KETIKA BANYAK TULISAN BELUM MAMPU MEMUASKAN SYAHWAT MEMBACAMU, MAKA MENULISLAH DENGAN JALAN FIKIRANMU

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 21 Maret 2014

PUISI: SEPERTIGA MALAM

Sepertiga Malam

Masihkan terlalu dini mengucap pagi?
Saat banyak mata sudah terpejam
Pun terlalu ramai yang masih terjaga

Ayam tertidur dengan caranya yang kadang kala terbangun dan tidur kembali
Sementara musang menjadi pejuang dalam momennya sendiri; mencari mangsa, mengisi perut, berpetualang menikmati alam

Alam yang oleh kita sudah malam
Gelap mencabik pekat
Hitam dibawah bayang remang lampion Tuhan; bulan

Adakah penikmat sepertiga malam?
Merajut romantisme dengan sang maha
Dalam kusyuknya sembah sujud sang hamba
Mengadu, mengiba, bermunajat dalam rima doa-doa cinta
Larut dalam syahdunya ibadah
Bermuhasabah atas segala khilaf dan dosa
Tahajud, momen manis merangkai kasih dengan-Nya

Lalu sebahagian lainnya sibuk bermimpi buruk
Merajam tidur, dibuai setan
Sampai pada tingkat berperangai musang diwarung kopi

Cerita sepertiga malam hadir dalam ragam macam rupa, entahlah!

Lantas kita bertanya; dimanakah posisi kita kala sepertiga malam itu hadir?
Menjadi pecuri, dibuai setan, menjadi musang, atau sibuk bercengkrama di warung kopi terperdaya wifi gratis tanpa alasan?

Matahari terbit lagi, dan kita terus saja terbuai candu duniawi
Lupa diri
Berpaling dari sang maha agung; ilahi rabbi


Follow: 
On Facebook: Ichsan Maulana Icm
On Twitter: Ichsan Maulana Icm (@IchsanM_icm)

PUISI: KEPADA ALAM

ALAM KINI


Duhai alam pemilik tubuh nan eksotik
Di dadamu kami bergemuruh
Meraung mengiba panas terik matamu; matahari
Yang mencabik, menikam, melepuhkan kulit-kulit lembut anak adam

Padamu alam nan romantis
Pagi kau sapa kami dengan kesejukan
Siang kau rajam kami dengan terik tak berperi
Sampai malam yang sejatinya dingin sebagai peristirahatanpun
Jua belum tentu menyejukkan

Tuhan? Bukan salahmu
Salah kami manusia yang tak tau bagaimana mensyukuri
Di alam-Mu kami bertari, berdendang, bergoyan dosa-dosa
Hutan-hutan tergunduli, gunung-gunung terkeruk, lautan tertambalkan
Hanya sebab entah
Bisikan setan, kepentigan sesaat
Katanya pembangunan kesejahteraan
Padahal modus kepentigan
Tak lebih dari buih kemunafikan
Bahwa kami (manusia) sedang mendewa-dewikan 'proyek'

Apa kabar kutub utara? Antartika? Kutub selatan
Bongkahan es yang saban waktu kian mencair
Memuai sebab cuaca extrim undagan kami
Pada lelehan, patahan-patahan es kalian menagis
Meraung-raung!
Siapa peduli?
Manusia seakan tuli

Sampai pinguin mati sendiri
Ia pergi tak tau sebab entah mengapa


Oh alam, nasibmu kini.//

Follow: 
On Facebook: Ichsan Maulana Icm
On Twitter: Ichsan Maulana Icm (@IchsanM_icm)

PUISI-PUISI

SENDIRI

Dan kegirangan beringsut dengan sendirinya
Menerawang arahnya sendiri
Beranjak pergi bersama matahari yang lelah menatap hari

Disini, aku sendiri
Mengaduk emosi
Diam dalam kebisuan yang tak bertepi

Sampai kini
Hati ini masih setia pada pilihannya;
Sendiri

Sebab aku menyadari
Bidadari hanya dongeng dan tak mampu datang
Untuk mengaminkan kenyataan



SENJA
Bila senja menyapa
Matahari manyun malu-malu terkulum cakrawala
Di bibir pantai alam menyulam romantismenya
Cerah berubah remang
Kesepian mengundang 1001 tanda tanya
Bila senja menyapa
Birunya langit berganti jingga
Burung-burung terbang sejajar
Menghitung awan yang mulai tak tampak
Bila senja menyapa
Sebuah perpisahan akan hari dan undangan untuk sang gelap; malam
Bila senja menyapa
Alam bisu dalam kedamaian
Sunyi menyepi
Indah tak terkira
Oh senja, hadirmu selalu saja menawan.

AYAH

Tatapanmu adalah bicara
Gerakmu menjadi petuah
Engkau manusia sederhana
Tak banyak berucap
Namun sesekali engkau bertutur ialah petuah
Ayah
Memang surga tidak dibawah kakimu
Namun semulia-mulianya ibu
Dibawah kakimu lah surganya
Lelah dan letihmu nafakah
Cucuran keringatmu ibadah
Sayang, engkau pemilik cinta yang kadang sering terlupakan.



GAMANG

Gamang hatiku tak ubahnya layang-layang
Yang mengambang, tak tetap
Meski sesekali diam
Terombang-ambing tertampar angin
Goyang
Meski meronta-ronta ditiup angin
Gamang hatiku tetap bertahan
Kuat, walau badai menerpa
Sebab aku percaya pada satu keyakinan
Bahwa tali hatiku kau yang pegang
Tali itu bernama cinta
Aku dan kamu tak terpisah
Sebab tali pengikat kedua hati ini adalah cinta
Walau bayang kegamangan selalu saja menerpa
Aku memilih kuat
Bertahan
Pada tulusnya kesetiaan.


MATAMU

Matamu sendu
Mengundang kerinduan
Berbilah rasa-rasa
Sekali tatap hati siapa saja terkulai lemas tak berdaya
Matamu sayu
Menerawang dalam, mengusik lamun
Membangkitkan syahdu
Mengaduk hati, permaikan emosi
Menohok qalbu
Matamu; sesuatu.



KURSI

Apalah arti sebuah kursi
Bila aspirasi tak kujung terealisi
Nurani terkebiri
Janji-janji, bohong urung terpenuhi
Apalah arti sebuah kursi
Bila nilainya hanya takaran materi
Sementara diluar sana betapa banyak manusia meronta terbirit-birit
Di negeri ini
Kursi menjadi primadona yang diperebutkan
Meski harus sikut kiri-kanan
Membunuh sesama
Menghalalkan segala cara
Sementara kesejahteraan hanyalah mimpi bualan
Apalah arti sebuah kursi
Jika diluar sana mereka yang tak beruntung duduk ditanah pada perempatan lampu merah menegadahkan tangan meminta-minta
Bila kekuasaan adalah muaranya
Rakyat jadi pijakan akomodasi menuju kursi
Objek kampaye tak berperi
Keawaman dimantrakan janji-janji mimpi
Kita patut bersorak, berontak sembari bertanya;
Apalah arti sebuah kursi!




KU TAHU KAU JANDA

Matamu tersirat cinta
Dadamu roma syahwat
Kedipan mu membunuh
Likak mu mengajak
Haus di atas dahaga
Jasmani, lebih-lebih batin
Birahi yang telah lama hilang
Terpenjara sebab berpisah
Terpasung akan status.
Ku tau, kau 'Janda'



TOPENG

Sandiwara apa kabar lakon mu?
Betapa topeng di puja
Tirai bak tabing suci
Dan rupanya, mereka lupa
Semuanya pura-pura. 


ESOK HARI

Aku perlahan membiarkan lesu sendu bulan pada temaramnya
Hingga gelap lelah pekat hitamnya
Nanti perlahan-lahan jua kan terang
Sampai bulan tertidur dengan sendirinya

Fajar, menjemput pagi.
Membangunkan matahari
Dan kita; masihkah hidup esok hari?



AKU DAN DOSA

Jangkrik masih bisu di sudut diam
Belalang tidur pulas di tikam malam
Aku? Menghitung puluhan dosa perharinya, bahkan lebih

Bintang beradu mata dengan rembulan
Awan tak tampak tertutupi gelap
Aku? Sendiri membuka buta hati.

Kasur saban gelap setia menunggu setiap melodi ngorok
Bantal, masih saja mau terpelukan oleh si jalang yang ternoda
Aku? Separuh syaitan berhati malaikat.

Ku tunggu pagi, ku dambakan mentari
Adakah amal merekah sejuk? Setelah embun kering lalu pergi
Atau dosa, kering terbakar matahari? 




HATI YANG TERLUPAKAN

Kadang butuh ruang untuk merenggangkan ke-aku-an
Membunuh ego keras kepala
Menjadi lunak dalam batu
Bukan karena ingin menjadi malaikat
Tidak juga pekak sebab setan
Namun betapa ajar untuk dijadikan pelajaran sebagai nuttah sebaik-baiknya manusia

Sentuhlah segumpal daging dalam sepi
Yang saban waktu berdetak kebenaran
Walau kita tuli oleh auman keburukan

Ya, hati!
Penebar benar, pemilik baik

Sering terlupakan




Sekelumit Murka Padamu Nanggroe

Sajak penuh kemarahan untuk Nanggroe impian
Murka akan kesemrautan Nanggroe tersayang
Dalam puisi ku berteriak menggelegar langit hati
Lelah sudah menagih janji
Yang semuanya hanya penyedap kampaye tempo hari
Setelah kau duduki kursi
Nurani, hati, akal sehat, kau dustakan

Rakyat?
Menjadi penonton kemewahan tuan-tuan

Dan janji-janji
Basi, bersama pepesan kosong visi misi
Yang kau mantrakan tempo hari

Ohh.. Nanggroe kami.





CERITA HUJAN

Apa kabar sedih, masihkah berair mata terbasuh hujan?
Gelisah, adakah engkau sendu berawan mendung?
Hanya sebatas penutup luka biar tak basah, lalu menggigil lebih parah diaduk lara?

Dan hujan berhenti, tanpa setitik jawaban
Lalu, apa lagi yang kau ratapi? 



BUNGA DESA

Selagi jingga masih tersunggut malu di bibir pantai
Burung-burung berjejer rapi meraut udara di angkasa
Transportasi riuh makin menjadi-jadi di kejar birit-birit magrib

Rambutmu tergerai damai
Kala kau kibas di udara
Selepas mandi, rona auramu tak mampu mengedipkan mata
Harum mu sirih ranum

Sekali kau senyum, hancurlah hati pemuda sekampung

Ohh.. Bunga desa. 



Kepada-Nya Sang Maha

Ku larung lara, ku kayuh perih
Ke haribaan-Nya yang masa kasih
Ku dayung gamang, ku timang bimbang
Pada-Nya pemilik sebenarnya sayang

Dalam bingung limbung terpincang-pincang
Merangkak tapak kuat berpijak
Meski lara menggorok luka
Sampai mengerti bahwa masih ada hati tempat berdamai

Kerahibaan-Nya yang maha
Apalah kita tiada kuasa
Hanya penikmat dosa
Penggengam salah.




NELAYAN

Di bawah payung-payung senja
Melambai asa bersamaan terbenamnya sang surya di ufuk barat.
Perahu kecil terombang ambing terlihat dari kejauhan
Merapat mndekat dermaga.
Kaulah Nelayan!
Tanpa kaya pun loyalitasmu untuk sang laut terus terpatrikan
Meski nyawamu tak berAsuransikan Tuhan Sebab ini hidup sekali adanya




Karya: Ichsan Maulana

Follow: 
On Facebook: Ichsan Maulana Icm
On Twitter: Ichsan Maulana Icm (@IchsanM_icm)

DAN HUJAN TURUN LAGI


Ku titip seuntai rindu syahdu kepada sesosok pelukis hidup yang pernah hadir mewarnai hari-hariku tempo dulu. Aku dan dia, tak ubahnya bumi dan langit yang disatukan oleh rinai hujan. Hujan kasih sayang, cinta, suka, duka bahkan jua lara. Tak sampai disitu, hujan galau sekalipun adalah suatu keniscayaan yang lapang teratapi. Betapa hati dua insan selalu mendamba kedamaian, layaknya tanah tandus tersiram air hujan, melegakan, sejuk, menohok qalbu, sampai terisak menggigil mencabik tulang-belulang.
Apa kabarmu duhai pemilik hati yang lain, yang pernah sempat singgah merajut kasih.. Kita sudah terlalu lama tak bertemu lagi, pasca keputusan bersama untuk memilih jalan masing-masing. Entah dimana engkau, yang ku tau; ia telah menemukan perahu baru. Sedang mengayuh rasa yang dipapah dan dijaga agar sampai kedermaga persuntingan.
Aku disini masih setia sendiri, bukan perkara ku tunggu-nya, tidak jua ku sesali keputusan masa lalu. Hanya saja, aku sedang bertapa dengan hati yang sepi, mencoba berdamai dengan hati sendiri. Mengaduk emosi dalam kerapuhan yang tak kunjung pasti, ini bukan perkara sebab frustasi, tidak juga sebab keputus asaan, namun terkadang aku menyadari dan sedang mengaminkan, bahwa ada kedamaian dalam kesendirian. Sesekali, ada saja kumbang baru datang menggoda, aku diam saja. Kunang-kunang juga menyapa dengan lampion pesona lainnya, aku juga kekeh tak mengubris keadaan. Ini hanya soal waktu, bukan salah rasa, sebab aku tidak pernah menghukum rasa dan mematikannya. Hanya saja, rasa ini sedang ku erami, kurajut sendiri, sampai rasa itu benar-benar siap untuk sebuah pelabuhan. Sebab aku yakin dan percaya, akan datang saatnya sesosok yang tepat untuk menyempurnakan rasa yang telah lama ku erami. Siapapun itu, hanya Tuhan yang tau. Bisa saja kumbang baru, atau siapa tau; Engkau yang dulu hadir kembali? Pulang ke asal, menjemput rasa ku. Setelah engkau menyadari bahwa yang lain tak pernah bernar mampu tulus mendamaikan hatimu. Sampai bertemu lagi.. Bila tidak sekarang, ya, nanti. Bila engkaupun tak kembali, aku yang akan datang menjadi saksi sakralnya pernikahanmu.
Dan hujan yang tadinya asik menari, pelan dalam kehati-hatiannya, berubah terisak, meraung menangis keras! Merajam tanah, mencabik bumi. Sampai rinainya lelah, lesu terkulai pada genangan-genangan kenangan. Hujan berhenti. Alam diam, syahdu tak menentu. Antara bahagia juga duka, dipersimpangan senyuman; senyum penghormatan, dan senyum kepasrahan.
Berhenti, bukan berati mati. Bisa saja kembali, atau berubah haluan ke lain dermaga. Ah, entahlah.


Nb: Hanya untuk dibaca..

Jumat, 04 Oktober 2013

Teori Terbentuknya Alam Semesta, Tata Surya, dan Bumi


TEORI TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA

BAB I PENDAHULUAN
Rasa ingin tahu (curiosity) selalu muncul ketika kita dihadapkan pada alam semesta yang di dalamnya mengandung banyak misteri. Curiosity manusia dapat mengubah no thing menjadi know a lot of thing. Rasa ingin tahu jugalah yang memunculkan pelbagai penelitian serta pengujian dari hipotesa akhir dan bila hal itu terbukti kebenarannya maka akan terbentuk suatu bidang ilmu.
Curiosity tidak hanya tertanam dalam benak pikiran ilmuan dan peneliti namun juga tertanam subur pada anak-anak. Mereka seringkali menanyakan sesuatu yang tak disangka-sangka dan kita kebablakan untuk menjawabnya. Yang perlu diingat jangan sekali-kali memberikan jawaban tanpa pengetahuan karena jawaban anda akan selalu diingat dengan kuat.
Curiosity tercerdas dimiliki oleh para ilmuan astronom dahulu. Mereka sangat terangsang otaknya dengan melihat sesuatu yang sangat sulit dijangkau jasmani. Namun berkat pemikirannya sekarang kita dapat mengetahui tentang alam semesta.
Dalam makalah ini kita mencoba meningkatkan curiositas yang tertanam dalam diri kita yakni tentang alam semesta. Bagainama terbentuknya? Serta benda-benda di dalamnya.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Alam Semesta, Galaksi, dan Tata Surya
Alam Semesta
Pengertian alam semesta mencakup tentang mikrokosmos dan makrokosmos. Mikrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran sangat kecil, misalnya atom, elektron, sel, amuba, dan sebagainya. Sedang makrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran yang sangat besar, misalnya bintang, planet, dan galaksi.
Konsep pemikiran manusia tentang pusat universe atau alam semesta sangat radikal. Awalnya para ilmuan astronom menetapkan bahwa manusialah yang sebagai pusat, yang diberi nama teori egosentris. Setelah itu mereka menetapkan bumi yang menjadi pusat yang ditokohi oleh Cladius Ptolemeus. Teori ini dikenal dengan geosentris. Namun setelah itu Nicolas Copernicus mengungkap teori baru di mana matahari dijadikan pusat alam semesta, heliosentris. Namun saat ini mereka baru menyadari bahwa teoti tersebut lebih cocok digelayutkan pada tata surya. Dan tata surya hanyalah sebagian dari galaksi, dan galaksi adalah satu kumpulan bintang dari banyak kumpulan bintang di alam semesta.
Galaksi
Langit dihiasi bintang-bintang yang jumlahnya tak terhitung, yang bisa diamati dengan mata telanjang maupun teropong bintang. Bintang-bintang berkumpul dalam suatu gugusan, meskipun antar-bintang berjauhan di angkasa. Dari penjelasan Ismail al-Juwasy tersebut dapat kita katakan bahwa galaksi tak ubahnya bak sekumpulan anak ayam yang tak mungkin untuk dipisahkan dari induknya. Di mana ada anak ayam di situ pasti ada induknya. Sama halnya bintang-bintang di angkasa sana mereka tak mungkin gemerlap sendirian tanpa disandingi dengan bintang lainnya.
Galaksi yang sering kita dengar adalah Bimasakti atau milky way. Kalau kita cermati agak aneh nama milky way tersebut karena dari benda angkasa luar diumpamakan dengan susu. Namun dari keanehan tersebut terdapat keunikan, yakni bintang bertebaran di langit pada malam hari seperti susu yang tercecer di langit. Galaksi kita berbentuk spiral, dapat kita samakan dengan lingkaran obat nyamuk jika dilihat dari atas dan seperti gasing bila dilihat dari samping. Galaksi kita tidak sebundar lingkaran namun berbentuk elips. Hal ini dibuktikan dengan ukannya yang memiliki panjang sekitar 100 tahun cahaya dan lebar 10 tahun cahaya dan tata surya kita berada 30 tahun cahaya dari pusat galaksi.
Selain galaksi Bimasakti kita juga dapat melihat beberapa galaksi dengan mata telanjang ataupun dengan alat. Yang diungkap oleh para ilmuan yakni galaksi Andromeda, Awan Megallianic Besar dan Awan Megallanic Kecil. Galaksi Andromeda lebih besar daripada Milky way.
Tata Surya
Tata surya terdiri dari matahari, Sembilan planet dan berbagai benda langit seperti satelit, komet, dan asteroid. Tata surya tak lebih hanyalah gugusan kecil dari benda-benda langit dan satu bintang. Tata surya adalah bagian kecil dari galaksi.
Kita kenal dengan sembilan planet mungkin ketika sekolah dasar, dari sebilan planet tersebut terbagi dua bagian yaitu planet dalam dan planet luar. Planet dalam adalah planet yang dekat dengan matahari yang terdiri dari Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars. Sedangkan Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto –yang sekarang tereliminasi– termasuk planet luar.
B. TEORI ASAL MULA ALAM SEMESTA
Teori Letusan Hebat
Berbagai teori tentang jagad raya membentuk suatu bidang studi yang dikenal sebagai kosmologi. Einstein adalah ahli kosmologi modern pertama. Tahun 1915 ia menyempurnakan teori umumnya tentang relativitas, yang kemudian diterapkan pada pendistribusian zat di luar angkasa. Pada tahun 1917 secara matematik ditentukan bahwa tampaknya ada massa bahan yang hampir seragam yang keseimbangannya tak tentu antara kekuatan tarik gravitasi dan kekuatan olek atau kekuatan dorong kosmik lain yang tak dikenal.
Pada tahun 1922 seorang ahli fisika Rusia muncul dengan pemecahan soal itu secara lain, yang mengatakan bahwa kekuatan tolak tidak berperan bahkan jagad raya terus meluas dan seluruh partikel terbang saling menjauhi dengan kecepatan tinggi. Karena kekuatan tarik gravitasi, perluasan itu terus melambat. Sebelumnya, partikel-partikel itu telah bergerak keluar bahkan lebih cepat lagi. Dalam model jagat raya ini dahulu perluasan mulai pada saat yang unik yang disebut “letusan hebat”.
Teori letusan hebat rupanya begitu berlawanan dengan pengetahuan astronomi zaman sekarang, yang mula-mula sedikit menarik perhatian. Akhirnya sebanyak bintang dalam galaksi Bimasakti bukannya saling menjauhi satu sama lain, tetapi malahan berjalan dalam orbit sirkular mengelilingi wilayah pusatnya yang padat. Akan tetapi, pada tahun 1929 Edwin Hubble, ketika itu ahli astronomi di Observatorium Mount Wilson, mengemukakan bahwa berbagai galaksi yang telah diamatinya sebenarnya menjauhi kita, dan menjauhi yang lain, dengan kecepatan sampai beberapa ribu kilometer per-detik.
Rupanya galaksi-galaksi ini, seperti halnya Bimasakti kita, menjaga keutuhan bentuk internalnya selama waktu yang panjang. Galaksi-galaksi itu secara sendiri-sendiri mengarungi angkasa raya, kira-kira sebagain unit atau partikel yang bergerak mengarungi ruang angkasa. Teori Einstein dapat diterapkan pada berbagai galaksi, sebagai ganti bintang-bintang.

Teori Keadaan Tetap
Kalau kita kembali ke tahun 1948, tidaklah ditemukan informasi yang cukup untuk menguji teori letusan hebat itu. Ahli Astronomi Inggris Fred Hoyle dan beberapa ahli astro-fisika Inggris mengajukan teori yang lain, teori keadaan tetap yang menerangkan bahwa jagat raya tidak hanya sama dalam ruang angkasa –asas kosmologi- tetapi juga tak berubah dalam waktu asas kosmologi yang sempurna. Jadi, asas kosmologi diperluas sedemikian rupa sehingga menjadi “sempurna” atau “lengkap” dan tidak bergantung pada peristiwa sejarah tertentu. Teori keadaan tetap berlawanan sekali dengan teori letusan hebat.  
Dalam teori kedua, ruang angkasa berkembang menjadi lebih kosong sewaktu berbagai galaksi saling menjauh. Dalam teori keadaaan tetap, kita harus menerima bahwa zat baru selalu diciptakan dalam ruang angkasa di antara berbagai galaksi, sehingga galaksi baru akan terbentuk guna menggantikan galaksi yang menjauh. Orang sepakat mengatakan bahwa zat baru itu ialah hydrogen, yaitu sumber yang menjadi asal usul bintang dan galaksi.
Penciptaan zat berkesinambungan dari ruang angkasa yang tampaknya kosong itu diterima secara skeptis oleh para ahli, sebab hal ini rupanya melanggar salah satu hukum.
TEORI TERBENTUKNYA TATA SURYA
Melihat kenyataan bahwa planet-planet bergerak mengelilingi matahari dengan orbitnya yang berebentuk elips dengan arah peredaran yang sama yaitu berlawanan arah jarum jam jika melihatnya dari kutub utara, ternyata arah revolusi planet-planet dan satelitnya yaitu arah negative. Ini berlawanan dengan yang kita amati di bumi, peredaran harian benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang berarah positf seperti arah peredaran harian matahari yang terbit di timur lalu naik dan kemudian terbenam di barat. Adanya realitas yang demikian membuat para ahli astronomi berkesimpulan bahwa tata surya terbentuk dari material yang berputar dengan arah negative, hal ini kemudian memunculkan beberapa teori tentang terjadinya tata surya sebagai berikut:
1.      Teori Nebule atau teori kabut, yang dikemukakan ole Immanuel Kant (1749-1827) dan Piere Simon de Laplace (1796).
Matahari dan planet berasal dari sebuah kabut pijar yang berpilin di dalam jagat raya, karena pilinannya itu berupa kabut yang membentuk bulat seperti bola yang besar, makin mengecil bola itu makin cepat putarannya. Akibatnya bentuk bola itu memepat pada kutubnya dan melebar di bagian equatornya bahkan sebagian massa dari kabut gas menjauh dari gumpalan intinya dan membentuk gelang-gelang di sekeliling bagian utama kabut itu, gelang-gelang itu kemudian membentuk gumpalan padat inilah yang disebut planet-planet dan satelitnya. Sedangkan bagian tengah yang berpijar tetap berbentuk gas pijar yang kita lihat sekarang sebagai matahari.
Teori kabut ini telah dipercaya orang selama kira-kira 100 tahun, tetapi sekarang telah benyak ditinggalkan karena: (1) tidak mampu memberikan jawaban-jawaban kepada banyak hal atau masalah di dalam tata surya kita dan (2) karena munculnya banyak teori baru yang lebih memuaskan.
2.      Teori Planetesimal, Thomas C. Chamberlin (1843-1928) seorang ahli geologi dan Forest R. Moulton (1872-1952) seorang astronom.
Disebut Planetesimal yang berarti planet kecil karena planet terbentuk dari benda padat yang memang telah ada. Matahari telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang banyak, pada satu waktu ada sebuah bintang yang berpapasan pada jarak yang tidak terlalu jauh akibatnya terjadi pasang naik antara matahari dan bintang tadi. Pada waktu bintang itu menjauh sebagian massa dari matahari itu jatuh kembali ke permukaan matahari dan sebagian lain berhamburan di sekeliling matahari inilah yang disebut dengan planetesimal yang kelak kemudian menjadi planet-planet yang beredar pada orbitnya dan mengelilingi matahari.
3.      Teori Pasang Surut, Sir James Jeans (1877-1946) dan Harold Jeffreys (1891) keduanya dari Inggris, teori ini hampir sama dengan teori Planetesimal.
Setelah bintang itu berlalu dengan gaya tarik bintang yang besar pada permukaan matahari terjadi proses pasang surut seperti peristiwa pasang surutnya air laut di bumi akibat gaya tarik bulan. Sebagian massa matahari itu membentuk cerutu yang menjorok kearah bintang itu mengakibatkan cerutu itu terputus-putus membentuk gumpalan gas di sekitar matahari dengan ukuran yang berbeda-beda, gumpalan itu membeku dan kemudian membentuk planet-planet.
Teori ini menjelaskan mengapa planet-planet di bagian tengah seperti Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus merupakan planet raksasa sedangkan di bagian ujungnya merupakan planet-planet kecil. Kelahiran kesembilan planet itu karena pecahan gas dari matahari yang berbentuk cerutu itu maka besarnya planet-planet iti berbeda-beda yang terdekat dan terjauh besar tetapi yang di tengah lebih besar lagi.
4.      Teori Awan Debu, dikemukakan oleh Carl von Weizsaeker (1940) kemudian disempurnakan oleh Gerard P Kuiper (1950).
Tata surya terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Gumpalan awan itu mengalami pemampatan, pada proses pemampatan itu partikel-partikeldebu tertarik ke bagian pusat awan itu membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin dan kemudian membentuk cakram yang tebal di bagian tengah dan tipis di bagian tepinya. Partikel-partikel di bagian tengah cakram itu saling menekan dan menimbulkan panas dan berpijar, bagian inilah yang kemudian menjadi matahari. Sementara bagian yang luar berputar sangat cepat sehingga terpecah-pecah menjadi gumpalan yang lebih kecil, gumpalan kecil ini berpilin pula dan membeku kemudian menjadi planet-planet.
5.      Teori Bintang Kembar
Teori ini hampir sama dengan teori planetesimal.Dahulu matahari mungkin merupakan bintang kembar,kemudian bintang yang satu meledak menjadi kepingan-kepingan.Karena ada pengaruh gaya gravitasi bintang,maka kepingan-kepingan yang lain bergerak mengitari bintang itu dan menjadi planet-planet.Sedangkan bintang yang tidak meledak menjadi matahari.
6.      Teori Ledakan (Big Bang), George Gamow, Alpher dan Herman.
Alam pada saat itu belum merupakan materi tetapi pada suatu ketika berubah menjadi materi yang sangat kecil dan padat, massanya sangat berat dan tekanannya besar, karena adanya reaksi inti kemudian terjadi ledakan hebat. Massa itu kemudian berserak dan mengembang dengan sangat cepat menjauhi pusat ledakan dan membentuk kelompok-kelompok dengan berat jenis yang lebih kecil dan trus bergerak, menjauhi titik pusatnya.
Dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi kosmos keluar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu yang sangat tinggi dari volume yang sangat kecil. Alam semesta lahir dari singularitas fisis dengan keadaan ekstrem. Teori Big Bang ini semakin menguatkan pendapat bahwa alam semesta ini pada awalnya tidak ada tetapi kemudian sekitar 12 milyar tahun yang lalu tercipta dari ketiadaan.
Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. Bukti yang ’seharusnya ada’ ini pada akhirnya diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi latar kosmis’, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit COBE (Cosmic Background Explorer). COBE ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori Big Bang.
Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium.
Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat.
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihtatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang. (QS. Al-Mulk, 67:3)
C. Teori Asal Mula Bumi
Lima miliar tahun yang lalu,system tata surya kita tidak ada. Yang ada hanyalah awan debu dan gas yang secara perlahan berubah bentuk.sembilan planet, termasuk Bumi, dibentuk dari materi yang menggumpal, menyerupai gumpalan bola salju, di dalam kabut. Mengenai teori sejarah asal terbentuknya bumi sebagai berikut:
ü  Proses dimulai sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu di pusat nebula matahari.
ü  Matahari terbentuk di pusat awan ini. Sementara itu, gas dan bahan lain di bagian luarnya menggumpal.
ü  Bebatun kecil berubah menjadi lebih besar, membentuk cikal bakal planet, atau protoplanet dengan diameter beberapa kilometre.
ü  Protoplanet saling bertumbuhan satu sama lain dan menggumpal hingga mencapai ukuran planet (memiliki diameter beberapa ribu kilometer). Hingga ratusan juta tahun, planet tersebut dibombardir secara kuat dan terus menerus oleh bebatuan lain.
ü  Sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, bumitelah diselimuti oleh lautan larva yang berasal dari bebatuan yang terbakar dan luasnya mencapai beberapa kilometre.
ü  Secara perlahan, lautan larva tersebut mendingin membentuk kerak yang dihantam terus menerus oleh berbagai meteor dan komet.
ü  Planet muda kita juga mengalami aktifitas vulkanik yang melepaskan lapisan udara secara radikal, lapisan udara ini berbeda dengan lapisan udara saat ini. Keberadaan air dimungkinkan berassal dari kedalaman bumi atau dibawa dari angkasa oleh komet dan membentuk laut. Pada saat bersamaan, kerak bumi berupa menjadi benua.
ü  Kemunculan benua, laut, dan lapisan oksigen rendah menghasilkan proses pembentukan molekul yang lebih kompleks, yang menuntun terciptanya fenomena yang luar biasa, yaitu kehidupan. Bahkan lebih mengejutkan lagi, kehidupan dengan sangat cepat muncul dari laut, kurang dari satu miliar tahun setelah bumi tecipta. Kehidupan memerlukan beberapa miliar tahun lagi ke daratan.

BAB III PENUTUP
Sampai sekarang belum ada teori yang benar-benar tepat untuk mengambarkan masa depan alam semesta. Pertanyaan kita sekarang tentang suatu hal pada akhirnya akan terjawab , namun setelah itu akan muncul beberapa pertanyaan baru. Demikianlah yang akan terjadi jika kita bertanya tentang alam semesta, kita tidak akan pernah puas karena sifat curiosity kita. Seringkali kita mendapati suatu pertanyaan yang sangat mendasar, yang mendapat jawaban membuat hati kita kagum, heran, takzim dan sampai pada tingkat suatu perenungan bahwa betapa luar biasa kuasa tuhan alam semesta ini.
Demikian makalah ini kami buat. Di dalamnya terdapat kesalahan dan itu adalah hal yang niscaya. Karena kita tempat kesalahan dan lupa. Kami mengharap kritik saran membangun anda, agar dapat memperbaiki diri selaku mahluk sosial. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis sendiri serta pembacanya. Amin.