca makalah yang berjudul “Kriteria Tes yang Baik” ini. Selain itu penulis juga mencoba untuk membuat perbandingan antara kriteria tes yang baik menurut Suharsimi arikunto dengan beberapa ahli lainnya.
1.2  Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1.      Untuk memenuhi tugas matakuliah ‘Assesmen Tes’
2.      Menjelaskan tentang validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran suatu test dan bagaimana cara mengukurnya.
3.      Dapat membuat perbandingan beberapa kriteria tes yang baik menurut beberapa ahli.
4.      Tujuan akhir dari pembuatan makalah ini diharapkan agar penulis dan pembaca mampu membuat dan menyusun tes yang baik.

BAB 2
PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis menyajikan kriteria tes yang baik berdasarkan buku Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan karangan Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. Adapun beberapa kriteria tyang akan dibahas adalah : validitas, daya beda, reliabilitas, objektifitas dan standardisasai.
2.1  Validitas
A test is valid if it measures what it purpose to measures (Scarvia B. Anderson, dalam Encyclopedia of Educational Evaluation). Artinya, sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Sebenarnya validitas ini bukan ditekankan pada tes itu sendiri, tapi pada hasil pengetesan atau skornya.
  Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman. Hal yang pertama akan diperoleh validitas logis, dan hal kedua diperoleh validitas empiris.
a.       Validitas Logis
Yaitu jika sebuah instrument evaluasi memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang karena sudah dirancang sacara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa validitas logis tidak perlu diuji kondisinya tetapi langsung diperoleh setelah instrument tersebut disusun.
Dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrument :
·         Validitas Isi
Kondisi sebuah instrument yang disusun berdasarkan isi materi pelajaran yang dievaluasi
·         Validitas Konstrak
Kondisi sebuah instrument yang disusun berdasarkan konstrak aspek-aspek kejiwaan yang seharusnya dievaluasi
b.      Validitas Empiris
Sebuah instrument dapat dikatakan memiliki validitas empiris  bila sudah diuji dari pengalaman. Validitas empiris tidak hanya diperoleh dengan menyusun instrument berdasarkan ketentuan seperti halnya validitas logis, tapi harus dibuktikan melalui pengalaman.
Dua cara yang dapat dilakukan untuk menguji bahwa sebuah instrument memang valid :
·         Instrument yang sudah tersedia dan yang belum ada tapi akan terjadi diwaktu yang akan datang (‘ada sekarang’/concurren validity)
·         Instrumen yang kondisinya sesuai dengan kriterium yang diramalkan akan terjadi (‘validitas prediksi’/predictive validity)

c.       Cara Mengetahui Validitas Alat Ukur
Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson (dalam Suharsimi Arikunto). Rumus Korelasi product Moment dengan simpangan :
rxy        =                 ∑xy
                                                            √(∑x2) (∑y2)
Dimana :
rxy = Koefisien korelasi antara variable X dan Variabel Y.
xy     = Jumlah perkalian X dengan Y
X2  = Kuadrat dari X
Y2  = kuadrat dari Y
2.2  Daya Beda
Daya beda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi (D).
Tiga titik daya pembeda yaitu :

-1,00                           0,00                              1,00

     Daya pembeda                    Daya pembeda           Daya pembeda tinggi
       Negative                                rendah                              (positif)


2.3  Reliabilitas
Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap atau seandainya hasilnya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti. Inilah yang dimaksud dengan reliabel.
Scarvia B. Anderson dalam buku Suharsimi arikunto menyatakan bahwa persyaratan bagi tes yaitu validitas dan reliabilitas ini penting. Sebuah tes mungkin reliabel tapi tidak valid. Sebaliknya, sebuah tes yang valid biasanya reliabel.
·         Cara mencari besarnya Reliabilitas
a.       Metode bentuk paralel (equivalent)
Adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesukaran dan susuan, tetapi butir-butir soalnya berbeda. Kelemahan dari metode ini adalah pengetes harus menyusun dua seri tes dan harus tersedia waktu yang lama untuk mencobakan dua kali tes.

b.      Metode tes ulang (test-retest method)
Metode ini dilakukan untuk menghindari penyusunan dua seri tes. Pengetes hanya memiliki satu seri tes tetapi dicobakan dua kali. Kemudian hasil dari kedua kali tes tersebut dihitung korelasinya.tenggang waktu antara pemberian tes pertama dan kedua jangan terlalu sempit dan jangan pula terlalu lama.
c.       Metode belah dua (Split-half method)
Dalam menggunakan metode ini pengetes hanya menggunakan sebuah tesdan dicobakan satu kali. Pada saat membelah dua dan mengkolerasikan dua belahan, baru diketahui separuh tes. Untuk mengetahui keseluruhan tes harus digunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut :
                                              2r1/21/2
                                    r11        =          (1+r1/1/2)


                Dimana :
r1/21/2      =   Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes.
r11           =    Koefisien reliabolitas yang sudah disesuaikan.
2.4  Objektifitas
Objektif berarti tidak ada unsur yang pribadi yang mempengaruhi. Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam pelaksanaan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhinya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan pada sistem skoring, sedangkan reliabilitas menekankan pada ketetapan dalam hasil tes.
Ada dua faktor yang mempengaruhi subjektifitas dari suatu tes, yaitu :
1.      Bentuk tes
Tes yang berbentuk uraian akan member banyak kemungkinan pada si penilai untuk member penilaian menurut caranya sendiri. Untuk itu dapat diminimalisir dengan membuat pedoman skoring terlebih dahulu.
2.      Penilai
Faktor yang dapat mempengaruhi subjektivitas antara lain : kesan penilai terhadap siswa,tulisan, bahasa, waktu mengadakan penilaian, kelelahan dan sebagainya. Maka penilaian atau evaluasi harus dilakukan dengan mengingat pedoman penilaian.
2.5    Standardisasi
Pengertian tes standar secara sempit adalah tes yang disusun oleh satu tim ahli, atau disusun oleh lembaga yang khusus menyelenggarakan secara professional. Tes tersebut diketahui memenuhi syarat sebagai tes yang baik.  Yakni diketahui validitas dan reliabilitasnya baik validitas rasional maupun validitas empirik, reliabilitas dalam arti teruji tingkat stabilitas, maupun homoginitasnya.
Istilah ‘standar’ tidak mengandung arti bahwa tes itu menyiapkan suatu standar prestasi dimana siswa harus dan dapat mencapai suatu tingkat tertentu. Penyusunan tes standar selalu mengusahakan agar sistem skoringnya sangat objektif sehingga diperoleh reliabilitas yang tinggi. Apabila mungkin dilakukan dengan mesin, hal ini tidak berarti bahwa bentuk tes standar harus selalu pilihan berganda. Tapi untuk skoringnya diusahakan agar tidak terkena bias faktor-faktor lain.
Untuk menyusun tes standar dibutuhkan waktu yang lama. Karena untuk memperoleh sebuah tes yang standar melalui prosedur :
·         Penyusunan
·         Uji coba
·         Analisis
·         Revisi
·         Edit

BAB 3
PERBANDINGAN
3.1 Validitas
Dari beberapa referensi yang penulis dapatkan baik dibeberapa blog maupun dalam buku-buku lainnya diantaranya : Metode Research (Penelitian Ilmiah), karangan  Prof Dr. S. Nasutionn, M.A. menarik sekali karena buku tersebut memuat definisi validitas yang nyaris sama dengan Suharsimi Arikunto, yakni ‘mengukur apa yang hendak diukur’.
Begitu pula dengan beberapa blog yang didapati oleh penulis, diantaranya : Jawharie.Blogspot.com, Deswin Purple.blogspot.com yang sepakat dengan Suharsimi Arikunto yang menjadi bahan rujukan makalah ini.
Namun penulis menemui perbedaan dalam buku Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif yang juga merupakan karangan Prof Dr. S. Nasution, M.A. beliau menyebutkan bahwa validitas membuktikan apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dalam kenyataan. Namun setelah penulis menelaahnya lebih jauh, tujan dari kalimat tersebut adalah sama, hanya saja dalam buku ini Nasution  lebih menekankan pada penelitian naturalistik.
Selain itu, jika Suharsimi arikunto menyebutkan bahwa secara garis besar terdapat dua macam validitas, yaitu validitas logis dan validitas empiris. Maka lain halnya dengan Nasution yang justru menyebutkan bahwa validitas alat ukur dapat diselidiki dengan Logika dan statistik. Tapi untuk macam-macam Validitas  Suharsimi Arikunto dan Nasution sama-sama  menyebutkan :
1.      Validitas isi
2.      Validitas Konstruksi
3.      Validitas Prediksi / prediktif
4.      Concurrent validity (hanya ada pada Suharsimi saja)

3.2  Daya Beda
Untuk daya beda penulis tidak menemukan bahwa salah satu kriteria tes yang baik adalah mempunyai daya beda. Bahkan dalam buku Suharsimi Arikunto sendiri justru memasukkan daya beda kedalam masalah yang berhubungan dengan analisis butis soal. Hal ini juga sedikit membingungkan lantaran dalam silabus matakuliah Assesmen Tes justru memasukka daya beda kedalam salah satu kriteia tes yang baik, namun daya beda juga didapati penulis dalam blog dengan alamat Jawharie.blogspot.com.
Hal ini juga dipahami penulis bahwa salah satu kriteria tes yang baik adalah tes tersebut mampu membedakan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Sehingga hasil yang diperoleh oleh setiap siswa tidaklah sama mengingat kemampuan mereka yang berbeda-beda.
3.3 Reliabilitas
Suharsimi Arikunto membahas reliabilitas dalam bab khusus tentang reliabel, sementara Nasution dalam Metode Research menggabungkan Validitas dan Reliabilitas dalam bab yang sama. Namun baik Suharsimi Arikunto maupun Nasution mempunyai penjelasan yang sama berkenaan dengan reliabilitas, meski dengan kalimat yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa suatu alat ukur dikatakan reliabel jika alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu yang berlainan senantiasa menunjukkan hasil yang sama (tetap), kalaupun mengalami perubahan, maka perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti.
Definisi serupa juga penulis dapatkan dari beberapa blog lain, diantaranya ZadrianArdi.blogspot.com dan Deswin Purple.blogspot.com.

3.4  Objektivitas

Tidak ada perbandingan yang penulis dapati dalam kriteria Objektivitas ini, dari beberapa referensi yang telah penulis sebutkan hampir semuanya sepakat bahwa yang dikatakan bahwa tes yang objektif adalah tes yang apabila dalam melaksanakan tes tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi terutama dalam sistem skoringnya.
Faktor yang mempengaruhi subjektivitas dari suatu tes juga terdapat dua faktor, yaitu bentuk tes dan penilai (deswin purple.blogspot.com)
3.5  Standardisasi
Sama halnya dengan daya pembeda, dalam referensi yang didapati penulis standardisasi juga sebenarnya tidak dimasukkan kedalam kriteria tes yang baik. Suharsimi Arikunto justru membahas dalam bab lainnya dengan pembahasan tes standar. Setelah menjelajahi beberapa blog di internet penulis juga tidak dapat menemukan tulisan yang memuat standardisasi kedalam salah satu kriteria tes yang baik.
Standardisasi Justru dibahas secara terpisah dalam bab Tes standar dan tidak standar. Namun penulis juga setuju bahwa standardisasi merupakan salah satu dari sekian banyak kriteria tes yang baik. Karena bagaimanapun juga tes yang baik hendaknya mempunyai standar tersendiri, terutama dalam pedoman penskoran agar terhindar dari sifat subjektif peneliti yang justru akan mengacaukan tes itu sendiri.
·         Dari beberapa pendapat para ahli yang penulis sebutkan dapat dilihat bahwa tidak ada hal yang sangat bertentangan antara yang satu dengan yang lain, justru para ahli saling melengkapi dalam merumuskan kriteria tes yang baik sehingga dapat menjadi acuan bagi penulis dan pembaca dalam membuat tes yang baik nantinya.
BAB 4
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
·         Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Sebenarnya validitas ini bukan ditekankan pada tes itu sendiri, tapi pada hasil pengetesan atau skornya.
·         Daya beda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.
·         Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap atau seandainya hasilnya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti.
·         Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam pelaksanaan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhinya. Objektivitas menekankan ketetapan pada sistem scoring.
·         Penyusunan tes standar (standardisasi) selalu mengusahakan agar sistem skoringnya sangat objektif sehingga diperoleh reliabilitas yang tinggi.